18 Jul 2018 15:26

Rokok Masuk Pengeluaran Terbesar Rumah Tangga Miskin

MyPassion
Ilustrasi.(dok)

MANADOPOSTONLINE.COM—Konsumsi rokok ternyata cukup tinggi. Ironisnya, tingginya angka konsumsi rokok terdapat pada keluarga di kalangan masyarakat miskin. Bahkan jadi nomor dua terbesar setelah beras. “Ini merupakan pengeluaran terbesar kedua setelah beras atau mencapai 11 persen dari total pengeluaran rumah tangga miskin,” ujar Chief of Communications and Partnership, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Ruddy Gobel dilansir liputan6.com.

 

Gobel mengatakan, pengeluaran masyarakat miskin untuk rokok yang sedemikian besar bahkan mengalahkan pengeluaran makanan bergizi seperti telur, pendidikan anak, dan kesehatan. Kondisi ini, menurutnya akan menyebabkan masyarakat miskin tetap berada dalam siklus kemiskinan dari generasi ke generasi. “Untuk itu kami meminta pemerintah untuk menaikkan harga rokok setinggi mungkin sebagai salah satu langkah konkret untuk mengurangi konsumsi rokok di kalangan masyarakat miskin,” sebut dia.

Jadi, lanjutnya, pengeluarannya dapat dialihkan untuk konsumsi makanan bergizi, biaya pendidikan dan kesehatan yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan. “Gobel melanjutkan, dengan menaikkan harga rokok secara signifikan, diharapkan tingkat konsumsi rokok terhadap masyarakat miskin akan berkurang,” ucap dia.

Menurut Gobel, jika kenaikan sekadar naik dalam batas yang tidak terlalu besar itu barangkali tetap akan dibeli. “Tetapi kalau dalam jumlah yang signifikan bahkan sampai naik 100 persen itu bisa membuat masyarakat miskin itu berpikir dan beralih kebutuhannya untuk kebutuhan lain,” kata Ruddy. “Ya kalau dari pandangan kami, semakin besar kenaikannya maka dampaknya terhadap keengganan untuk mengonsusmsi rokok itu semakin besar. Tinggal tergantung keputusan pemerintah aja ya dikaji dari berbagai aspek,” kata dia.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil survei Komnas Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), 66 persen dari 404 responden perokok akan berhenti membeli rokok apabila harga rokok naik menjadi Rp 60 ribu per bungkus. Sementara, 74 persen dari 404 responden perokok mengatakan akan berhenti merokok apabila rokok naik menjadi Rp 70 ribu per bungkus. (fgn)

Kirim Komentar