21 Mei 2019 16:09

Nelayan Sulit Jual Hasil Tangkapan , Perbatasan Sangihe Masih Terkendala Transportasi

Pelabuhan Laut Kampung Pulau Matutuang yang terus dimaksimalkan sebagai tempat berlabuh kapal-kapal perintis.(Sriwani/Manado Post)

MANADOPOSTONLINE.COM—Daerah terluar yang berbatasan langsung dengan Filipina yakni Kecamatan Kepulauan Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe meliputi Pulau Marore, Kawio, dan Matutuang. Dengan jumlah penduduk 1.554 jiwa. Daerah ini tercatat kategori penduduk miskin.

 

Hal ini diungkapkan Camat Kepulauan Marore Imelda Lawendatu, saat kegiatan me'daseng Sabtu (18/5), pekan lalu. "Sebagian besar masyarakat berprofesi nelayan. Semua tergantung pada hasil tangkapan. Ketika cuaca tidak bersahabat menyebabkan kurangnya pendapatan masyarakat. Belum lagi masalah pasar berdampak pada harga," kata Lawendatu.

Camat mengakui, tak hanya pada masalah perikanan penyebab kemiskinan. Tetapi sulitnya transportasi laut sebagai penghubung antar pulau-pulau ke daratan besar Sangihe.

"Kepulauan ini merupakan wilayah rawan pangan. Karena kurangnya transportasi laut sebagai penghubung. Seperti halnya di Pulau Matutuang. Satu bulan ini baru minggu kemarin ada kapal," ujarnya.

Krisis kapal ini berpengaruh terhadap pangan. Pihaknya terpaksa menyurat ke pusat karena memang masyarakatnya sudah kehabisan beras.

"Contoh saja Januari dan Februari 2019 belum lama ini. Saat itu angin utara berhembus kencang sehingga membuat gelombang bergelora. Alhasil aktivitas masyarakat lumpuh. Dan terpaksa dua minggu masyarakat makan pisang muda," ungkap Lawendatu.

Lanjutnya, terakhir kapal yang beroperasi untuk melayani kepulauan ini adalah Sabuk Nusantara 51. Tetapi sudah ditarik ke Bima karena masyarakat Bima juga membutuhkan. Kemudian setelah melihat ketika gilirannya jadwal kapal KM Meliku Nusa untuk menyinggahi pulau-pulau tetapi jadwalnya tidak ada untuk rute di Pulau Matutuang.

"Kemudian ada kapal baru untuk melayari pulau-pulau yakni Sabuk Nusantara 69 dan 70 tipe 2000. Tetapi tidak bisa berlabuh di pelabuhan Matutuang dan Kawio karena badan kapal 70 Meter, sedangkan kapasitas pelabuhan hanya 40 Meter. Itupun bila kapal tersebut berlabuh di Pulau Matutuang, harus ada perahu tambangan untuk mengakut penumpang dan barang. Tetapi tipe perahu seperti itu tidak ada di sini sebab perahu di sini didominasi perahu pump boat," pungkasnya.

Sementara itu Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Gaghana menyatakan, permasalahan transportasi laut ini akan segera dikoordinasikan dengan PT Pelni. "Secepatnya Pemkab Sangihe akan berkoordinasi dengan pihak Pelni agar pulau-pulau di wilayah perbatasan terfasilitasi transportasi laut," kunci Gaghana.(wan/gel)









Komentar