13 Sep 2018 14:13

Bawakan Orasi Ilmiah, Wantania Dikukuhkan Guru Besar

MyPassion
Unsrat Manado mengukuhkan seorang guru besar Dr dr John JE Wantania SpOG-K (ketujuh dari kiri). (dok Manado Post)

MANADOPOSTONLINE.COM---Unsrat Manado kembali mengukuhkan seorang guru besar di tahun 2018, di Auditorium Unsrat, belum lama ini. Dr dr John JE Wantania SpOG-K. Dr yang merupakan salah seorang Konsultan Fetomaternal, dari sekitar 200-an dokter subspesialis fetomaternal di Indonesia, ditetapkan dengan SK Menristek Dikti terhitung 1 Februari 2018 sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran Unsrat untuk bidang ilmu Obstetri & Ginekologi.

 

Rektor Universitas Sam Ratulangi Prof Dr Ir Ellen Joan Kumaat MSc DEA, bersama Majelis Guru Besar yang diketuai Prof Dr Ir Jeany Mandang MS dan Sekretaris Prof Dr Joyce Lapian SE MEc,  mengawali Sidang dengan agenda pembacaan surat keputusan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Unsrat dan pembacaan riwayat hidup oleh Wakil Dekan Fakultas Kedokteran. Dilanjutkan orasi ilmiah/pidato pengukuhan oleh Guru Besar baru.

 

Dokter yang sempat mendapatkan dua kali beasiswa Fellowship. Yaitu dari Koningen Wilhelmina Funds di Vrije Universiteit Medisch Centrum Amsterdam dan dari organisasi dokter spesialis kebidanan kandungan sedunia yaitu FIGO International Fellowship di Stellenbosch University / Tygerberg Hospital–Afrika Selatan ini, membawakan orasi ilmiah dengan judul “Peran faktor angiogenik dan problematika penggunaan biomarker: Tantangan dan Peluang dalam Kompleksitas masalah Preeklampsia”.

Menurut Wantania yang saat ini Ketua/Koordinator Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis-1 Obstetri Ginekologi ini, Preeklampsia-Eklampsia yang juga merupakan bagian Hipertensi dalam kehamilan sampai saat ini masih merupakan salah satu dari tiga penyebab tingginya angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) ibu dan bayi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. "Penyebab kematian maternal (ibu hamil dan melahirkan, red) masih didominasi Trias Klasik. Yaitu perdarahan dalam kehamilan & persalinan, hipertensi dalam kehamilan/pre-eklampsia-eklampsia, serta Infeksi dalam kehamilan-persalinan (termasuk abortus yang tidak aman), selain

Penyakit Jantung dalam kehamilan yang juga mulai menjadi masalah saat ini," urainya.
Dipaparkannya, data penelitian multisenter yang dipublikasikan tahun 2018 di kongres internasional RCOG, dari sejumlah provinsi di Indonesia diperkirakan angka kematian akibat preeklamsia (termasuk eklampsia) bisa mencapai 8.000 kematian maternal (ibu hamil & melahirkan, red) dari angka kelahiran yang hampir mencapai kisaran 5 juta per tahun. Dijelaskannya, pre-eklamsia terjadi karena kehamilan dan bisa berkembang pada ibu hamil yang tanpa ada riwayat hipertensi ataupun bersamaan dengan hipertensi yang sudah ada.

Banyak komplikasi berat yang bisa terjadi pada PE-E, baik secara sendiri - sendiri maupun bersama-sama, dengan derajat berat yang berbeda-beda dari ringan sampai sangat berat, ada yang bisa terjadi pada kehamilan aterm (cukup bulan, red). Namun ada juga yang bisa terjadi sejak pertengahan kehamilan. Ada yang perjalanannya lambat, namun ada yang perkembangannya cepat sekali. Komplikasi yang terjadi akibat gangguan/disfungsi endotel sistemik bisa berdampak pada banyak organ dengan akibat bisa terjadi edema paru, gagal jantung, gangguan fungsi hati, gagal ginjal bahkan stroke. "Dan terlepasnya retina pada mata ataupun kelainan pembekuan darah yang juga turut mempermudah terjadinya perdarahan," tambahnya.  

Lanjutnya, salah satu komplikasi berat yang bisa juga terjadi adalah eklampsia, yaitu kejang dan/atau koma. Sesuai pengertian kata eklampsia yaitu “halilintar”, kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba kapan saja, dan tidak harus dari kondisi preeklampsia yang sudah bergejala atau dengan penyulit yang sudah terlihat berat. Variasi eklampsia juga bisa dalam bentuk kejang saja yang kemudian segera membaik. Tetapi bisa juga langsung terjadi penurunan kesadaran (koma) yang progresif sampai kematian.

12
Kirim Komentar