13 Jul 2018 09:33
Berdinding Kayu dan Bambu, Menpora Janji Renovasi

Melihat Kediaman Zohri, Sprinter Pertama Indonesia Jadi Juara Dunia

MyPassion
Kakak kandung Lalu Muhammad Zohri, Fazilah merapikan tempat tidur yang dulu merupakan tempat tidur Zohri sewaktu SMP di rumah orang tuanya di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Barat, Kamis (12/7). (Harli/Lombok Post/JPG)

Lalu Muhammad Zohri menghebohkan dunia atletik dunia dan tanah air. Dia sprinter pertama Indonesia yang mencicipi gelar juara dunia. Perjuangan Zohri dimulai dari rumah reot di Dusun Karang Pangsor, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara.

 

PRESTASI Zohri di Kejuaraan Dunia U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia, langsung booming di Lombok. Lombok Post (grup Manado Post), langsung menelusuri keberadaan keluarga sprinter itu di Dusun Karang Pangsor, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Salah satu warga dusun itu mengantarkan ke rumahnya. ”Ini rumahnya,” tunjuk dia.

Rumah yang hanya berdinding kayu itu hanya dijaga karib Zohri, Zuliadi. Teman semasa kecil Zohri itu mengambil kunci rumah peninggalan almarhum orang tua. ”Rumah ini saya yang menjaganya. Kakak Zohri sibuk kerja di Gili Trawangan. Kalau Zohri pulang, istirahatnya di sini,” kata Zuliadi. ”Sebentar saya ambilkan kunci dulu. Silahkan masuk,” lanjutnya.

Rumah tersebut memiliki panjang 7x4 meter. Hanya disanggakan kayu balok. Ruang tamu dan ruang tidur hanya disekat papan. Di ruang tamu, tampak beberapa perabotan dapur milik almarhum ibunya, Saeriah. Perabotan itu ditutup menggunakan kardus.

Di kamar tidur, beberapa alat pertanian milik almarhum ayahnya, L Ahmad tersimpan rapi di bawah dipan kasur Zohri yang telah lapuk. Tempat tidurnya, tak ada kasur empuk. Dipan itu hanya beralaskan tikar lusuh dan selimut. Dinding kamar yang terbuat dari anyaman bambu ditempeli koran-koran bekas. Alas dan sekat lemari patah.

Kendati hidup miskin, Zohri tak pernah mengeluh. Bahkan, dia merasa nyaman dengan tempat tidur yang sederhana. “Dulu, kalau dia (Zohri, Red) malas sekolah selalu dicari gurunya. Kalau dicari pasti dia sedang tidur ditempat tidur ini,” bebernya.  

Zohri hidup dengan keterbatasan. Kakak pertamanya, Fadilah rela bekerja keras untuk menyekolahkan Zohri. ”Saya dan adik nomor dua, bertekad untuk terus menyekolahkan Zohri,” kata Fadilah.

Semasa sekolah, Zohri sangat pemalas. Dia sulit bangun pagi. ”Tiap pagi, saya selalu capek membangunkannya. Kalau tidak ada uang saku, dia tidak ingin sekolah,” ujarnya.

Sehingga, beberapa kali dia harus dicari gurunya ke rumah. Namun, setiap gurunya ke rumah, pasti Zohri ditemukan dalam keadaan tidur. “Disinilah, dia tidur kalau dicari sama gurunya,” kata Fadila sambil merapikan dipan tempat tidurnya.

2015 menjadi tahun yang sangat menyedihkan bagi anak bungsu dari tiga bersaudara itu. Ibunda tercintanya, Saeriah meninggal dunia karena penyakit tifus. “Saya diberikan tanggung jawab sama almarhum ibu untuk menjaga dan menyekolahkan Zohri,” ujarnya.

Setelah, ibunya meninggal, pria yang akrab disapa “Badok” di desanya itu mulai berubah. Tiap azan subuh dia bangun sendiri. ”Saya tidak lelah lagi membangunkannya. Sekolahnya lebih rajin juga,” kata dia.

Sebelum ayahnya meninggal pada 2016, guru olahraganya di SMP 1 Pemenang, Rosida pernah datang ke rumah. Dia meminta izin kepada bapaknya untuk mendorong Zohri ikut olahraga atletik. ”Kalau dulu, Zohri ini hobinya bermain bola. Namun setelah mendengar ceramah almarhum bapak, dia ingin terjun mengikuti olahraga atletik,” ujarnya.

Setiap selesai salat subuh, dia selalu menyempatkan diri berlari ke bangsal. Larinya tanpa menggunakan sepatu. ”Setelah lari baru dia mandi dan berangkat ke sekolah,” ingatnya.

Dari situ, Fadilah melihat, semangat Zohri untuk menekuni olahraga atletik. Setiap hari, kerjaannya hanya berlari. ”Sebelum  dan sepulang sekolah dia berlari tanpa menggunakan sepatu,” ungkapnya.

Pada 2016, Zohri meminta izin untuk mengikuti kejuaraan atletik antar pelajar tingkat kabupaten/kota di Mataram. Sebelum mengikuti kejuaraan, dia meminta uang ke Fadilah untuk membeli sepatu.

Sayangnya, saat itu, kakaknya tidak memiliki cukup uang untuk membelikannya sepatu. ”Dia minta waktu itu Rp 400 ribu. Tapi, satu sen pun uang saya saat itu tidak ada,” ujarnya.

Syukurnya, guru olahraganya, Rosida yang memberikannya sepatu untuk mengikuti kejuaraan itu. ”Ibu Rosida memiliki jasa yang besar terhadap Zohri,” kata dia.

Dia mendengar kabar kalau Zohri meraih juara satu di kejuaraan itu. Lalu, dia diminta untuk masuk ke Pemusatan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB.

12
Kirim Komentar