13 Sep 2018 09:42
Latihan Lebih Intens, Rindu Keluarga Jadi Motivasi

Persiapan Susan Unggu Menuju Asian Para Games 2018

MyPassion
Suami dan anak Susan Unggu, menunjukkan medali yang pernah diraih oleh atlet difabel cabor atletik itu, Rabu (12/9). (Revliando Abdilah/MP)

Tanggal 6-13 Oktober mendatang, tiga atlet Sulut akan berjuang di ajang Asian Games 2018. Susan Unggu salah satunya. Susan yang sejak lahir tunanetra ini akan turun di nomor lari 100 dan 200 meter kategori T-11 putri. Persiapan matang sudah dia lakukan untuk membawa harum nama Indonesia.

Laporan, Revliando Abdilah

MANADOPOSTONLINE.COM — Windru Tulangow dilanda rindu berat. Sudah tujuh bulan dia ditinggal Susan, sang istri yang sementara mengikuti pelatihan nasional. Ditemui di kediamannya di Kelurahan Paal 4 Lingkungan 2, Kecamatan Tikala Baru, ayah satu anak ini mengaku bersyukur. “Dari Februari sudah dipanggil ikut Pelatnas,” katanya, ditemui kemarin sore.

Ayah satu anak ini tampak sibuk. Ternyata dia sementara mempersiapkan kiriman untuk istrinya yang berada di Pelatnas Solo. "Jadi ini akan kirim sepatu lari Susan. Karena kata dia, sepatu yang ada di sana, tidak nyaman. Lebih nyaman yang ini," ujar pria yang sehari-hari sebagai tukang pijit ini.

Rasa rindu, sangat terlihat jelas, manakala Susan meneleponnya di sela latihan sore kemarin. Dirinya tampak senang. "Jadi memang dari Februari sampai sekarang belum pulang. Karena memang sangat padat jadwal latihannya tahun ini. Jadi sudah sekira 7 bulan tidak bertemu," ungkap Windru yang masih terhubung dengan istrinya di handphone yang digenggamnya. "Jadi perasaan campur aduk. Kan sekarang sudah canggih, bisa pakai ponsel untuk saling mengabarkan keadaan," ungkapnya.

Tak lama berselang, dirinya membangunkan buah hati mereka yang ada di kamar. Denada Tulangow. Putri kecil berusia 3 tahun ini, sangat manis. Pun kalau Tuhan berkenan, sambung Windru, akan menjadi atlet lari seperti ibunya. "Dan puji Tuhan, Dena (sapaan putri mereka) terlahir normal. Karena ini bukan penyakit turunan. Kalau diperkenankan Tuhan, nantinya bercita-cita menjadi atlet lari juga seperti ibunya. Walaupun Susan tidak bisa melihat anaknya, tapi bersyukur, dengan mendengar suara langsung dapat mengobati rindunya," kata Windru.

Mereka bersyukur, walau berkekurangan, namun dapat berbakti bagi daerah dan bangsa. "Jadi dia termotivasi, walaupun punya kekurangan, kenapa kami tidak bisa? Dan buktinya puji Tuhan boleh berprestasi," ungkapnya sambil menunjukkan medali yang diraih istrinya. Dua diantaranya tahun 2012 dalam Poparnas Riau, medali emas. Tahun 2016 di Bandung dapat dua medali emas. Pun medali perak di Malaysia.

Susan pun mengalami rindu yang mendalam. Disampaikannya via telepon kemarin, rindu itu menjadi motovasi tersendiri baginya, di tengah konsentrasi pelatnas yang dia ikuti. "Jadi puji Tuhan, persiapan saat ini sangatlah baik. Kita sudah latihan setiap hari dan sudah berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik. Kemampuan saya sudah dikerahkan semuanya. Baik saat latihan sekarang, pun saat lomba nanti. Akan berusaha dan memberikan yang terbaik. Saya kembali lagi Tuhan yang menentukan," katanya yang saat itu sedang dalam bus menuju tempat latihan di Solo.

Dirinya bersykur dan bangga, di tengah kekurangan, diberi kesempatan membanggakan daerah dan bangsa. "Saya bersyukur dan senang, karena bisa dipercaya membawa nama Sulut. Sampai di tingkat Asia. Makanya ketika boleh sampai di sini, saya akan memberikan yang terbaik. Dalam latihan sampai lomba nanti. Saya berjanji akan memberikan terbaik dalam lomba nanti. Karena di Pelatnas memang latihannya lebih ketat. Sangat berbeda waktu latihan di Peparnas. Sekarang lebih intens. Karena lawannya dari negara lain," katanya.

"Sudah dari Februari ikut Pelatnas. Jadi perasaan saat ini campur aduk. Karena sudah sekira tujuh bulan pisah dengan suami dan anak. Kadang rindu sering muncul. Apalagi ketika selesai latihan dan dalam keadaan sendiri. Pasti kepikiran keluarga dan suka untuk pulang. Namun memang itu yang menjadi motivasi saya. Sudah sampai di sini, maka akan memberikan yang terbaik. Untuk keluarga dan masyarakat. Saya juga selalu titip pesan, untuk saling mendoakan," tukasnya.

Selain Susan, diketahui ada  dua atlet lain yang akan berpartisipasi. Ada nama Steven Sualang. Dia merupakan atlit renang, kategori tuna daksa. Juga Audy Ngangi, atlet tenis meja kursi roda, yang adalah penyandang tuna daksa.

Sekum KONI Sulut Tonny Kullit menuturkan, ketiganya mempunyai kans besar merebut medali. "Steven Sualang yang tuna daksa atau cacat kaki adalah atlet renang di nomor 50, 100 dan 200 meter dan Audi Ngangi juga tuna daksa, atlet cabang olahraga tenis meja kursi roda. Jadi mereka memang sudah berprestasi sejak lama. Contohnya Steven. Dia atlet peraih medali perak waktu Asian Para Games di Korea, lima tahun lalu. Diperkirakan tahun ini, akan memperoleh medali emas. Pun Susan yang adalah peraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional untuk kaum disabilitas yang setara PON," ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Kullit, dirinya optimis dan mengharapkan dukungan dari seluruh warga Sulut. "Memang saat ini mereka sudah mengikuti Pelatnas di Solo. Kans semua sama. Kami mengharapkan dapat meraih medali. Terganggu latihan, motivasi dan semangat mereka. Optimis ketiganya akan berprestasi. Juga pastinya yakin akan ada reward khusus dari pemerintah," tandasnya. (***)

Kirim Komentar