28 Agu 2018 08:29

Mengunjungi Kediaman Keluarga Aprilia dan Amasya Manganang

MyPassion
Akip Zambrud Manganang dan Suryati Lano memegang foto anak kedua mereka Aprilia Manganang. (Sriwani Adolong/Manado Post)

Akip Zambrud Manganang (55) dan Suryati Lano (57), orang tua kakak-beradik Aprilia Santini Manganang (26) dan Amasya Angraini Manganang (29) tak berhenti berdoa. Mereka menaruh harap pada perjuangan dua putrinya di kompetisi bergengsi Asian Games.

Laporan: Sriwani Adolong, Tahuna

RAUT tegang menyelimuti wajah Akip dan Suryati, tadi malam. Mereka sedang menyaksikan aksi Lia (Aprilia) dan Masya (Amasya) di babak kualifikasi Voli Putri Asian Games 2018 melawan Thailand, melalui layar kaca di kediaman mereka di Kelurahan Manente Kecamatan Tahuna. Sesekali keduanya memekik saat bola ada di tangan Lia. Berubah sorakan ketika Lia berhasil menyumbang poin.

Foto Lia saat berlaga di salah satu turnamen voli, berada di pelukan sang ibu selama pertandingan berlangsung. Meski matanya terus menatap layar televisi, Suryati mulai bercerita bagaimana kedua putrinya terjun ke dunia voli. Saat duduk di bangku SD, Aprilia yang akrab disapa Lia, selalu bermain bulu tangkis.

Namun ketika SMP dia terjun ke dunia voli. "Mereka berlatih setiap sore. Tak ada keinginan untuk melarang mereka berlatih, karena kami melihat itu merupakan hobi jadi dibiarkan yang ternyata saat ini membuat banyak orang kagum," cerita perempuan bertubuh subur ini.

Raut sedih sempat menyelimuti wajah keduanya, melihat hasil akhir pertandingan. Tim Indonesia takluk. Meski tim putrinya ditaklukkan tim Thailand namun wajah keduanya kembali berbahagia mengingat masih ada pertandingan di perempat final.

"Memang harus diakui tim Thailand cukup kuat. Namun kami tetap berbangga atas prestasi yang diraih sambil berdoa dan meminta dukungan masyarakat agar tim voli putri mendapat yang terbaik," kata Akip Zambrud yang saat itu juga  mendapat telepon dari keluarga yang ada di luar daerah.

Setiap hari keduanya selalu memberi semangat via telepon kepada Lia dan Masya. Pasutri ini berharap yang terbaik untuk kedua putrid mereka. "Setiap kali berbicara lewat telepon kami selalu beri semangat dan jangan lupa berdoa. Kami berharap pemerintah dan masyarakat Sangihe dan Sulut turut berbangga atas prestasi mereka," tutup Akip.

Lia saat ini merupakan Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang resmi bergabung beberapa tahun lalu. Saat dilantik menjadi Kowad, April berpangkat sebagai Serda (Sersan Dua).

Sebelum menjadi atlet ternama dan juga anggota TNI, Lia merupakan gadis kecil yang tangguh dan kerap membantu kedua orangtuanya. Menyadari bahwa lahir dari keluarga yang kurang berada, Lia bersedia membantu orang tuanya berjualan. Melansir dari Juara.net, April mengatakan bahwa ia saat kecil membantu ibunya berjualan pisang goreng. "Ketika kecil, saya sudah membantu Mama berjualan pisang goreng di sekitar rumah. Saya harus berjalan cukup jauh. Supaya dagangan cepat habis, saya menjual dengan harga semurah mungkin, misalnya 5 pisang goreng harganya Rp 1000," ungkap April.

Perempuan kelahiran 27 April 1992 ini juga menuturkan bahwa hobi olahraganya berawal dari kebiasaannya saat kecil. "Awalnya suka bermain basket dan voli di sekolah, hingga pernah mengikuti kejuaraan di kampung halaman. Imbalan yang saya dapat mulai dari ucapan terima kasih, mi instan hingga telur rebus," tukasnya. (***)

Kirim Komentar