06 Sep 2018 09:29
Libas Gelombang Panas dan Teken Surat `Mati`

Perjalanan Stephen Langitan, Solo Touring 27.400 KM Jakarta-London

MyPassion
Melintasi daerah konflik. (Dok. Stephen Langitan)

MANADOPOSTONLINE.COM– Stephen Langitan melakukan solo touring Jakarta-London.  Demi mengibarkan Merah-Putih menempuh jarak 27.400 Km dan melintasi Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Nepal, Pakistan, Iran, Turky, Yunani, Italia, Vatikan, Monako , Spanyol, Andorra, Prancis, Swiss, Austria, Jerman, Belanda, Belgia hingga kota London Inggris.

Beberapa negara yang dilintasi masih terlibat kontak senjata seperti Myanmar, Pakistan dan Iran.

“Dalam perjalanan ini tujuan saya agar memberikan semangat juang bagi anak muda. Mari kita buat sesuatu yang positif untuk membanggakan Indonesia,” katanya dalam perbincangan dengan JawaPos.com (Grup Manado Post), pekan lalu.

Minggu 25 Maret 2018, roda motor Versys-X 250 berkelir merah putih dengan bendera kecil di windshield mulai berputar menemaninya meninggalkan Jakarta untuk menempuh perjalanan berdurasi 140 hari menuju kota Ratu Elisabeth.

Steven berbagi pengalaman, saat ingin melakukan touring lintas negara ada beberapa dokumen yang wajib dikantungi bikers. Di antaranya yaitu Paspor, Visa dan Carnet de Passages en Douane yang masih awam untuk masyarakat umum

Carnet sebagai dokumen untuk kepabean untuk motor yang dibawa. Dokumen ini bisa diurus di Ikatan motor Indonesia (IMI) dengan biaya Rp 2 juta dan uang jaminan 20 persen sesuai harga barang.

Selain itu juga bikers harus menyiapkan uang untuk kepengurusan asuransi pada saat memasuki negara yang mewajibkannya seperti India, Pakistan, Iran dan Inggris. Biaya mengurus asuransi ini 15 dolar US.

Saat menunaikan solo touring ini, banyak cerita seru dan menegangkan disantap Stephen. Mulai dari keseruan menjajal jalanan mulus kota-kota di Singapura, Malaysia dan Thailand hingga akses sulit rider masuk negara Myanmar yang terpaksa harus dikawal oleh tentara bersenjata.Bahkan rider harus menandatangani surat pernyataan NOC (No Objection Cetificate) untuk menegaskan tak ada tuntutan dari negara atau keluarga jika terjadi sesuatu dalam perjalan, semisal tertembak.

“Jadi kalau lewat Myanmar karena kita tahu daerah itu sementara konflik maka setiap tamu harus dikawal tentara dengan bayaran mahal. Karena mahal, maka untuk para rider ada group Horizon Unlimited dimana rider mencari rider untuk masuk bersama-sama. Jadi di website-nya sudah ada jadwal rider yang mau masuk, jadi kita bisa janjian dan patungan untuk bayaran. Waktu itu, kita diminta perorang 800 dolar US untuk pengawalan selama 7 hari melintas,” kisahnya.

Negara lain yang juga perlu mendapat kawalan aparat keamanan adalah Pakistan karena masih rawan. Dan dua negara yang harus dihindari rider adalah Afganistan dan Sirya. Tapi karena rutenya harus melalui tepi kedua negara tersebut, ia tetap melintasinya.

12
Kirim Komentar