01 Agu 2014 09:01

Filsafat Waktu Idul Fitri

Oleh:

Satrio Wahono

(Alumnus Magister Filsafat UI)

 

TANPA terasa kita sudah merayakan Idulfitri atau Lebaran. Namun, di tengah suasana perayaan 1 Syawal ini, mulai berbelanja sampai kegiatan mudik, sebenarnya ada hikmah filosofis terkait waktu yang acap terlupa. Sebagaimana diyakini semua kaum muslimin, agama Islam diturunkan sebagai tuntunan untuk menyempurnakan kehidupan manusia. Maka, puasa yang berpuncak pada Idul Fitri termasuk salah satu ibadah yang mengandung panduan luhur untuk membimbing manusia menjadi insan kamil (manusia paripurna).

Filsafat Waktu

Ditinjau dari perspektif waktu, perjalanan manusia dalam rangkaian ibadah puasa sejatinya terbagi menjadi tiga fase waktu: pagi, siang, dan malam. Atau lebih spesifik lagi, ibadah berpuasa itu sendiri, kemenangan Idulfitri, dan pasca-Idulfitri. Tak kurang Alquran juga mengakui tiga fase penggalan waktu ini dalam tiga surat di juz terakhir Alquran yang akrab disebut Juz ’Amma.

Pertama, surat Al Fajr (Pagi). Jika fase puasa disepadankan dengan pagi, ayat 4-5 dalam surat Al Fajr cukup relevan untuk kita renungkan. Yakni, ”tetapi manusia apabila Tuhannya mengujinya, yakni dengan memberinya kemuliaan dan kenikmatan, maka ia pun berkata, ’Tuhan memuliakan aku.’ Tetapi apabila Tuhannya mengujinya, yakni dengan menyempitkan (rezekinya), maka ia pun berkata ’Tuhanku menghinakan aku.” Dua ayat surat Pagi itu menyampaikan watak dasar manusia yang hanya berbaik sangka kepada Tuhan di saat senang, tapi berburuk sangka kepada Tuhan kala kesempitan.

Dari perspektif ini, ibadah puasa yang memberikan kesempitan dan kepayahan fisik –tidak makan dan minum– seakan mengajak manusia berbaik sangka, bahkan bergembira, bahwa keadaan sempit itu sebenarnya merupakan sebuah instrumen yang diberikan Allah untuk memuliakan manusia asalkan manusia menjalani ibadah tersebut dengan konsisten dan khusyuk. Kemuliaan inilah yang dalam ayat 27 surat yang sama disebut wahai jiwa yang tenang. Fase puasa jadinya merupakan ibadah di mana manusia berpayah-payah menanggung cobaan demi mengangkat derajatnya sebagai makhluk berjiwa tenang.

Kedua, Adh Dhuha (Pertengahan Hari atau Siang). Jika fase pertama di atas dilalui dengan sukses, menyusullah fase kedua, Idulfitri. Ayat 5–11 surat ini mengatakan, ”Dan sungguh kesudahan itu lebih baik bagimu daripada permulaan. Dan sungguh kelak Tuhanmu akan memberikan karunia-Nya kepadamu, maka kamu menjadi puas. Bukankah dia mendapatimu dalam keadaan yatim, lalu dia menunjukimu. Dan Dia mendapatimu dalam keadaan bingung, lalu dia menunjukimu. Dan dia mendapatimu dalam keadaan miskin, lalu Dia mencukupimu. Karena itu, terhadap anak yatim jangan- lah kautindas. Dan terhadap orang-orang meminta-minta janganlah kauhardik. Dan terhadap nikmat Tuhanmu ceritakanlah dengan bersyukur.” Artinya, fase siang atau Idulfitri adalah titik final yang seyogianya membuat manusia yang berpuasa menjadi lebih baik daripada sebelum ia berpuasa. Pada hari kemenangan itu, manusia diharapkan menjadi juara yang penuh kebijaksanaan karena telah mendapatkan petunjuk Tuhan.

Juga, manusia diharapkan sudah mendapatkan nilai-nilai luhur yang terwujud dalam ketetapan sikap untuk mengatasi masalah-masalah konkret seperti kemiskinan (peminta-minta) dan ketiadaan keteladanan (anak yatim yang tidak memiliki ayah). Fase ini boleh dibilang hanya menginjak tahap pembentukan komitmen karena ayat-ayat dalam surat Adh Dhuha baru sebatas negasi (penolakan) terhadap keadaan yang ingin diubah –ditandai dengan kata jangan. Kebulatan komitmen berkata tidak pada keadaan yang buruk inilah kriteria bagi manusia yang berpuasa untuk layak merasakan fase ”siang” kemenangan dan pantas menyandang predikat makhluk yang bersyukur.?

Ketiga, Al Lail (Malam). Secara logis, kebulatan sikap harus diikuti aksi konkret untuk mengatasi permasalahan riil secara berkesinambungan dan sistematis. Masuklah kemudian kita pada fase ketiga, yaitu fase sesudah Idulfitri alias fase malam. Dalam fase ini manusia tidak boleh berhenti pada merayakan kemenangan dan mencanangkan tekad semata. Yang lebih penting adalah pertanyaan: tindakan nyata apa yang bisa kita perbuat sepanjang sebelas bulan ke depan sebelum kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadan berikutnya?

Surat Al Lail memberikan jawabannya pada ayat 5–7, ”Akan halnya orang-orang yang mendermakan hartanya di jalan Allah dan bertakwa. Dan membenarkan kebaikan. Maka akan kami lapangkan dia kepada jalan yang mudah.” Dalam surat ini, kita bisa lihat perubahan dari sikap pasif fase ”siang’ yang sekadar menegasikan menjadi amal aktif, seperti mendermakan harta dan mendorong kebaikan. Pendek kata, niat haruslah disertai amal untuk dapat membuat perubahan yang positif pada diri sendiri dan pada lingkungan sekitar atau bahkan lingkungan yang lebih luas lagi.

Dengan begini, fase puasa, Idulfitri, dan pasca-Idulfitri menjadi satu rangkaian proses yang benar-benar akan membantu manusia menjadi khalifah bumi yang bijak dan mampu memelihara serta mewujudkan dunia yang senantiasa lebih baik ke depan.(***)









Komentar