02 Agu 2014 07:10

Unsrat, dari Eisenhower Plan ke Marshall Plan

MSE PANGEMANAN

 

Oleh

MSE Pangemanan

(Lulusan Unsrat 1985)

 

Jenderal George C Marshall tersohor sebagai “ahli pembangunan’’ yang luar biasa. Di tangannya, angkatan perang Amerika Serikat (AS), terutama angkatan darat, mengalami lompatan pengembangan dibanding masa-masa sebelumnya. Otaknya pun terkenal cemerlang dalam pelbagai perencanaan strategis, tak terkecuali strategi perang. Tetapi menghadapi perkembangan dari hari ke hari Perang Dunia (PD) II, feeling seorang negarawan Presiden Roosevelt berkata lain. Dalam hal ini untuk penentuan kepemimpinan di front. Sementara ia tahu Marshall tidak memiliki pengalaman yang berarti dalam memimpin pasukan di lapangan, perang kali ini pun terhitung amat besar dan dengan segala resiko serta konsekuensi yang serba besar bagi Amerika maupun kemanusiaan sedunia. Rezim fasisme Nazi Jerman sudah mencengkeram Benua Eropa hanya dalam sekejap, rezim militerisme Jepang sudah menghancurkan pangkalan militer AS di Pearl Harbor.

Sejarah kemudian mencatat sangat tepatnya keputusan Roosevelt. Ia memilih Brigjen Dwight D Einsenhower jadi Panglima Tertinggi di front Barat. Dan sebagai politisi kawakan ia perlu membujuk Marshall menjadi jenderal pertama penyandang lima bintang dalam US ARMY. Sebelum Einsenhower juga menyandang lima bintang. Dan semuanya sukses. Einsenhower yang sejak 1942 memimpin divisi War Plans (Perencanaan Perang), ternyata memang membawa kemenangan gemilang sampai musuh bertekuk lutut. Sedang Marshall terbukti mencetak sejumlah karya sangat penting pasca PD II, yakni Marshall Plan untuk pembangunan dunia melalui pemulihan ekonomi Eropa dan sekaligus menjadi penangkal ancaman baru komunisme. Marshall pun merancang berdirinya demokrasi barat. Puncaknya 1953, Marshall dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian. Sementara Einsenhower pada 1953 menjabat Presiden AS.

Unsrat dan Marshall Plan

Wacana ilmu-ilmu social-khususnya politik, manajemen, dan kenegaraan-kemudian mengadopsi istilah “Einsenhower Plan” yang selalu dipasangkan dengan “Marshall Plan”. Pengertiannya sederhana: rencana pembangunan sehebat apapun tak akan pernah terwujud bila tidak mendahulukan rencana pendobrakan terhadap struktur yang menghambat, dan sebaliknya perjuangan mati-matian melawan musuh atau menghancurkan penghambat tetapi jika tanpa disertai perencanaan pembangunan yang benar maka yang terjadi hanyalah proses pergantian actor untuk lakon dengan skenario permasalahan yang sama saja. Bahkan pejabat baru yang sebelumnya baik dan sangat diharapkan sering terbukti jatuh lagi dalam perilaku yang sama korup dan otoriter seperti pejabat yang sudah diturunkan dan digantikannya, jika tanpa dibarengi dengan pembenahan system secara memadai.

Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) telah cukup lama dicengkeram bermacam problem. Banyak pengamat dari dalam maupun luar lingkungan kampus melihat problem pokoknya terletak pada posisi rector selama ini. Meski tentu saja tidak sepenuhnya demikian, karena sangat banyak variabel yang mendeterminasi problem yang keseluruhan.  Tetapi memang, bagaimanapun, berlaku hukum besi: perubahan, termasuk perubahan untuk perbaikan tentu saja, hanya mungkin diawali dari pucuk pimpinan. Nah, para pengamat dan terutama para stakeholders Unsrat yang menghendaki perbaikan melalui pergantian rektor, sekarang merasa sudah berhasil menyelesaikan satu tahap pentingnya. Rector sudah diganti. Einsenhower Plan sudah terwujud.

Dengan demikian maka jelas langkah selanjutnya tidak boleh lain kecuali Marshall Plan. Perbaikan secara mendasar, sistematis, structural. Jangan sekadar perbaikan tambal sulam. Apalagi hanya melanjutkan program rutin. Jangan! Kecuali jika kita rela menyaksikan sejarah Unsrat di masa-masa selanjutnya sebagai sekadar proses pergantian aktor-aktor bermasalah yang tampil silih berganti namun dengan skenario permasalahan yang terus sama dan makin parah.

Langkah Unsrat ke depan tidak boleh kurang dari perbaikan secara fundamental itu. Baik dalam system manajemen, maupun dan terutama dalam sistem kurikulum yang terhadapnya sistem manajemen hanyalah merupakan fungsi pendukung (supporting function). Salah satu sumber permasalahan selama ini ialah ketika, karena nafsu serta segala ambisi politis, fungsi utama (pedagogi) itu sudah tergusur dan semua perhatian orang hanya tertumpuk pada soal manajemen yang padahal hanya faktor pendukung, dan bahkan lebih sempit lagi yakni hanya berebut jabatan dalam manajemen tersebut.

Dan berebut jabatan seperti itu harus kita lihat tidak lain sebagai: langkah melanjutkan terus tanpa henti proses Einsenhower Plan. Justru di tahap yang semestinya Marshall Plan.

Bukan kebetulan, setelah menang perang, Dwight David Eisenhowe sendiri menanggalkan uniform jenderal bintang limanya dan ternyata memilih untuk menjabat Rektor Universitas Columbia di New York. Ya, demi Marshall Plan.(***)

 









Komentar