12 Jul 2018 12:31

Rentenir Berkedok KSP Masih Berkeliaran, Masyarakat Sulut Perlu Diedukasi

MyPassion
Happy Korah

 

MANADOPOSTONLINE.COM—Koperasi Simpan Pinjam (KSP) disalahgunakan. Program yang harusnya menjadi jalan keluar permasalahan financial kini digunakan oknum rentenir dengan kedok koperasi. Warning pun diberikan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Happy Korah. Dia berujar, oknum rentenir dengan kedok KSP kian marak. “Mereka bukanlah bagian dari koperasi yang sesungguhnya. Hati-hati karena tentu ini akan sangat merugikan masyarakat,” ungkap Korah.

Untuk mengantisipasi, pihaknya gencar melaksanakan bimbingan teknis kepada koperasi aktif guna mengedukasi bagaimana seharusnya koperasi itu. “Lewat bimtek pula sudah kami sampaikan  agar diteruskan kepada masyarakat luas untuk jangan terjebak dengan bujukan atas nama koperasi,” ujar dia.

Prinsip dan sistem perkoperasian, lanjutnya, bukanlah seperti rentenir. “Kalau koperasi, mereka diam di tempat, anggotanya yang bergerak berusaha. Masa koperasi jalan-jalan, datang bawa uang, bukan koperasi namanya,” dia menegaskan.

Ke depan Korah melanjutkan, akan berkoordinasi dengan semua pihak termasuk penegak hukum untuk menertibkan rentenir yang berkedok koperasi. Karena sangat meresahkan masyarakat. “Karena bahaya sekali itu, imbasnya tentu ke masyarakat, akan kami koordinasikan secepatnya,” pungkasnya.

Ekonom Sulut Jacky Sumarauw menilai, pemerintah perlu memperhatikan dan mengantisipasi maraknya rentenir dengan kedok KSP ini. “Masalahnya menjamur dimana-mana. Dari segi nama merupakan KSP namun pada kenyataannya bertentangan dengan kegiatan koperasi,” ungkapnya.

Hal ini memang mempermudah masyarakat dalam mendapatkan dana secara cepat. “Karena susah pinjaman ke bank akhirnya masyarakat memilih KSP, karena syaratnya mudah dan bisa langsung dapat dana yang dibutuhkan,” ujarnya. Menurut akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) ini, sistem bunga yang ditetapkan KSP sangat tinggi. Namun masyarakat tidak merasakannya sebab ada yang pembayaran per minggu, per bulan, bahkan per hari. “Ini tentu alternatif masyarakat karena selain cepat, ada pilihan pembayarannya tidak memiliki syarat yang macam-macam. Justru kadang-kadang tanpa agunan, tanpa syarat bisa,” ujar dia.

Dia pun mengimbau, pemerintah memperhatikan keberadaan rentenir yang berkedok KSP ini. “Perlu dipikirkan cara lagi untuk masyarakat dalam mengakses perbankan dan industri keuangan lainnya. Edukasi dan sosialisasi penting tetapi juga kebijakan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat juga tak kalah penting. Kalau pemerintah merasa rentenir yang berkedok KSP meresahkan, tentu perlu diambil tindakan,” tandasnya. (tr-05/fgn)

Kirim Komentar