09 Jul 2014 06:39

Sambil Bernyanyi Orang Minahasa Menari Menuju ke Jurang

C.Kowaas

Oleh: C. Kowaas, Letkol Laut (Pur)

Ketua LVRI Minsel

 

Al zingende en dansende gaan de Minahasers ‘t ravijn in. Kalimat dalam Bahasa Belanda tersebut saya baca semasa masih remaja di SMP Amurang, pada tahun 1948. Bisa dipastikan bahwa penulisnya adalah seorang yang sangat peduli terhadap sesama Kawanuanya. Bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, kalimat tersebut berbunyi seperti judul di atas. Tulisan tersebut tentu saja dimaksudkan sebagai sebuah kritik tajam atas sikap hidup orang Minahasa yang dinilai sudah mulai menjurus pada kehidupan kebarat-baratan yang serba bebas dan easy going, sangat longgar dalam kebiasaan hidup sehari-hari, sangat permissive terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil, (sehingga setelah menjadi pelanggaran besar sulit diselesaikan), pelanggaran terhadap norma dan etika yang mentradisi, warisan leluhur yang seharusnya kita junjung tinggi.

Sambil bernyanyi-nyanyi dan menari-nari. Happy all the time. Dari dulu sampai sekarang sifat dan watak orang Minahasa, pada umumnya, memang so bagitu. Nyandak samua katuk. Tapi itu sifat ceria tidak berubah. Suka berpesta. Mengundang dan mengajak makan yang enak-enak. Selalu ceria walau di tengah sawah atau di ladang atau di laut bergelora. Mencangkul, mendayung, bergelut dalam kucuran keringat sambil bernyanyi-nyanyi dan sewaktu beristirahat dari kegiatan mapalus di ladang, mereka (Papa dan Mama dan Oom Tante serta beberapa pemuda dan pemudi dewasa sesama anggota Mapalus) berdansa di kaki bukit di bawah kerindangan sebatang pohon mangga. Berdansa dalam irama walsa di rerumputan yang baru saja dibersihkan. Berdansa dengan kaki telanjang walau hanya dengan iringan sebuah ukulele dan kulintang bulat terbuat dari tembaga. Happy all the time.

Mereka menjalani hidup penuh perjuangan penuh optimisme dan iman yang teguh bahwa Tuhan selalu melindungi dan memberkati torang pe Tanah Minahasa yang subur makmur ini. Sambil terus bernyanyi dan menari. Mendayung sewaktu pulang dengan perahu Giop atau Rorehe dari tengah laut di petang menjelang malam. Bernyanyi Ole Yoma dalam sebuah koor teramat padu teramat sayu mendayu-dayu. Melantunkan suka duka dalam penderitaan. Suatu sikap yang sesungguhnya amat baik. Tetapi sayangnya, karena kurang pengetahuan, karena kurang waspada, tanpa disadari mereka terseret oleh nikmatnya pergaulan bebas yang melanggar kebebasan. Mereka terbius cap tikus dan Kasegaran. Kemudian Ekstasi dan i.t. Lalu meningkat ke blue film dan blue pill dan blue paradise. Sehingga berakhir di kehidupan serba biru di rumah bordil atau di penjara. Atau diterkam HIV/AIDS. Sungguh celaka.

Dalam Editorial Manado Pos edisi Selasa 24 Juni 2013 di halaman depan, (sayangnya penampilan huruf maupun tata letak tidak atraktif, tidak mencolok sehingga kurang memikat perhatian pembaca) dipaparkan bahwa Sulawesi Utara kini berada di ambang kehancuran. Editorial tersebut sungguh-sungguh meneriakkan tanda bahaya! 

Maka Penulis dengan hormat memohon izin Redaksi untuk mengutip keseluruhan isi Editorial tersebut. Dengan maksud ikut serta menyalakan dan membunyikan tanda alarm sekeras-kerasnya. Dengan mem-blow up kenyataan bahaya besar yang sedang mengancam rakyat Sulawesi Utara bahkan bangsa Indonesia. Terutama kitorang di sini. Di Sulawesi Utara. Khususnya di Tanah Minahasa yang kita cintai ini. Yang seolah-olah hanya tenang-tenang saja. Masa bodoh. Easy go happy seperti so jadi watak kebiasaan torang orang Minahasa. Yang terkadang seperti nyandak farduli terhadap lingkungan sekeliling. Yaitu sifat sangat permissive. Nemauk ba smusis deng orang pe hal, dan sebagainya.

