10 Agu 2018 09:41

Jokowi vs Prabowo Part II, Ma`ruf-Sandiaga Kartu As

MyPassion

JAKARTA—Teka-teki siapa ‘kartu As’ Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto untuk pilpres 2019 terjawab sudah. Keduanya sudah mendeklarasikan calon wakil presiden (cawapres) masing-masing, kemarin (9/8). Jokowi memilih tokoh ulama, Ketua MUI KH Ma’ruf Amin. Sedangkan Prabowo lebih mimilih kadernya sendiri, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Ma’ruf cukup terkejut ketika dia ditelepon Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. "Dia tanya, mau nggak saya jadi cawapres alternatif," tutur Ma'ruf di kantor PBNU beberapa jam setelah namanya diumumkan Jokowi sebagai cawapresnya kemarin malam (9/8).

Seharian itu Ma'ruf mengaku tidak ikut-ikutan hiruk pikuk pemilihan cawapres. Dengan Jokowi pun, Ma'ruf mengaku sebelumnya tidak penah sekalipun membahas soal pilpres. "Ya diskusi saja, nyambung gitu, akur," tuturnya.

Tapi pria kelahiran Tangerang, 11 Maret 1943 ini mengaku sudah memiliki firasat dan membaca tanda-tandanya. Beberapa orang terdekat juga sempat berbisik-bisik bahwa ada kemungkinan pilihan Jokowi jatuh padanya. Tapi karena nama-nama calon cawapres Jokowi ada 10, maka Ma'ruf tidak pernah memikirkannya.

Tapi ketika ditanya Pratikno lewat telepon maghrib itu, Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini langsung mengiyakan. "Ini panggilan negara, seorang ulama itu idza ihtaja, fa'a. Kalau dibutuhkan ya harus bermanfaat," tutur Ma'ruf.

Sementara menjelang pukul 19.00 WIB, kemeriahan pecah di ruangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj lantai 3 Kantor PBNU di Kramat Raya, Jakarta Pusat saat Jokowi secara live mengumumkan pilihan cawapresnya. Suara takbir dan hamdalah menggema, diikuti doa yang dipimpin Said Aqil.

Keputusan Jokowi memilih Ma'ruf dia anggap sebagai penghargaan terhadap ulama dan umat islam. "Jadi NU seharusnya mendukung beliau atas penghargaan ini," ujar Said Aqil.

Jika nanti terpilih menjadi wapres, paling tidak, Ma’ruf wajib membantu Jokowi setidaknya dalam empat aspek. Yang pertama adalah menjaga keutuhan bangsa dan negara dalam bingkai pancasila.

Apalagi, situasi terakhir menunjukkan bangsa Indonesia tengah dirongrong ideologi-ideologi yang ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan mempermaikan isu-isu SARA dan menebarkan perpecahan. "Negara ini harus kita jaga dengan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah," katanya.

Yang kedua adalah aspek keamanan. Banyak negara di dunia, kata Ma'ruf, yang selalu terlibat konflik sehingga tidak bisa memanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah. "Kalau negara tidak aman, tidak bisa kita melakukan pembangunan," katanya.

Yang ketiga adalah aspek ekonomi. Konsep ekonomi harus berubah menjadi ekonomi keumatan. Ma'ruf menamakan cita-citanya dengan "Arus Baru Ekonomi Indonesia". Prinsipnya adalah menguatkan usaha-usaha kecil. Diantaranya dengan redistribusi aset dan kemitraan. "Karena arus ekonomi yang lama itu melahirkan konglomerat," katanya.

12
Kirim Komentar