01 Des 2017 09:58

Selamat Masa Raya “Pohon Terang“

Oleh: Pdt. David H. Tulaar

Hari Natal Yesus Kristus

Menurut tradisi, Gereja Roma mulai merayakan Natal pada 25 Desember sejak abad ke-4, tepatnya sejak tahun 336 sebagai pengganti perayaan hari kelahiran Sang Surya Tak Terkalahkan (dies natalis deus invicti) yang sudah lazim dirayakan dalam kekaisaran Romawi pada tanggal yang sama. Sejak Konstantin menjadi kaisar agama Kristen mulai mendapat tempat istimewa dalam kekaisaran Romawi, sekali pun masih bercampur-aduk dengan peribadatan Sol atau dewa matahari (lihat juga uraian Nothaft 2013:247-265).

Teks Maleakhi 4:2 dijadikan rujukan bahwa Kristus adalah “surya kebenaran“ dan oleh karena itu layaklah Ia mengantikan deus invicti. Teks lain yang juga mendukung adalah Yohanes 8:12 – “Akulah  terang dunia“ – yang didasarkan pada Yohanes 1:9 – “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia“ – turut berperan memenangkan Surya Kebenaran (Sol Iustitiae) atas Surya Tak Terkalahkan (Sol Invictus) (Rachman 2003:125; bdk. McGowan 2014:249 dst.).

Masa Raya Natal di GMIM

Di lingkungan GMIM masa raya Natal tidak terlepas dari kegiatan yang lama disebut ibadah “Pohon Terang,“ yaitu peribadatan menyongsong perayaan Natal. Entah sejak kapan tradisi ini dilakukan di Minahasa. Yang pasti, tradisi ini diambil alih dari kebiasaan orang Eropa, khususnya dari tradisi bangsa Germania, yang kemudian telah mengalami inkulturasi menjadi tradisi Kristiani yang dikaitan dengan perayaan Natal Yesus Kristus (Roessiger 2012).

Keteguhan Kristus diasosiasikan dengan pohon cemara yang adalah simbol daya hidup yang tak pernah pudar, simbol ketegaran serta keabadian, seperti halnya pohon ini tetap hijau bahkan di tengah musim dingin membeku sekali pun. Sementara semua dedauan hijau berubah menjadi coklat dan akhirnya gugur akibat suhu yang perlahan melapaui titik beku menurut peralihan musim, pohon cemara tetap hijau sepanjang waktu (evergreen).

Pada masa kolonial tradisi pohon Natal ini dibawa oleh orang Belanda ke Indonesia, termasuk ke Minahasa. Kendati asing bagi masyarakat yang tidak mengenal musim dingin, tradisi pohon Natal ini kini telah menjadi bagian dari tradisi lokal. Kini pohon Natal – walaupun sebagai besar adalah pohon plastik dan kertas – dijumpai di hampir setiap rumah warga jemaat GMIM pada masa raya Natal. [Kini pohon Natal yang dipajang di rumah-rumah bukan hanya berwarna hijau, yang menandakan keabadian (evergreen), melainkan sudah berwarna-warni; ada yang seluruhnya putih, bahkan ada pula yang merah. Mungkin dibutuhkan pemaknaan baru bagi warna-warna lain ini!]

Kehadiran Pohon Natal berhias lampu warna-warni dan hiasan lainnya juga merupakan ciri setiap ibadah “Pohon Terang.“ Ciri lain adalah lagu “Malam Kudus“ yang mengiringi pemasangan lilin secara bergiliran dan lagu “Muliakanlah“ yang biasanya dinyanyikan di akhir ibadah. Di tahun 1980-an di Minahasa, ibadah “Pohon Terang“ mulai menjadi acara komunitas Kristen di luar gereja.

Hampir setiap organisasi, perkumpulan maupun instansi yang di dalamnya ada umat Kristiani, mengadakan ibadah Pohon Terang. Salah satu ciri khas ibadah yang sudah bersifat komunal ini adalah unsur Pesan Natal yang biasanya diisi oleh kepala atau ketua organisasi, perkumpulan atau instansi yang bersangkutan tanpa memandang agama mereka. Pada masa itu Pesan Natal pada ibadah Pohon Terang komunal ini menjadi salah satu ciri toleransi antar umat beragama di daerah ini.

Sejak sekurangnya sepuluh hingga lima belas tahun terakhir ini ibadah Pohon Terang yang dilaksanakan di dalam wilayah pelayanan GMIM lebih cenderung disebut ibadah pra-Natal atau ibadah menyongsong Natal.

Sering kurang disadari bahwa dalam urutan kalender gerejawi, ibadah-ibadah Pohon Terang – atau yang telah disebut dengan nama lain ini – diadakan bertumpang tindih dengan perayaan Minggu-minggu Adven yang merupakan awal kalender gerejawi atau tahun gereja. Kebiasaan ini berakibat pada terjadinya tumpang tindih antara tema-tema perayaan Minggu-minggu Adven dengan tema-tema perayaan Natal Yesus Kristus. Namun kenyataan ini tidak terhindarkan lagi. Malahan, dengan tumpang tindih ini sebenarnya di lingkungan GMIM telah lahir satu tradisi baru yang tidak secara ketat membedakan Minggu-minggu Adven dari perayaan Natal itu sendiri.

Dan tradisi ini dapat disebut ciri khas GMIM. Karena itu tidak ada salahnya juga untuk menghidupkan kembali istilah Pohon Terang bagi semua peribadatan pra-Natal atau menyambut Natal di luar ibadah-ibadah pada empat hari Minggu Adven. Sehingga bagi GMIM, masa raya Natal yang diawali dengan hari Minggu Adven I dan berakhir pada hari Natal 25 dan 26 Desember  dapat pula disebut Masa Raya Pohon Terang.(***)

[Penulis adalah pendeta GMIM dan kini melayani sebagai pendeta jemaat di Jemaat GMIM Yesus Memberkati, Citraland, Manado, dan sebagai Koordinator Pelayanan Fungsional di Kota Manado.]

12








Komentar