Editorial Manado Pos tsb selanjutnya menulis sbb: Saat ini daerah yang kita cintai ini sementara terjadi proses pelumpuhan bahkan pembunuhan secara perlahan. Generasi penerus mulai dirusak sejak usia sekolah. Sehingga saat ini banyak anak muda di usia produktif, sudah tertular virus HIV/AIDS.

Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Propinsi SULUT hingga tahun 2013, sudah 1.063 warga yang mengidap HIV/AIDS. 305 korban terinfesksi saat usia remaja. Salah satu penyebab, seks bebas dan Narkoba di kalangan pelajar. Sebagian besar terinfeksi lewat hubungan hetero seksual (gonta ganti pasangan).

Data Dinkes Sulut Mei 2013, ada 33 penderita masih usia remaja 15-19 tahun. Namun dari perjalanan HIV ke AIDS, ada masa lima tahun. Sehingga untuk kelompok umur 20-29 tahun, diasumsikan sebagian sudah terinfeksi HIV sejak lima tahun lalu, pada saat mereka masih remaja. Pada usia 20-29 tahun itu, sudah terdeteksi 558 orang, yang terdiri dari 237 orang pengidap HIV dan 321 yang sudah terkena AIDS.

HIV/AIDS bagaikan senjata biologis yang ditembakkan ke daerah yang diberkati ini. Tidak langsung menghancurkan. Tetapi menghancurkan secara perlahan. Karena itu anak muda, orang tua, Pemerintah, Tokoh Agama dan semua pihak di daerah ini harus menjadikan ini sebagai persoalan serius. Jika tidak, Generasi Penerus Sulut ke depan adalah generasi penyakitan, keropos, yang tidak bisa diandalkan.

Demikianlah ALARM TANDA BAHAYA dalam Editorial Manado Pos yang sengaja saya kutip untuk diteruskan kepada para pembaca. Dengan maksud agar para pembaca terus meneruskan dan menyebarkan kepada siapa saja di sekeliling kita. Tentang bahaya yang betul-betul sangat membahayakan! Bukan cuma pada pribadi yang bersangkutan, tetapi menularkan kepada istri/suami dan anak keturunan. Yang alangkah penuh celaka dan aib dan dosa maha besar di hadapan Tuhan!

Dikatakan bahwa HIV/AIDS adalah Senjata Biologis, senjata pemusnah amat destruktif. Senjata pemusnah yang ditodongkan ke dada kita, torang-torang ini, warga Sulut. Supaya torang warga Sulut menjadi hancur dari dalam, dilumpuhkan, dan takluk dengan sendirinya. Maka meresponi peringatan tanda bahaya ini, kita harus ‘bangkit dan bersedia’. Melawan dengan segala daya dan gaya dan dana yang penuh-penuh dan up to date. Tetapi dengan selalu bertekun kepada Tuhan.     

Al zingende en dansende gaan de Minahassers ‘t ravijn in.  Alarm tanda bahaya yang sama ternyata sudah dikumandangkan sejak lebih setengah abad yang lalu oleh para pendahulu kita yang arif dan bijaksana. Tetapi torang orang Minahasa memang banyak yang terlalu easy going, masa bodoh, bahkan kumabal dan pang malawang.

Sebuah Angkot yang disopiri seorang anak muda dengan potongan rambut model norak, sebelah kiri dipotong pendek tetapi sebelah kanan panjang terurai diwarnai cat rambut berwarna kuning dan merah, mengemudikan kendaraannya yang dipenuhi tiga lusin kaca spion di atas dash board. Perangkat sound system membahana bertalu-talu dengan lagu rap berirama disco kegemaran anak muda masa kini. Karena volume suara terutama suara bass bisa beking ciri tu tai talingang bahkan beking ciri jantong mereka yang so tua renta rupa kita, maka saya meminta agar dia mengecilkan volume suara musiknya. Dia mematuhi permintaanku dan dengan sangat sopan (sambil meminta maaf) dan sambil tersenyum ke arahku, dia berkomentar memberi alasan: “Kalu nyandak putar lagu rupa ini, tu anak-anak sekolah nemauk mo nae pa kita”. Saya mengiyakannya. Tetapi saya menunjuk ke sebuah stiker berukuran 10 X 5 cm yang ditempelkan di dashboard. Stiker dengan huruf dan warna mencolok: “NARKOBA NO, BAHUGEL YES!” tampak sangat mencolok. Atraktif! To the point! Singkat, padat, jelas! Bahkan sedikit puitis. Sehingga tepat menemui sasaran.

