15 Jul 2014 08:18

Menuju Insan Taqwa

Oleh :

Kasmawati, SS

(Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Manado)

 

Saat ini kita sudah berada di tahapan 10 hari ke dua bulan Ramadhan, tepatnya hari ke 17 atau tanggal 17 Ramadhan.  10 hari pertama adalah rahmat, dan 10 hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka. Ibarat mendaki gunung, kita sudah mencapai puncak dan saatnya untuk turun kembali, karena itu hari-hari terakhir Ramadhan adalah hari-hari yang penuh perjuangan untuk bisa bertahan agar tidak tergelincir, di tengah begitu banyak godaan.

Puasa sebagaimana disebutkan dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah : 183, harus berangkat dari modal keimanan untuk mencapai tujuan tertinggi dari puasa yaitu taqwa. Di dalam buku Risalatul Qusyairiyah, taqwa diartikan sebagai kumpulan dari semua kebaikan. Karena itu, Allah SWT memuliakan manusia dengan Taqwa, sebagaimana firman Allah SWT : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling baik taqwanya (Q.S.Al-Hujurat:13). Ayat ini mengisyaratkan bahwa jika umat Islam seluruhnya itu berpuasa dan memelihara puasanya, insya Allah akan mendapatkan gelar muttaqin atau orang yang bertaqwa. Tetapi taqwa saja belum cukup memuliakan kita dihadapan Allah, karena ibarat olimpiade taqwa, maka yang unggul dan paripurna adalah Atqa’; yang paling bertaqwa diantara yang bertaqwa.       

Puasa adalah salah satu jalan menuju taqwa, karena puasa melatih diri untuk menyadari pangawasan Allah Ta’ala. Ketika seorang hamba menjalankan puasa. Ramadhan dengan penuh ketaatan kepada Allah, menyadari pengawasan Allah, dan menyadari perihnya penderitaan manusia miskin lagi sengsara hingga menyayanginya dengan menolongnya, maka disitulah puncak ketaatan manusia sebagai hamba. Taqwa adalah satu panji yang diperebutkan semua orang agar dapat berada di bawah naungan Allah SWT yang dapat menyelamatkan manusia dari fanatisme ras, fanatisme daerah, fanatisme kabilah dan fanatisme rumah.

Sedangkan Atqa; diartikan dengan “yang paling baik taqwanya” atau yang paling bertaqwa. Ayat ini mengisyaratkan bahwa warna kulit,  ras, bahasa, Negara serta symbol-simbol status sosial lainnya tidak ada dalam pertimbangan Allah SWT. Di sisi Allah SWT, hanya ada satu timbangan untuk menguji seluruh nilai dan keutamaan manusia yaitu Atqa’ : yang paling bertaqwa.

Atqa adalah kemampuan untuk senantiasa memelihara ketaqwaan atau istiqamah. tidak saja di bulan Ramadhan tetapi di bulan-bulan lain, nilai-nilai Ramadhan senantiasa kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam arti menjadikan taqwa sebagai pakaian kita. Sebagaimana disebutkan dalam Al-qur’an : Wahai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan bagimu pakaian untuk menutupi auratmu serta perhiasan yang indah. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik, yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Q.S. Al-A’raf: 26)

Libasuttaqwa atau pakaian taqwa yang berarti iman dan amal saleh karena iman dan amal saleh adalah sebaik-baik perhiasan pakaian. Iman adalah modal kita dalam berpuasa karena yang dipanggil Allah SWT untuk berpuasa hanyalah orang yang beriman, sedangkan amal saleh terkandung didalam pelaksanan ibadah puasa, yang intinya adalah selalu merasa dalam pengawasan Allah SWT, sehingga malu makan dan minum di siang hari meskipun tidak ada yang melihat. Disiplin atau tepat waktu yang dimplementasikan dengan imsak tepat waktu dan berbuka puasa tepat waktu meskipun tidak ada hukuman bagi yang tidak disiplin, karena puasa hakikatnya adalah hubungan manusia dengan Allah semata. Sabar untuk tidak Jima’ dengan suami/istri di siang hari meskipun halal. Peduli dan berempati terhadap apa dirasakan orang lain meskipun berbeda status sosial, berbeda suku sehingga menumbuhkan kedermawanan dan solidaritas. Berzakat dalam rangka mensucikan diri dan harta. Begitu banyak nilai-nilai Ramadhan yang harus kita jadikan pakaian atau libassutaqwa bagi kita.

Demikian, seindah-indah pakaian yang kita pakai, dan perhiasan yang menyenangkan kita berupa emas, berlian, mobil-mobil mewah,  akan bertambah keindahannya jika dilengkapi taqwa karena pakaian dan perhiasan yang terbaik akan kita peroleh dari ketakwaan, yang akan menutupi ketelanjangan dosa, dan akan menghiasi kita dengan segala kebajikan.

Akhirul kalaam mari menjadikan Ramadhan sebagai media untuk mengubah status ketaqwaan menjadi kemuliaan.(***)









Komentar