11 Jul 2018 15:00

Pengucapan Bawa Dampak Ekonomi, Bisa Picu Inflasi

MyPassion
Soekowardojo

MANADOPOSTONLINE.COM — Bulan ini, tiga daerah melangsungkan pengucapan syukur. Minahasa Selatan (Minsel) mengawali dengan perayaan pengucapan syukur 8 Juli lalu. Dilanjutkan Minahasa Tenggara (Mitra) Minggu (15/7). Terakhir, Minahasa di tanggal 22 Juli mendatang. Tiga momen pengucapan syukur ini dipastikan akan berdampak pada perekonomian Sulut. Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) Soekowardojo mengatakan, pengucapan syukur di Kabupaten Minahasa Raya bisa memicu inflasi untuk bulan ini.  “Selama Juli 2018 berlangsung acara keagamaan pengucapan syukur di Kabupaten Minsel, Minahasa dan Mitra. Ini perlu diantisipasi agar tidak berdampak kenaikan harga kebutuhan pokok,” kata Soekowardojo.

Dia mengatakan, pengucapan syukur akan memicu peningkatan permintaan sejumlah kebutuhan pokok yang bisa berdampak pergerakan harga. Karena itu, dia berujar, BI bersama Tim Pengendali Inflasi daerah (TPID) pemerintah daerah harus saling bersinergi menjaga kestabilan harga. “Sejumlah bahan kebutuhan pokok masyarakat yang sering menjadi penyumbang inflasi. Diantaranya cabai, tomat sayur dan bahan utama lainnya,” kata dia.

Sejauh ini, inflasi 2018 dapat dikendalikan karena didukung ketersediaan bahan pokok strategis memadai, serta adanya upaya dengan peningkatan koordinasi pemerintah daerah dan BI melalui wadah TPID.

Sementara, ekonom Sulut Jacky Sumarauw menilai, dampak ekonomi dengan adanya pengucapan lebih ke arah pola hidup konsumtif. “Artinya apa yang didapat selama berbulan-bulan bahkan lebih akhirnya habis digunakan untuk kegiatan pengucapan,” ungkapnya. Menurut dia, banyak perputaran uang yang terjadi selama bulan pengucapan syukur. “Apalagi yang terjadi di desa-desa terlalu memaksakan diri. Harusnya, pengucapan didasari budaya orang Minahasa saat panen raya dimaknai dengan pengucapan,” ujar dia.

Namun sekarang, hasil panen yang ada justru turun, dan masyarakat harus dihadapkan dengan pengucapan yang memakan anggaran yang begitu besar. Akademisi FEB Unsrat ini tidak berani menilai apakah hal ini berdampak negatif atau positif. “Secara umum banyak yang dirugikan, uang simpanan yang diperuntukkan untuk hal lain akhirnya habis di pengucapan, ada kemungkinan besar pasak daripada tiang. Perlu ada kajian untuk menentukan manfaat dari pengucapan ini, apakah positif atau negatif terhadap ekonomi Sulut,” pungkas Sumarauw. (tr-05/fgn)

Kirim Komentar