12 Jul 2018 15:28
Tiga Minggu dalam Gua, Bobot Susut 2 Kilogram

Mental Kuat Berkat Meditasi, Tak Butuh Obat Antistress

MyPassion
SELAMAT: Anggota tim sepak bola 'Wild Boars' dirawat di sebuah rumah sakit di Chiang Rai, Rabu (11/7). (AFP PHOTO/Thai Government PRD & Government Spokesman Bureau)

CHIANG RAI—Kekaguman demi kekaguman terus mencuat dari kisah penyelamatan 12 bocah anggota tim sepakbola Moo Pa bersama satu asisten pelatih mereka. Daya survival yang luar biasa membuat mereka bisa bertahan hidup meski terjebak hampir tiga minggu di dalam Gua Tham Luang.

Kemarin (11/7), tim dokter menyampaikan hasil evaluasi medis terhadap 13 survivor itu. Somroeng Sikaew, medical vice director Chiang Rai Hospital, mengatakan, meski masih membutuhkan perawatan, namun kondisi 13 orang itu cukup baik. "Hanya, rata-rata bobot tubuh mereka susut dua kilogram," ujarnya saat konferensi pers di Chiang Rai Hospital kemarin.

Ditanya lebih lanjut terkait bagaimana mereka bisa bertahan hidup tanpa makanan selama berhari-hari di dalam gua, Somroeng mengaku belum bisa memberikan penjelasan detil. Yang jelas, kata dia, di dalam gua itu tidak ada yang bisa dimakan. "Hanya ada air bersih yang menetes dari sela-sela gua, itu saja," katanya.

Karena itulah, tim medis memberikan asupan makanan berprotein tinggi sebagai bagian dari perawatan. Menurut dia, anak-anak itu juga sudah mulai mengonsumsi makanan seperti roti cokelat maupun nasi. Namun, agar perut kosong mereka bisa beradaptasi, untuk sementara tidak diberikan makanan yang berbumbu kuat atau pedas.

Somroeng menyebut, pada beberapa anak ditemukan gejala pneumonia, suhu tubuh yang rendah, serta detak jantung yang rendah. Selain itu, tingkat sel darah putih mereka juga tinggi yang merupakan indikasi adanya infeksi. "Setelah diberi antibiotik, kondisinya kini sudah membaik," ucapnya.

Kemarin, tim medis masih melakukan beberapa tes untuk mata maupun psikologis. Terjebak selama tiga minggu di dalam gua yang gelap gulita membuat mata anak-anak itu sensitif terhadap cahaya. Karena itu, di rumah sakit, mereka diminta mengenakan kaca mata hitam agar syaraf-syaraf mata mereka bisa beradaptasi dengan cahaya.

Yang menarik, kata Somroeng, setelah melalui serangkaian tes psikologi, tim medis tak menemukan adanya indikasi stress pada 12 anak adan satu asisten pelatih itu. "Ini sangat mengagumkan," ujarnya.

Menurut Somroeng, tidak adanya indikasi stress menunjukkan bahwa 13 orang bisa saling menjaga dan saling menguatkan selama terjebak berhari-hari di dalam gua. Dalam kondisi antara hidup dan mati semacam itu, biasanya muncul keputusasaan kronis. "Tapi nyatanya mereka tidak stress, jadi mereka tidak perlu obat antistress," katanya.

Menurut beberapa informasi dari keluarga korban, kesabaran dan ketenangan anak-anak itu kemungkinan hadir berkat ilmu meditasi yang diajarkan oleh asisten pelatih mereka. Seperti diketahui, Ekkapol sebelumnya adalah seorang biksu Budha yang sudah ditempa dengan beragam ilmu meditasi.

Sementara itu, stress justru melanda para orang tua dan keluarga dari anak-anak itu. Menurut Somroeng, tim medis terus memberikan bimbingan psikologis saat mendampingi keluarga. "Kami membantu meredakan stress para keluarga. Kami menyediakan ruangan khusus untuk mereka di rumah sakit," jelasnya.

Hingga kemarin, para orang tua memang belum bisa bertemu langsung dengan anak-anak mereka. Sebab, anak-anak itu masih dikarantina untuk evaluasi menyeluruh terkait potensi adanya infeksi yang bisa menular. Mereka bisa bertemu dan melihat anak-anaknya, namun dibatasi oleh ruangan kaca. "Kami ingin memastikan semuanya benar-benar aman," ucapnya.

Menurut Somroeng, dibutuhkan setidaknya 7 hari perawatan intensif di rumah sakit sebelum anak-anak itu bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. "Setelah nanti mereka pulang, tim medis akan terus memantau selama 7 hari di rumah mereka," ujarnya.(*/tan)

Kirim Komentar