16 Mei 2019 14:12

Akademisi: 2019, Ranking UNBK Sulut Terparah

Ilustrasi UNBK

MANADOPOSTONLINE.COM--Akademisi Unima Dr Meiske Rinny Liando kembali angkat bicara terkait dunia Pendidikan di Sulawesi Utara (Sulut). Dia mengatakan, peringkat Ujian Nasonal Berbasis Komputer (UNBK) Tahun 2019 terparah sepanjang sejarah pendidikan di Provinsi Nyiur melambai ini.

 

"Ada sesuatu yang salah, musibah besar bagi dunia pendidikan di Sulut karena tahun ini berada di peringkat ekor (3 terbawah) Nasional dan ini jauh di bawah Papua. Kemudian untuk tingkat SMA berada pada peringkat 32 dan SMK peringkat 31,"ungkapnya saat diwawancari Manado Post Online Kamis (16/5).

 

Dia menjelaskan, untuk mengidentifikasi akar permasalahan diperlukan kajian yang komprehensif. "Meliputi semua komponen dalam sistem pendidikan dan tataran regulasi maupun operasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan,"bebernya.

Lanjutnya, berdasarkan hasil diskusi dirinya dengan pembina Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Provinsi Sulut, k bahwa perlu mengefektifkan peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). "Untuk mempertemukan pengurus SMA/SMK dan Korwas Kab/Kota agar mengidentifikasi akar masalah anjloknya peringkat UN, sekalian membahas solusi strategis jangka pendek dan jangka panjang,"ujar Ketua Dewan Pendidikan Kota Manado ini.

Dikatakannya, selain itu program penguatan 3 pilar utama operator pendidikan perlu topangan APBD yang di tata ulang dalam APBD. "Pada tataran regulator mendesak untuk pengadaan Perda Pendidikan sebagai payung hukum penyelenggaraan layanan yang bermutu,"ucapnya.

Menurutnya, pada tataran operasi Kepala Sekolah (Kepsek), Guru dan pengawas yang merupakan ujung tombak di bidangnya. Perlu perekrutan yang profesional. Kalau ditanya penyebabnya tentu selain belum adanya regulasi yang mengatur sistem pendidikan di Sulut, sekali lagi perlu adanya kajian khusus tentang sumber daya guru di Sulut. Kalau berhubungan dengan kurikulum harus bersifat kontekstual yang benar-benar sesuai dengam kondisi di Sulut.

Yang terjadi selama ini juga, diterangkannya, soal-soal yang dikerjakan siswa dianggap sulit dan tidak sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan guru dan pelajaran yang di terima di sekolah. "Contoh sederhana, dalam bidang studi Bahasa Indonesia soalnya ada yang menjawab sesuai teks yang dibacanya. Nah masalahnya isi teks tentang cara beroperesinya Kereta Api (KA). Jelas siswa di Sulut bingung untuk menjawabnya karena ada siswa yg belum pernah melihat cara operasi KA,"jelasnya.

"Nah itu gambaran sederhana yang sangat membingungkan, belum lagi formulasi baru mengenai UNBK yang selama ini pelaksanaannya menimbulkan masalah mulai dari ganguan teknis seperti server, unit komputer yang terbatas dan kesiapan tim teknis UNBK yang sangat minim pada saat pelaksanaan ujian berlangsung,"pungkas dosen Unima itu.(opn)









Komentar