13 Jul 2018 08:37
Harga Kopra Terjun Bebas, Cengkih Produksi Sedikit

Pengucapan, Besar Pasak daripada Tiang

MyPassion

MANADO—Harga kopra terjun bebas, stok menumpuk.  Harga cengkih lumayan, tapi produksinya sedikit. Namun antusias warga Minahasa berpengucapan syukur jangan ditanya. Jutaan rupiah dirogoh dari kocek masing-masing keluarga untuk persiapan menyambut tamu.

 

Ini yang menjadi polemik, menurut Jacky Sumarauw, ekonom Sulut. Pengucapan syukur katanya, identik dengan panen raya komoditas unggulan Sulut, yakni cengkih dan kopra. Namun pengucapan kali ini jadi ‘menyimpang’ karena sebagian besar petani mengalami gagal panen. Bahkan  produksi menurun.

“Bukan hanya itu saja, harga komoditas ini juga turun. Kopra saja harganya jatuh. Sementara cengkih yang menjadi andalan Minahasa memang masih terbilang cukup harganya. Namun kembali ke produksinya, di beberapa tempat bahkan kurang,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut akademisi FEB Unsrat ini, karena hasil panen dan harga yang tidak sesuai, akhirnya menyambut pengucapan syukur, tabungan warga yang disimpan untuk kebutuhan lain terkuras.

“Hal ini akhirnya menjadi tidak tepat sasaran.  Masyarakat terjebak pada pola hidup konsumtif. Saat bukan pengucapan syukur hidup hemat setengah mati. Namun pada saat pengucapan syukur hal sebaliknya terjadi. Memang harus diakui bulan seperti ini perputaran uang cukup tinggi. Tapi saya pesimis hal ini akan berlangsung setelah pengucapan syukur,” bebernya.

Dia berharap, masyarakat lebih jeli menggunakan dan memanfaatkan uang. “Jangan terjebak pada pesta pora, akhirnya pada saat pengucapan yang terjadi besar pasak daripada tiang. Akhirnya setelah pengucapan dihantui dengan utang sana-sini. Bijaklah menggunakan uang, gunakan pada kebutuhan dan bukan keinginan,” katanya.

Sebenarnya, lanjut dia, program pemerintah untuk berpengucapan syukur tujuannya baik. Selain untuk meningkatkan keimanan, juga jadi daya tarik wisata karena budaya masyarakat ini sudah dilakukan sejak lama.

“Saya bukan tidak setuju. Ini bagus tetapi tujuannya bukan untuk pesta pora. Sekarang orang jor-joran, berusaha menyiapkan segala sesuatunya. Malu kalau tidak siap. Akhirnya terjadi pemborosan dana. Selain itu mungkin juga makanan banyak yang mubazir, karena sudah bersiap namun tamu yang diharapkan tidak jadi datang,” tukasnya.

Di tempat lain, Kepala Dinas Perkebunan Sulut Refly Ngantung mengungkapkan, pola hidup konsumtif masyarakat mempengaruhi pilihan petani berkebun.

12
Kirim Komentar