19 Apr 2019 08:24

Deteksi Stres Bisa di Puskesmas

Ilustrasi stres.

MANADO—Untuk mengatasi terjadinya gangguan jiwa akut, masyarakat bisa melakukan pendeteksian dini stres di puskesmas. Hal ini diungkapkan Kasie Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Sulut dr Felicia Kalesaran, kemarin (18/4).

"Kita tidak boleh hanya melihat orang yang mengalami gangguan jiwa yang bebas berkeliaran saja yang harus ditangani. Sekarang itu ada hal baru yang sedang kita terapkan. Yaitu deteksi dini stres. Karena kalau tidak kita ada penanganan terhadap stres, maka ini akan menjadi gangguan jiwa akut," imbuhnya, Kamis (18/4).

Sekarang juga, jelas Kalesaran, baru 17 puskesmas yang menerapkan deteksi dini stres. Padahal sesuai peraturan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan, sebenarnya diwajibkan seluruh puskesmas menerapkan deteksi dini stres.

"Ya memamg kita harapkan semua puskesmas menerapkan hal ini. Kan deteksi dan penanganan sangat penting dilakukan. Namun sekarang, yang menjadi kendala adalah pihak kabupaten/kota belum menganggarkan deteksi dini ini. Karena itu masih sangat kurang puskesmas melakukan pendeteksian stres," jelasnya.

Kalesaran menjelaskan, pendeteksian stres terhadap seseorang dilakukan oleh tenaga yang memiliki keahlian khusus. Cara kerja dari pendeteksian stres ini adalah melalui kuisioner. Jadi ungkapnya, setiap pasien yang datang berobat, akan diikutsertakan dengan tes gangguan jiwa tersebut.

"Ini merupakan hal baru yang kita temukan. Dan melalui studi yang kita lakukan, gangguan jiwa berawal dari stres yang berat. Karena itu, saya berharap, 15 kabupaten/kota di tahun depan dapat menganggarkan deteksi dini ini," imbuhnya.

Di sisi lain, Wadir Pelayanan Medik dan keperawatan RSJ Ratumbuysang dr Frida Agu mengatakan, gangguan jiwa ada bermacam-macam. Ada kategori berat dan ringan. “Sebetulnya untuk gangguan jiwa berat maupun ringan laki-laki dan perempuan sama tingkat kerentanannya. Bahkan, untuk gangguan jiwa berat, biasanya lebih muda dialami oleh laki-laki daripada perempuan. Teorinya usia laki-laki biasanya 13 tahun sampai 21 tahun. Perempuan biasanya umur 16 tahun ke atas untuk gangguan jiwa berat atau psikotik," ujarnya.

Menurunya, sampel penelitian yang dilakukan tiap negara dan daerah berbeda-beda. Hal ini bisa juga terkait dengan budaya. Termasuk kekuatan mental serta ketangguhan dan kemampuan beradaptasi di setiap daerah berbedah.

"Di RS Jiwa kita itu, pasien yang masuk memang fleksibel. Untuk sekarang ada 60 sampai 100 pasien yang rawat jalan dan 166 pasien rawat inap dengan pembagian presentase 60 untuk laki-laki dan 40 untuk perempuan," ungkapnya.

Ia mengatakan, sebetulnya ada tiga faktor umum yang menyebabkan gangguan jiwa. Yaitu faktor biologi dan sikologi yang datang dari diri sendiri. “Tapi bisa juga datang dari lingkungan,” katanya.

Biologi bisa datang dari genetik atau keturunan. Bisa juga faktor hormonal kalau pada wanita. “Seperti tiap bulan wanita mengalami menstruasi, dan saat itu mereka menjadi lebih cepat marah dan emosi. Lingkungan juga bertanggung jawab, pekerjaan yang menumpuk, bahkan sebagai ibu rumah tangga pun cukup rentan terkena gangguan jiwa, karena bertanggung jawab akan rumah sering mereka dipersalahkan, apalagi jika mengenai anak," paparnya.

Tambahnya, untuk terhindar dari gangguan jiwa, tidak boleh terlalu fokus pada masalah. Harus juga membuka diri dengan kegiatan-kegiatan yang lebih rileks. “Jika terlalu fokus pada masalah dan tidak melihat hal lain yang dapat membuat kita bahagia, akan sangat berakibat buruk bagi diri kita sendiri,” terangnya. (tr-02/can)









Komentar