09 Feb 2019 21:59
Oleh: Ferry Darossa SPd MPd

Penarikan Guru ASN dari Sekolah Swasta, Pengaruh Empirik Bagi Wajah Pendidikan Sulut

Ferry Darossa (Istimewa)

MANADOPOSTONLINE.COM - Inti tujuan pendidikan nasional mencerdaskan bangsa menuju generasi  emas 2045. Beragam bentuk telah dirumuskan oleh pemangku pendidikan, mulai dari kurikulum, metodik ajar, bahkan sampai pada eksploitasi kegiatan ektrakurikuler sebagai bentuk pengayaan pembentukan mental perilaku peserta didik.

Dari rentang waktu yang panjang sejak Indonesia merdeka, seluruh penyelenggara sekolah swasta baik lembaga keagamaan ataupun pribadi telah mengambil peran strategis dan menghasilkan sejarah melahirkan generasi ke generasi  yang sudah memimpin neg’ri, berbagai profesi profesional di tempati oleh  lulusan sekolah swasta hingga kini.

Lebih dekat lagi tentang peran sekolah swasta di pedesaan/ kota telah menyentuh akar dan hak rakyat untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layanan yang merata. Sekolah swasta telah mengurai mata rantai kebutuhan  pendidikan, hadir dan menjawab di tengah pemerintah belum menembus desa,  buta aksara, lahirkan anak kampung  temukan jalan sampai mampu menghidupi keluarganya.

Strategisnya peran sekolah swasta akan memberi imbas positif yang harus di dorong pada pacu peningkatan kualitas pengajar yang melahirkan generasi yang siap dengan kompetensi daya saing setara dengan kebutuhan jaman.

Menengok kebijakan ini dalam bentuk konsep pasti dilatarbelakangi oleh data jumlah sebaran guru sesuai  jurusan. Kemudian menarik kesimpulaan sejauh mana berpengaruh pada roda kegiatan belajar mengajar  dan dampaknya bisa di ukur dengan jelas. Sebut saja secara sederhana sekolah kejuruan yang sekian tahun guru ASN mengalami pembekalan keterampilan dan teknik mangajar yang memadai kemudian di gantikan dengan guru honor yang baru yang bukan jurusan. Berapa energi dan waktu yang harus kita bangun secara berjenjang. Siklus ini sudah berjalan jauh di perjuangkan dan kemudian resiko yang di timbulkan dalam investasi waktu untuk mencetak guru terampil. Sekolah swasta akan mengalami degradasi emprik mutu pengajar. Berarti kita kembali mereset sistem pengajaran sementara negara lain sudah pada produk dan hasilnya di pakai oleh rakyat. Sebesar apa ketinggalan kita?

Beberapa pokok pikiran jika guru ASN di tarik dari sekolah swasta, pertama: Operasional KBM akan mengalami kemunduran. Seni Budaya akan di ajarkan oleh guru matematika. IPA akan di ajarkan oleh guru Agama. Tidak liniernya guru masih menjadi momok nasional yang sedang di cari jalan keluarnya.

Ketersediaan guru ASN belum menjawab kebutuhan karena setiap tahun angka pensiun lebih besar dari pengangkatan guru. Kondisi ini bermuara pada kualitas pengajar yang tidak mampu mentrasfer tuntutan untuk menghasilkan lulusan lulusan yang bermutu.

Kedua: sekolah swasta merumuskan kembali merekrut tenaga pengajar yang berakibat pada tambahan pembiayaan. Dari mana sumber gaji dan honor mereka? Ada yang dari derma jemaat ataupun harapan sisa belanja orang tua siswa. Sementara, spirit tahun pertama akan bertahan jika guru honor di gaji 300 ribu per bulan. Bagiamana nasib mereka selanjutnya? Seberapa kuat bertahan untuk menghidupi keluarga.

Para pejuang dari basis paling bawah, para kepala sekolah di pedesaan atau di mana saja, masing-masing mencari ruang dengan variasi kiat untuk menjawab persoalan pendidikan. Sementara pada bagian lain pemimpin akan bekerja sama merasakan nadi  dan tantangan pendidikan sehingga berjalan bersama.

Pengkajian atas kebijakan ini telah masuk ruang publik dengan ragam pendapat . Kegelisahan ini bukan fenomena namun realitas yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab bersama. Harapan bersama kiranya pengambil kebijakan merumuskan kembali dengan jalan keluar yang sepadan, berpihak pada rakyat, merefleksi bahwa masih banyak generasi untuk di layani dengan mutu yang terukur bukan hanya pada tataran abstrak apalagi muatan kepentingan yang lain.  

Benar, bahwa sekolah negeri masih kekurangan guru sehingga dasar ini dipakai untuk menarik guru ASN dari sekolah swasta. Seberapa besar prosentasi pengaruhnya bagi penjaminan mutu dan kelangsungan jalannya sekolah swasta?

Siklus ini memerlukan kajian matang sembari merefleksi jasa sekolah swasta bagi pembangunan generasi bangsa sejak Indonesia merdeka. Demikian, contoh sederhana “kunjungilah” SMP Kristen Tara tara Tomohon, semua gurunya dari ASN. JIKA di tarik akan mengundang kecemasan bathin rakyat. Bagaimana nasib anak bangsa menuju kesetaraan layanan pendidikan?

“Hidup adalah kesempatan….jangan sia-siakan” jika kita BISA mengubah kebijakan yang menyelamatkan anak keturunan kita… berbuatlah.

Penulis: Kepala sekolah SMP N. 1 Eris, Instruktur Propvinsi, Wakil Sekretaris PGRI Kab.Minahasa. (***)









Komentar