14 Jul 2014 03:18

Presiden Tanpa Catatan

 

Oleh: SAMSUDIN ADLAWI

 

KAMPANYE pilpres sudah resmi berakhir Sabtu kemarin. Bahkan hari pencoblosan juga telah berakhir. Presiden terpilih hasil quick count juga telah diketahui.  Yang perlu digarisbawahi, selama masa kampanye berlangsung, begitu banyak dinamika, dari yang biasa-biasa saja hingga yang kasar dan cenderung kotor dan keji.   

Selama masa kampanye, pasangan capres-cawapres tak ubahnya seorang sales atau marketer. Tak mudah memengaruhi hati rakyat. Penyampaian visi dan misi saja tidak cukup. Maka, layaknya sales/marketer, kedua pasang capres-cawapres dibantu tim suksesnya menyiapkan berbagai trik. Mulai trik yang wajar seperti membagikan kaus bergambar pasangan capres-cawapres sampai trik yang tidak wajar. Bahkan, cenderung kotor, keji, dan jahat. Tidak beradab. Jauh dari nilai-nilai kesantunan.   

Orang melabeli trik tidak wajar itu dengan sebutan kampanye hitam dan kampanye negatif. Kampanye hitam biasanya hanya berupa tuduhan tidak berdasar fakta. Cenderung mengarah ke fitnah. Sementara itu, kampanye negatif merupakan pengungkapan fakta kekurangan yang dimiliki capres-cawapres.

Kehilangan Panutan

Dalam posisi yang sulit seperti itu, sebenarnya rakyat membutuhkan tempat untuk bertanya. Tapi, saat ini mencari tempat bertanya jauh lebih sulit daripada memilih yang buruk di antara yang terburuk atau yang baik dari yang buruk. Betapa tidak. Dulu ketika mengalami kebuntuan dalam menentukan pilihan, masyarakat senantiasa bisa bertanya langsung ke partainya. Sekarang bagaimana bisa memberi solusi yang konkret, lah wong pucuk pimpinan partai dan pengurusnya punya pilihan sendiri-sendiri.

Organisasi kemasyarakatan juga idem ditto. Pengurusnya pecah. Demikian juga para tokoh agama. Sejumlah kiai secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada capres nomor 1, sedangkan kiai yang lain mendukung capres nomor 2.

Sebetulnya, masih ada satu alternatif yang pas untuk jujukan klarifikasi. Yakni, televisi. Tapi, sayang seribu sayang, saat ini dua televisi berita terbesar di tanah air yang sebelum pilpres selalu menjadi rujukan peta perpolitikan nasional kini justru sedang berada di bawah titik nadir. Bahkan hasil quick count pun dari televisi pun berbeda. Yang membuat masyarakat bertambah bingung.

Pemimpin Ideal

Kini rakyat sedang diuji. Diuji karena  telah memilih dan menentukan pilihan sendiri. Melihat dengan mata hatinya. Selanjutnya mendengarkan kata hatinya. Kemampuan rakyat dalam menilai calon pemimpin yang cakap pasti berbeda-beda. Mereka punya persepsi sendiri-sendiri.

Mungkin kisah Rasulullah SAW berikut ini bisa dijadikan renungan sekaligus rujukan dalam memilih pemimpin ideal: Suatu saat Rasulullah SAW mengimami salat Isya. Setiap kali menggerakkan badannya untuk sujud atau rukuk, terdengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh beliau bergeser antara satu sama yang lain. Para sahabat yang menjadi makmum cemas. Mereka menyangka Rasulullah sedang sakit.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai salat, ”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat. Apakah Tuanku sakit?” Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

Mendengar jawaban itu, sahabat Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh Tuan? Kami yakin engkau sedang sakit.”

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Ternyata pada perut Rasulullah yang kempis tampak dililiti sehelai kain berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.

Umar memberanikan diri berkata, ”Ya Rasulullah! Adakah bila Anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya tinggal diam?” Rasulullah menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasul-mu ini. Tetapi, apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban bagi umatnya?”

Para sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan, ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku agar kelak tidak ada umatku yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

Itulah figur pemimpin yang ideal. Pemimpin yang rela dirinya berlapar-lapar ria sebelum rakyatnya terentas dari kungkungan kelaparan. Sangat kontras dengan penampilan pemimpin yang ada sekarang, bukan. Memang sulit menemukan ciri-ciri kepemimpinan seperti Rasulullah. Tapi, setidaknya dari kedua pasang capres-cawapres yang telah bertarung, ada yang mendekati. Tentunya sebagian kita sebelum memilih ada yang salat Istikharah. Insya Allah, capres pilihan Anda berkah bagi bangsa ini. Amiin.(***)









Komentar