02 Jul 2014 07:25

Benang Merah Dialog Kadin dan Capres

 

Oleh :

 

Irwan Kartiwan

(Pengusaha)

 

DEBAT, dialog, kampanye, atau apapun namanya adalah bagian dari upaya meraih dukungan secara politis. Baik di ruang pemilihan kepala desa, legislatif, kepala daerah, hingga presiden.

Hal yang menarik ketika Kadin mengambil inisiatif dalam dialog dengan calon presiden dan wakil presiden 2014. Apakah Kadin sebagai organisasi dunia telah juga masuk ke ruang politik secara terbuka dalam domain ide prakarsa dialog? Atau Kadin justru sudah melangkah lebih maju, dengan menyiratkan secara santun bahwa "kesatuan, kebangsaan, keamanan dan sebagainya yang diteriakkan siapapun juga sebenarnya secara domain bertumpu pada pada satu pintu masuk". Tingkat kesejahteraan rakyat dan "kualitas perekonomian" yang domainnya ada di tangan pengusaha, mulai dari kaki lima hingga konglomerasi, yang mengelola mungkin lebih dari 75% tenaga kerja. Hal ini nampak ketika menyentuh ungkapan tingkat kesenjangan yang berpotensi resiko tinggi dalam dimensi kenegaraan.

Ada beberapa point pemikiran yang amat reformis dari calon presiden dan wakilnya dalam dialog ini yang amat sangat luar biasa (tidak perlu disebut nama nya karena tulisan ini bukan bagian dari kampanye,).

1. Statement  yang menyatakan pemerintah tidak bisa jalan tanpa pengusaha, dan pengusaha juga tidak bisa jalan tanpa pemerintah. Ini sebuah statement luar biasa dari personal yang mengenal baik realitas korelasi dua dunia nyata yang tak terpisahkan, dan menghormati realitas  kesetaraan. Dimana tanpa disadari pengusaha akhir-akhir ini termarginalkan oleh konotasi opini keburukannya, seakan musuh yang harus dihancurkan, khususnya yang berinteraksi dengan pemerintah.

2. Pernyataan yang menyatakan/menyiratkan bahwa sektor-sektor yang sudah berjalan normal (profitable) seyogyanya diserahkan kepada swasta. Karena justru negara dengan kekuatan APBN-nya(yang berasal dari pajak masyarakat) harus menangani sektor yang harus dibantu dengan subsidi, termasuk subsidi bunga bagi pengusaha kecil. Ini adalah pernyataan tekad sebuah aplikasi (yang meminta pengetahuan di luar jangkauan disiplin keilmuan yang dimiliki penggagasnya) dengan logika makro yang luar biasa.

3. Ini mungkin bagian lain yang perlu digarisbawahi bersama, perihal sinergisitas pengusaha kecil, menengah dan besar. Yang dalam dialog tersebut dikatakan wajib dipelihara kehidupannya. Karena itulah sebuah siklus benar, yang kecil menjadi menengah, yang menengah menjadi besar dan seterusnya.

Pertanyaannya adalah, apakah itu tanggung jawab Kadin, pengusaha besar atau siapa? Periode berpuluh tahun lalu imbauan, bahkan perintah melalui berbagai regulasi, menyiratkan tugas dan kewajiban ini kepada pengusaha secara berjenjang. Namun realitas tidak berjalan sebagaimana kita kehendaki. Mengapa? Mengapa tugas pemerintah hanya mengatur belaka, dan apakah regulasi pengaturannya sudah aplikatif dengan yang diucapkan dalam konteks kesetaraan seperti disebut pada point 2 di atas.

Perlu kita ketahui bahwa tidak ada 1 pun pengusaha, baik kecil, menengah, besar yang tidak memerlukan mitra usaha. Sekali lagi tidak ada satupun, tidak ada satu pun pengusaha tidak membutuhkan tenaga kerja.

Di sinilah pemerintah baru seyogyanya mengambil peran memelihara harmonisasi dalam menata piramida pengusaha kecil, menengah dan besar serta harmonisasi proporsional hubungan pekerja dengan pengusaha, dalam mempersiapkan tenaga kerja kompeten dan siap pakai, mengingat anggaran pendidikan yang cukup besar atau yang terbesar (20% APBN). Sehingga harmonisasi itu akan melahirkan iklim kondusif dalam meningkatkan ekonomi Indonesia secara dahsyat, yang merupakan tulang punggung kekuatan negara, pertahanan negara, dan wibawa Indonesia dalam pergaulan Internasional. Pasar bebas Asean sudah di depan mata, memarginalkan potensi produktif dalam negeri, akan menjadikan Indonesia negara konsumen yang bermuara pada kemiskinan, karena alir devisa keluar negeri akan semakin besar, mencintai produk dalam negeri adalah wujud nasionalisme anak bangsa, yang mencintai negerinya dengan membangun kekuatan ekonomi di atas kakinya sendiri.

Mungkin bisa dimulai dengan mengkonsumsi ayam goreng Pak Dul, dari pada ayam Goreng Mr George. Spirit kecil, dari 240 juta rakyat Indonesia, namun bermakna luar biasa besar bagi kekuatan ekonomi nasional. (***)









Komentar