17 Agu 2014 08:20

Membaca Kemerdekaan Lewat Sajak Juang…

Oleh: Sulaiman

(Mahasiswa Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Penggiat Diskusi KAMURA)

KEMERDEKAAN adalah buah dari perjuangan para pendiri bangsa yang landasan berpijaknya sudah disusun sejak pergerakan kesadaran nasionalisme baru bergulir, yakni jauh sebelum momentum proklamasi itu membahana di tangan Soekarno-Hatta dan kawan-kawan seperjuangannya. Meskipun begitu, tanpa melupakan para pejuang-pejuang sebelumnya, pada generasi '45-lah kita melihat perlawanan fisik secara masif demi menuntaskan garis perjuangan para pendahulunya dari kungkungan bangsa-bangsa penjajah sehingga kita menjadi bangsa yang berdaulat.

Hal ini diakui presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono: “sepanjang masa, Generasi '45 akan dikenang sebagai generasi emas yang mengubah nasib bangsa dengan semangat perjuangan, pengabdian dan pengorbanan yang luar biasa. Etos inilah yang harus selalu kita dan semua anak cucu kita tauladani bersama”.

Diantara generasi pejuang '45 ini, rasanya perlu untuk menyebut satu nama, seorang pejuang dan penyair sekaligus yang namanya akrab dalam jagad sastra Indonesia, Chairil Anwar atau dikenal juga dengan julukannya “si binatang jalang”. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, sajak-sajaknya beraroma gemuruh semangat perjuangan. Oleh sebab itu, dengan menyelami semangat sajak-sajaknya, sambil lalu menikmati keindahannya, semoga kita dapat menemukan gelora dan pesan perjuangan kemerdekaan.

Bukankah peringatan HUT kemerdekaan Indonesia ini "yang digelar tiap tahun" tak lain sesungguhnya untuk mengingatkan generasi kita tentang cita-cita dan semangat perjuangan generasi pendahulu?

Karawang Bekasi adalah satu dari sekian sajak Chairil Anwar yang beraroma perjuangan. Dalam sajak ini, penulis seperti dihadapkan dengan bayangan para pejuang pendahulu kita yang telah gugur di medan perang demi mengabdikan pada kemerdekaan. Mereka seolah berbicara kepada kita "generasi hari ini" untuk melanjutkan semangat perjuangannya. Misalnya, penggalan awal sajaknya, Chairil menulis: Kami yang kini terbaring antara Karawang Bekasi/ Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Penggalan itu mengabarkan kepada kita bahwa mereka tidak mungkin lagi mampu melanjutkan perjuangannya. Mereka tidak mungkin bisa “teriak merdeka” dan “angkat senjata lagi” sebagai bentuk perlawanan fisik untuk mengusir para penjajah. Sebab kematian telah menjemputnya. Mereka kini “terbaring” gugur. Mereka kini jadi tulang belulang.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami/ Terbayang kami maju dan berdegup hati? Siapa diantara generasi kita yang lupa jasa kepahlawanan mereka? Adakah diantara generasi kita yang buta dan tuli akan jasa-jasa perjuangan mereka? Penggalan ini seperti sebentuk sindiran kepada generasi kita agar tidak mudah melupakan sejarah (perjuangan) yang telah mereka mulai. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, tegas Soekarno.

Sebagai pejuang kemerdekaan, mereka sudah pertaruhkan segala yang mereka bisa pertaruhkan. Mereka korbankan seluruh jiwa-raga dan masa mudanya demi berjuang untuk kemerdekaan. Namun, mereka belum lagi dapat merasakan buah dari perjuangannya. Sebab kematian telah merenggutnya lebih awal. Penggalan yang menggambarkan kenyataan ini berbunyi: Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu/ Kenang-kenanglah kami/ Kami sudah coba apa yang kami bisa/ Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa/ Kami sudah beri kami punya jiwa/ Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa.

Dalam keadaan terbaring gugur dan tinggal tulang-belulang berserakan, tak ada lagi yang bisa diharapkan dari mereka. Mereka telah mengabdikan keberanian mereka sepenuhnya untuk kemerdekaan negeri ini. Selanjutnya tanggung jawab generasi kita untuk melanjutkan cita-citanya atau menyia-nyiakan perjuangannya? Kami cuma tulang-tulang berserakan/ Tapi adalah kepunyaanmu/ Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan/ Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan/ Atau tidak untuk apa-apa/ Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata.

Namun, sebagai pejuang yang mencintai setulus hati kemerdekaan negerinya, tentu mereka berharap buah perjuangannya tak sia-sia. Mereka berharap kemerdekaan negeri ini punya arti bagi seluruh rakyat negeri ini yang tersebar sepanjang Sabang sampai Merauke.Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang Bekasi.(mpo)









Komentar