17 Agu 2018 09:14

Kairagi Weru Belum `Merdeka`, 22 Tahun Gunakan Jembatan Bambu

MyPassion
Anak SMP pulang sekolah melewati jembatan gantung menuju Lingkungan V, Kelurahan Kairagi Weru. (Yolister karame/MP)

MANADOPOSTONLINE.COM — Indonesia telah merdeka sejak 73 tahun silam. Tapi, Lingkungan V, Kelurahan Kairagi Weru, Kecamatan Paal Dua, sepertinya belum ‘merdeka’. Pasalnya, sudah 22 tahun warga menyeberang sungai hanya menggunakan jembatan gantung dari bambu. Hal ini dikatakan Tobias Suawa, warga setempat, kemarin.

Dia membeberkan, jumlah penduduk yang tinggal di lingkungan V sekira 100 kepala keluarga (KK). Setiap hari, warga beraktivitas dengan melewati jembatan bambu tersebut. “Baik ke pasar maupun anak-anak ke sekolah harus melewati jembatan ini,” katanya.

Menurut dia, di lingkungan V sebenarnya sudah ada jalan untuk kendaraan roda dua maupun empat. Tapi jalannya harus memutar sekira satu kilometer baru sampai ke jalan utama. “Karena itu, warga di sini lebih memilih melewati jembatan gantung karena jaraknya dekat ke jalan utama,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, dulu warga lingkungan V menggunakan perahu untuk melewati sungai Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano ini. Tapi pada 1996, kepala lingkungan bersama masyarakat berinisiatif membangun jembatan gantung. “Jembatan tersebut terus digunakan sampai sekarang,” katanya.

Dia berharap, di HUT ke-73 RI, pemerintah dapat menggantinya dengan jembatan permanen. “Katanya pala sudah usulkan ke pemerintah kota untuk pembangunan jalan, tetapi belum terealisasi sampai sekarang,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Kota (Sekkot) Manado Peter Assa mengatakan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sudah membuat perencanaan jembatan tersebut tahun ini. “Tapi untuk pembangunannya, nanti akan dilihat di 2019. Kalau APBD mencukupi kita akan bangun 2019. Tapi intinya kami akan melihat ketersediaan anggaran dulu,” pungkasnya.

Dari pantauan Koran ini, jembatan gantung tersebut terbuat dari bambu yang sudah tua. Tiang jembatan juga dari bambu. Warga harus super hati-hati ketika lewat. Kalau tidak, bisah jatuh ke sungai dengan ketinggian sekira tujuh meter. (ite/can)

 

Kirim Komentar