29 Apr 2019 08:11

KEPERKASAAN PDIP DAN NASDEM

Anton Miharjo

PEROLEHAN suara secara nasional dapat dipastikan PDIP memenangi Pemilu legislatif. Data quick count SMRC, PDIP diperkirakan mendapat suara 19,43% dari total suara sah. Jauh meninggalkan Gerindra (12,62%), Golkar (12,14%), PKB (9,55%), Nasdem (8,85%), PKS (8,19%), Demokrat (7,56%), PAN (6,63%), dan PPP (4,52%), dengan margin off error 0,5%.

Di Sulut, PDIP terlalu perkasa untuk diladeni peserta pemilu lainnya. Melihat data low/up confindence interval quick-count SMRC, PDIP meraup suara di kisaran 37-40%, dan diproyeksikan mendapat 3-4 kursi di DPR RI. Kejutan lain datang dari Partai Nasdem. Pada Pemilu 2014 hanya memperoleh suara 4,94%, kini naik signifikan dengan perolehan suara di kisaran 16-18%.

Partai Golkar tetap mempertahankan tradisinya mengirim satu kadernya ke Senayan. Perolehan suara di kisaran 14-16% dari total suara sah. Sementara PAN, meski banyak mengalami goncangan di Sulut masih bisa memberikan perlawanan dengan perolehan suara di kisaran 6-8%. Selanjutnya Partai Gerindra dengan perolehan suara 4-6%, hanya bisa berharap keajaiban (jika itu ada) untuk bisa mengirim wakilnya ke Senayan.

Nasib tragis dialami Partai Demokrat. Nama besar EE Mangindaan, kini tak mampu lagi mengerek suara. Partai Demokrat hanya bisa memperoleh suara 3-5%, jauh dari perolehan suara di pemilu sebelumnya (11,62%). Jika memperhatikan low/up confindence interval quick-count SMRC, bisa dinyatakan Demokrat hampir tidak punya peluang mengirim wakilnya ke Senayan.

 Mungkin sampai ini banyak yang tidak percaya dengan keperkasaan PDIP, yang merebut hati hampir separuh jumlah pemilih di Sulut. Dan juga kelincahan Partai Nasdem merebut posisi kedua. Tapi bagi saya, itu semua bisa terjadi sepanjang syarat-syarat kemenangan di pemilu legislatif terpenuhi. Seperti personality caleg, massifikasi sosialisasi, dan partai ID.

PERSONALITY CALEG

Dikoordinasikan Olly Dondokambey sebagai Ketua DPD PDIP Sulut, caleg-caleg banteng tampil perkasa di semua tingkatan pileg. Line-up caleg yang memperhatikan sosio-demografi menjadi kekuatan tersendiri untuk mengerek suara PDIP di Sulut pada level yang tertinggi sejak tahun 1999.

Data survei SMRC, di penghujung Maret 2019, elektabilitas personal caleg PDIP, seperti Adriana Dondokambey, Vanda Sarundajang, dan Herson Mayulu, berada di kisaran 8- 10% dari total populasi pemilih. Jauh melampaui perolehan suara personal nama-nama besar lainnya, seperti EE Mangindaan (4,2%), Hendrik Kawilarang Luntungan (3,9%), Benny Ramdhani (2,1%), Wenny Warouw (1,9%).

 Sementara itu, Nasdem dalam menyusun daftar caleg DPRI, mencoba menghadirkan nama-nama baru di daftar caleg DPR-RI. Seperti Hilarry Lasut, Felly Runtuwene, Kamran, dan Benny Mamoto. Bertumpu pada penguasaan teritori di beberapa Kabupaten/Kota di Sulut untuk menggerakkan mesin kampanye partai, Nasdem mampu melampaui partai besar lainnya yang telah berakar-urat di Sulut. Seperti Golkar, Gerindra, Demokrat dan PAN.

MASSIFIKASI SOSIALISASI

Salah satu prinsip dasar memenangkan kontestasi pemilu, yakni peserta kontestasi harus selalu unggul baik kuantitas dan kualitas di semua ruang sosialisasi. Di survei SMRC pada akhir Maret, dukungan dari pembaca media massa (cetak dan online) dimenangi PDIP (49%), disusul Nasdem (20%), dan Partai Golkar (12%), sementara partai lainnya hanya di bawah 10%.

Begitu halnya pada alat sosialisasi in-door (kalender dan sticker), pada observasi di rumah pemilih atribut indoor PDIP mendominasi ( 24,2%), disusul Nasdem (8,7%), dan Golkar (7,6%). Konsisten dengan atribut indoor, atribut out door (Bilboard, Baliho, dll)  PDIP juga tampil dominan (43,8%), di susul Partai Nasdem (30,6%), dan Partai Golkar (6,1%). Partai besar lainnya seperti Gerindra, Demokrat, dan Hanura di bawah 5%.

Demikian juga untuk tatap muka dan kegiatan sosial, dari 20% pemilih Sulawesi utara yang mengetahui kegiatan tatap muka dan kegiatan sosial yang dilakukan peserta pemilu, PDIP tampil dominan (41,7%), disusul Nasdem (17,3%), Golkar (11,3%),  PAN (5,6%) dan Hanura (5,4%).

Dari angka-angka di atas yang dipotret survei SMRC, menunjukkan PDIP dan Nasdem selama musim kampanye tampil maksimal. Kader dan caleg dari kedua partai tersebut telah secara tepat bekerja untuk memenangkan pemilu. Situasi yang tidak ditemukan pada partai besar lainnya, seperti Gerindra, Demokrat, dan Hanura, yang kemampuan penetrasinya hanya berkisar 4-5% di semua ruang sosialisasi (media massa, atribut kampanye, dan tatap muka).

PARTAI ID

Pemilih yang merasa dekat dengan partai tertentu (Partai ID) di Sulut cukup tinggi. Di Survei SMRC menemukan ada 31% pemilih mengatakan dekat dengan partai. Angka yang cukup tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang hanya berkisar 12-15%. Dari 31% pemilih yang mengatakan dekat dengan partai tertentu, sekitar 61,4% menyatakan dekat dengan PDIP.

Partai ID yang kuat dari PDIP adalah penanda langsung, bahwa selama ini kader-kader PDIP telah merawat hubungan baik dengan konstituennya. Itu yang menjadi modal dasar caleg-caleg PDIP untuk tampil dominan di semua tingkatan pemilu.

Maka tidak salah, jika Manado post dalam banyak pemberitaannya menyatakan PDIP sangat superior di semua tingkatan pileg. Di Survei SMRC, memproyeksikan PDIP berpotensi merebut 20-24 kursi di DPRD Provinsi, dan caleg-calegnya akan menjadi pengumpul suara terbanyak di semua dapil untuk DPR-RI dan DPRD Provinsi.

Partai ID kedua terkuat dimiliki Partai Golkar (14,3%), ini yang bisa menjelaskan pada kita, bahwa meskipun line-up caleg DPR-RI Golkar tidak segemerlap lima tahun sebelumnya, masih bisa mengirim wakilnya ke senayan karena masih memiliki pemilih tradisional.

Faktor-faktor penentu di ataslah yang bisa menjelaskan kenapa PDIP begitu superior, dan Nasdem membuat kejutan di Sulut. Di saat partai lain terlena dengan perolehan suara partai di pemilu sebelumnya, berasa pilihan politik itu stagnan, kedua partai tersebut justru menggenjot seluruh sumber daya yang dimiliki untuk merebut simpati pemilih.(*)

Penulis: Konsultan Politik di Saiful Mujani Research and Consulting









Komentar