18 Jul 2018 12:44

TGB Pasrah Dipilih ataupun Tidak, Cawapres Jokowi Diumumkan Last Minute

MyPassion
TGB M. Zainul Majdi (Istimewa)

MANADOPOSTONLINE.COM — Harapan untuk segera mengetahui pendamping Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Umum Presiden 2019 tampaknya harus dipendam. Istana mengisyaratkan bahwa sosok tersebut ditetapkan pada detik-detik akhir penutupan pendaftaran.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, meski sudah ada nama-nama yang mengerucut, masih ada tahapan yang harus dilalui. ”Karena jadwal pendaftaran 4–10 Agustus, saya meyakini nama itu muncul di hari akhir. Hal itu sudah jadi fatsun politik,” ujarnya di kantor Sekretariat Negara, Jakarta, kemarin (17/7) dilansir dari Jawa Pos (Manado Post grup).

Pram menambahkan, presiden masih perlu berkomunikasi dengan ketua umum partai-partai pendukung untuk mendiskusikan nama-nama cawapres yang sudah ”dikantongi”. Menurut dia, nama cawapres yang dipilih diharapkan tidak mengurangi elektabilitas Jokowi. ”Sekarang ini relatif popularitas Jokowi sangat tinggi. Dengan demikian, nama (cawapres, Red) itu menjadi komplementer,” imbuhnya.

Salah satu nama yang pernah disebut adalah TGB M. Zainul Majdi. Kemarin gubernur Nusa Tenggara Barat itu menyatakan bersyukur disebut sebagai salah satu cawapres pendamping Jokowi. ”Kalau disebut dalam konteks yang baik, ya perlu disyukuri,” terang dia saat berkunjung ke redaksi Jawa Pos.

TGB menyadari bahwa dirinya bukanlah tokoh partai dan tidak punya pengaruh di partai mana pun. Menurut dia, masih banyak tokoh yang mempresentasikan organisasi besar untuk menjadi cawapres. ”Tapi, penentuan cawapres itu bergantung capresnya. Tentu, capres akan berdiskusi dengan partai koalisi dalam memilih pendampingnya,” ujarnya.

Gubernur NTB dua periode itu juga mengatakan sudah mendatangi sejumlah tokoh. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, TGB menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu membangun NTB selama dirinya menjadi gubernur. ”Belum ada pembicaraan khusus terkait capres-cawapres,” katanya. Ke depan, dia juga ingin bersilaturahmi dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun, waktunya belum dijadwalkan. ”Silaturahmi merupakan sarana pembelajaran,” tuturnya.

Jika nanti tidak dipilih sebagai cawapres, TGB mengaku pasrah. Menurut dia, masih banyak lahan untuk mengabdi dan berkontribusi bagi Indonesia. Baik di struktural maupun kultural. ”Semua itu lahan kerja dan pengabdian,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan bertemu dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto hari ini. Pertemuan dua pucuk pimpinan partai itu diharapkan bisa memunculkan keputusan penting, termasuk soal koalisi. ”Insya Allah, kan bagus kalau berkoalisi,” kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan di gedung parlemen kemarin.

Menurut Syarief, pertemuan SBY dengan Prabowo akan membahas banyak hal. Di antaranya, menyamakan pandangan soal program kerja lima tahun ke depan sebelum memutuskan adanya koalisi. Politikus kelahiran Sulawesi Selatan itu optimistis kedua partai bisa menjalin koalisi dalam pilpres mendatang. ”Kemungkinan besar,” katanya.

Syarief menambahkan, salah satu fokus Demokrat adalah peningkatan sektor ekonomi. Partai Demokrat menargetkan pentingnya peningkatan kesejahteraan rakyat untuk kepemimpinan pasca 2019. ”Kalau yang sekarang kan nggak pernah naik dari angka 5 persen. Kita menginginkan pertumbuhan ekonomi betul-betul bagus supaya rakyat menikmati pembangunan. Itu yang esensial dari koalisi,” ujarnya. (gnr)

Kirim Komentar