23 Apr 2019 08:08

Mengulik Kemenangan Jokowi-Amin di Sulut

Penulis: Anton Miharjo, Konsultan Politik di Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)

MANADOPOSTONLINE.COM—Berdasar pada quick count SMRC, Jokowi-Amin dipastikan memenangi Pilpres 2019, dengan perolehan suara 54, 83%, dengan selisih sekitar 9-10% dari Prabowo (45,13). Membandingkan suara pilpres sebelumnya (2014), penebalan suara Jokowi-KMA diperoleh di Jawa Tengah berkisar 77%,  Jawa Timur (66,27%), dan Yogyakarta (69,28%).

 

Di region Sulawesi, penebalan suara Jokowi-Amin diperoleh di Sulawesi utara. Jokowi-Amin mampu meraup suara tinggi di kisaran 75% dari total suara sah. Perolehan suara tersebut, mengalami kenaikan sekitar 23-25% dari pilpres 2014. Tingginya suara Jokowi di Sulut, telah menghambat kemenangan Prabowo-Sandi di region Sulawesi. Setelah mereka mampu menaklukan kantong suara Jokowi pada pemilu 2014, Sulawesi Selatan. Di wilayah JK, Prabowo-Sandi memenangi perolehan suara, dengan perkiraan suara sekitar 58%.

Jika dilihat dari persentase suara per- provinsi. Suara Jokowi-Amin di Sulawesi Utara, tertinggi ke-5 setelah Bali, NTT, Papua, dan Jawa Tengah.  Juga tertinggi di region Sulawesi di wilayah yang dimenangi Jokowi; Sulawesi Barat, Jokowi memperoleh suara sekitar 64% dan di Sulawesi Tengah berkisar 55%.

Kemenangan telak Jokowi-Amin di Sulawesi Utara, telah diprediksi jauh hari sebelumnya. Di survei SMRC dapil Sulut, pertengahan bulan Maret 2019.  Jokowi-Amin  bisa memperoleh suara sekitar 80%, sementara dukungan suara Prabowo, berkisar 15%, dan sisanya belum menentukan pilihan.

Pada saat publikasi survei dilakukan yang juga dimuat di Manado Post, banyak pihak yang meragukan. Kebanyakan mereka menggunakan argumen politik identitas, seperti Prabowo asli Minahasa dan pemilih Muslim yang berkisar 35-40%, dari total populasi pemilih di Sulawesi Utara, yang konon katanya solid pada Prabowo.

Lalu apa yang membuat suara Jokowi begitu perkasa di Sulut? Pada pertanyaan ini, saya mencoba mengemukakan tiga faktor penentu, yakni kepuasan kinerja incumbent, kesolidan tim kampanye, dan terakhir kemandulan politik identitas.

Kepuasan Kinerja Incumbent

Di kontestasi politik manapun, jika incumbent ikut bertarung, hal dasar yang dijadikan evaluasi pemilih saat menentukan pilihan adalah kinerja incumbent. Puas atau tidak pada kinerja incumbent secara langsung bisa dirasakan publik tanpa bisa direkayasa oleh pihak manapun.

Di survei nasional SMRC bulan Februari dan Maret, kepuasan kinerja Jokowi berada pada posisi 71%, dan yang kurang/tidak puas hanya berkisar 29%. Sementara itu, optimisme pada kondisi ekonomi kedepan berkisar 67%. Saya sengaja memasukan sikap optimis publik pada kondisi ekonomi, sebab menurut saya sikap optimis itu akan mempertebal keyakinan pemilih untuk bergerak memilih incumbent (Jokowi). Konsisten dengan evaluasi di bidang ekonomi, di bidang politik, hukum, dan keamanan juga di nilai positif: sekitar 63% publik nasional mengatakan puas.

Pada potret yang lebih fokus di Sulawesi utara, juga ditemukan hal yang sama. Di Survei dapil SMRC, pertengahan bulan Maret 2019, ada sekitar 64% warga Sulut menyatakan puas dengan kondisi ekonomi nasional, dan sekitar 53% warga Sulut menyatakan puas dengan kondisi ekonomi rumah tangga.

Kesolidan Tim Kampanye.

Dipimpin Gubernur Sulut, Olly Dondokambey, dan Tim Kampanye Jokowi di Sulut, menjadi  mesin politik yang cukup solid. Meski di antara partai pendukung juga bertarung pada level pemilu legislatif. Dari beberapa teman di tim kampanye yang saya ajak diskusi mengatakan,  partai pendukung dan relawan bahu-membahu mensosialisasikan Jokowi.

Itu bisa terlihat dari kedatangan Jokowi di Sulut. Meskipun bukan kampanye resmi, tetapi massa yang digerakkan oleh partai pendukung dan relawan yang dimotori PDIP, Nasdem, dan Golkar menyemut menyambut kedatangan Jokowi di Sulut.

Hal yang sama juga terlihat di atribut caleg partai pendukung. Rata-rata atribut dari 3 partai yang saya sebut terpampang foto Jokowi. Hal itu juga terkonfirmasi pada survei dapil SMRC, di mana ditemukan partai yang paling banyak terlihat atribut luar ruangnya (Baliho, Spanduk, dan Banner) adalah PDIP ( 44,6%), Nasdem (21,1%), dan Golkar (8,5%).

Situasi itu berbanding terbalik dengan atribut partai pengusung Prabowo-Sandi. Sepanjang penglihatan saat di Manado, partai-partai pengusung Prabowo-Sandi, seperti Gerindra, PKS, dan PAN tersirat malu untuk mengkampanyekan Prabowo-Sandi di atribut caleg Partai.

Kemandulan Politik Indentitas.

Pada acara debat capres, Prabowo secara sengaja menjelaskan dirinya berdarah Minahasa. Pernyataan terbuka itu bukan tanpa tujuan, tapi adalah bagian dari upaya untuk mengerus suara Jokowi di pemilih Timur Indonesia, dan khususnya pemilih Kristen.

Namun, situasi itu tidak kemudian membuat suara Prabowo-Sandi serta-merta bertambah di Sulut. Warga sulut, khususnya di Minahasa, kampung ibu Prabowo, lebih memilih Jokowi. Dukungan kuat pada Jokowi terkonfirmasi di kampung ibu Prabowo—di Langowan-Minahasa— di mana semua TPS yang ada, Jokowi jauh mengungguli Prabowo.

Begitu halnya pada pemilih muslim di Sulawesi utara.  Meskipun seminggu jelang hari pemilihan beberapa ustadz yang mungkin jadi rujukan Muslim di Sulawesi Utara, seperti Ustadz Abdul Somad dan Aa Gym menyatakan mendukung Prabowo, akan tetapi tidak serta merta pemilih muslim yang berjumlah sekitar 35-40% dari total populasi pemilih di Sulut, berbalik arah mendukung Prabowo.

Pada akhirnya Kepuasan kinerja dan kesolidan Tim Kampanye menjadi faktor penentu kemenangan Jokowi di Sulut. Rakyat Sulut telah memilih pemimpinnya dan memandulkan politik indentitas yang berusaha dimunculkan Prabowo dan tim.(*)









Komentar