12 Jul 2018 11:09

Hati-hati Bercanda di Medsos

MyPassion
Ilustrasi.(dok)

MANADOPOSTONLINE.COM—Niat membuat candaan lewat video di media sosial, MT (15) seorang gadis asal Sonder tiba-tiba viral di dunia maya akibat janji mengelilingi kampungnya tanpa busana jika Belgia kalah melawan Prancis. Apesnya, Belgia benar-benar kalah atas Prancis yang berujung pada derasnya bully yang diarahkan ke MT di media sosial.

Akademisi Sulut Dr Valentino Lumowa menuturkan, terlepas dari semua lelucon dunia maya dan nasehat kepatutan yang mengikuti video ini, nyatanya MT sudah viral dan menarik perhatian publik. “Jika ini tujuannya, maka video ini telah mencapai tujuannya. Namun ada beberapa hal serius di balik fenomenon ini. Pertama, revolusi konsep ruang. Dalam dunia sosial politis, ruang dikategorisasi dalam ranah publik dan privat. Walau sering kabur, kategori ini tetap mempunyai garis besar konseptual yang membedakan kedua ranah itu,” jelas dosen di Unika Della Sale Manado ini.

Problemnya kata doktor filsafat ini, kategorisasi ini tidak berlaku di dunia maya. Internet merupakan jaringan universal yang menggabungkan setiap komputer individual. “Jadi, konsep individu melebur dalam jaringan publik, dan sebaliknya. Konsekuensinya, individu dalam video yang viral itu kehilangan orientasi ruang pribadi. Ia dengan sengaja mempublikan ruang privatnya melalui internet. Memang, internet mewadahi disorientasi ini,” kata dia.

Kedua lanjutnya, revolusi konsep otoritas. Dalam dunia riil katanya, otoritas mewujud dalam negara dan pemerintah. Sebaliknya, otoritas menjadi semu dalam dunia maya. Siapa yang mengatur? Individu itu sendiri. Semua elemen eksternal merupakan antithesis keluasan dan prinsip tanpa batas internet.

“Dalam kasus video itu, sang individu adalah pemegang otoritas. Ia yang memutuskan status video itu, publik atau privat. Ia memilih publik. Dalam hal ini, ia mengalami disorientasi wewenang. Rupanya wewenang itu terlalu berlebihan untuknya sehingga ia tak mampu mengambil keputusan yang lurus,” bebernya.

Ketiga, egosentrisme dan ketenaran semu. Menurut Lomowa, internet memang senantiasa menggoda kita untuk menggadaikan privasi demi publikasi. Internet menawarkan popularitas semu dan instan. Viralnya video itu membawa ketenaran semu dan instan bagi si individu.

“Justru karena wewenang utama ada di tangan individu, ia seharusnya memikirkan publikasi video tersebut secara serius. Pemerintah bisa mengintervensi melalui regulasi. Namun, yang paling penting adalah kedewasaan individu sebagai subjek moral, sosial, politik (self-government). Karena itu, literasi dan edukasi tentang internet dan hakekat kebebasan individu dalam struktur demokrasi sangat penting,” tukasnya.

Sementara itu, menurut psikolog Hannah Monareh MPsi, respon melalui bully terhadap MT berpotensi menimbulkan masalah baru khususnya di mental. “Bully bukanlah hal yang akan membuatnya menjadi lebih baik. Lingkungan yang mengejek, menghakiminya dapat menimbulkan masalah lain dalam dirinya, seperti trauma atau pun respon negatif lainnya melakukan hal negatif lainnya sebagai bentuk kekecewaan,” ujar Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Sulawesi Utara ini.

Lanjutnya, MT tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Faktor keluarga dan lingkungan pun memiliki andil besar. “Dalam hal ini, anak remaja tersebut tidak sepenuhnya bersalah. Faktor keluarga, lingkungan sangat mempengaruhi perilakunya,” ungkapnya.

Menurutnya juga, remaja di usia 15 tahun berada di fase senang bereksperimen. “Di usia ini seseorang mulai mencari identitas diri. Perkembangan hormon di usia remaja mempengaruhi emosinya. Mulai muncul sikap menentang bukan hanya pada orang tua tapi lingkungan. Remaja berada di fase senang bereksperimentasi atau mencoba-coba suatu hal,” jelasnya.

Sementara itu, menyusul viral videonya, MT sudah memberikan penjelasan dan permohonan maaf secara pribadi didampingi keluarga, tokoh agama dan pihak kepolisian. Juga lewat akun Facebook pribadinya, MT menyampaikan penjelasan dan permohonan maafnya. “Tidak ada maksud agar bisa viral, video itu dibuat hanya sebagai candaan mohon maaf sebelumnya,” tulisnya.

Ia juga memohon agar videonya yang sudah terlanjur diunggah ke media sosial bisa dihapus. “Minta tolong sekali teman-teman yang sudah membagikan video di media sosial tolong dihapus,” tulisnya ditambahkan emoji sedih.(rgm/rgl)

Kirim Komentar