Maka saya bergurau sambil mencoba ‘berkampanye’ atau mungkin juga bisa disebut ‘berkhotbah’. Sambil menunjuk dengan jari telunjuk yang ditempelkan ke sehelai stiker tersebut. Saya melirik kepadanya dan mulai ‘berpidato’, bahwa NARKOBA NO, itu sangat betul. Karena narkoba betul-betul merusak kesehatan dan sekaligus menghancurkan masa depan. Sedangkan BAHUGEL, dilihat dari sudut manapun, tentu saja terlarang. Tetapi banyak orang berdalil bahwa justru yang terlarang bahkan yang berdosa itulah yang asyik!

Dia agak terkejut dan sedikit tersipu-sipu. Maka saya meneruskan, bahwa kalau dikatakan bahwa BAHUGEL itu asyik, sebenarnya mengandung banyak risiko. Karena pelaku BAHUGEL biasanya penganut seks bebas, yang gonta ganti pasangan, yang amat berisiko tertular HIV/AIDS, yang merusak kesehatan dan masa depan, bukan hanya kepada pelakunya, tetapi juga kepada istri atau suaminya, dan juga kepada anak-anaknya yang tidak berdosa. Sedangkan virus HIV/AIDS sampai sekarang belum ada obat penangkal atau penyembuhnya. Belum lagi risiko di demo. Atau dirazia. Atau dibotakin dan diarak keliling kota, dan sebagainya. Maka Anda mau pilih yang mana? Yang asyik tapi ternyata menjerumuskan itu?

Karena bukankah di luar daerah terlarang (yang wilayahnya sangat terbatas dan jumlahnya sangat sedikit itu) ada sangat banyak keasyikan di wilayah aman tenteram damai, di Taman Taman Firdaus yang diciptakan dan disediakan Tuhan untuk kita umat yang dikasihiNya, di Rumah Rumah Tangga yang berbahagia yang diberkati oleh Tuhan?

Dia terus tersenyum tersipu-sipu terangguk-angguk. Tetapi saya yakin dia sedang bergumul mencerna apa yang baru saja didengarnya, yang pasti sangat tidak disangka-sangkanya. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa setiap orang, semua kita, pasti akan menimbang-nimbang, mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak baik dilakukan. Karena setiap kita telah diciptakan Tuhan dengan panca indera dan akal sehat yang lengkap supaya dapat memilih yang baik dan yang buruk. Dan ketika saya meminta agar stiker tersebut dicopot saja, dia berjanji akan melakukannya tetapi sesudah melapor ke Eigenaar nya.

Pemerintah juga harus tegas dan cergas mencermati tingkah kehidupan masyarakat Sulut yang semakin maju tetapi semakin terancam kemajuan itu sendiri, yang ternyata memiliki sisi negative dan merusak. Penerbitan Perda tentang Miras, Narkoba, Trafficking, Sajam, Perjudian, Lokalisasi dsb, perlu diteliti ulang atau disempurnakan.

Begitu juga semua Tokoh Agama, jangan hanya terfokus pada pembinaan umat menuju akhirat yang surgawi, tetapi kurang menggeluti masalah duniawi masa kini yang semakin sophisticated sehingga tidak teramati dan tidak tertangani.

Tidak terkecuali Tokoh Tokoh Cerdik Cendekiawan di Lembaga Eksekutif, Legislatif dan Judikatif. Agar betul-betul berjalan pada relnya. Terkoordinasi dan terintegtasi. Anti KKN. Anti separatisme.

Begitu juga semua Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Torang Samua, Opa Oma, Ayah Bunda, Om Tanta, Papa Mama, Kakak dan Abang dan setiap orang yang berpikiran waras normal dan berwatak sosial berlandaskan Panca Sila.

Pak Polisi yang ada di mana-mana, seharusnya selalu membuka mata dan telinga dan juga intuisinya sebagai penegak hukum dan pengayom masyarakat yang sigap dan cergas. Segera bertindak menegakkan tertib hukum dan tertib bermasyarakat bila ada gejala menjurus ke sana. Termasuk soal sepele seperti mencopot / menghapus plakat atau stikker seperti  Narkoba No - Bahugel Yes dan sebangsanya. Di dash board mobil, di pagar tembok atau di tempat strategis lainnya yang sangat mencemari lingkungan serta meracuni sopan santun hidup bermasyarakat. Bukankah begitu?

Hayo para Kawanua! Sambil menari dan bernyanyi-nyanyi, mari kita memuji Tuhan sambil berkarya dan mengabdi sesuai bakat dan talenta masing-masing, membangun Tanah Minahasa dan Sulawesi Utara, membangun NKRI yang kita cintai ini. Buang kebiasaan buruk bagate sampe mabo, berjudi, sabung ayam, gampang cabu peda kong bakalae antar kampung, bahugel dsb. dst…

Awas HIV/AIDS !!!









Komentar