09 Jul 2018 10:52

Cemburu-Dendam Biang Kerok Pembunuhan

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Kasus pembunuhan di Sulawesi Utara mengerikan. Motif pembunuhan makin beragam; ada yang disebabkan karena cemburu, serta dendam lama pelaku terhadap korban. Adapula biang keroknya karena tersangka sudah dipengaruhi minuman keras (miras).

 

Kebanyakan korban tewas karena pendarahan akibat luka tusukan dan sabetan senjata tajam. Masyarakat harus hati-hati. Di sisi lain, aparat harus tegas. Agar menimbulkan efek jera bagi pelaku. Data dihimpun Manado Post, dua tahun terakhir ada 64 kasus. Rinciannya tahun lalu ada 45 laporan, dengan jumlah penuntasan baru 36 kasus. Namun tahun ini (Januari-Mei), jumlah penuntasan ditebus penyidik Polda Sulut, karena dari 11 laporan, ada 19 kasus yang telah selesai.

Disampaikan Psikolog Hanna Monareh MPSi, pembunuhan dengan motif cemburu  dinilai merupakan suatu penyimpangan psikologis pelaku. “Contoh orang seperti itu dia (pelaku) memiliki kepribadian lebih tertutup, lebih menyimpan perasaan tidak nyaman sendiri. Namun, semakin lama dia menyimpan sakit hati, kecewa atau pun marah pada orang lain membuat dia sendiri tidak bisa mengontrol emosinya,” jelasnya.

Monareh menambahkan, hal tersebut dapat berdampak pada dirinya sendiri. “Hal itu mempengaruhi perilaku untuk melukai diri sendiri atau pun orang lain tanpa berpikir risikonya. Dorongan kuat untuk melakukan agresi muncul karena ada dorongan atau pemicu yang kuat. Jadi, kepribadian seseorang sangat mempengaruhi perilaku untuk bertindak apalagi dalam melakukan kejahatan,” imbuhnya.

Dari segi kacamata pakar Hukum Pidana Toar Palilingan MH, dia meminta petugas menghukum berat pelaku. Seperti kasus-kasus pembunuhan sadis sebelumnya, ada yang dihukum seumur hidup. “Bahkan kalau perlu hukuman mati,” tegas Palilingan. “Mungkin motifnya beda-beda. Tapi apapun motifnya, tetap pembunuhan sadis sudah sepantasnya dihukum setimpal,” sorot akademisi Universitas Sam Ratulangi ini.

Kasus ini juga mendapat tanggapan dari pengamat hukum Adi Tirto MH. Menurutnya, peningkatan razia penyakit masyarakat sangat diperlukan untuk meminimalisir penganiayaan yang berujung pada pembunuhan. “Razia minuman keras dan narkoba, terutama di tempat-tempat rawan maupun di acara-acara yang biasa digelar sampai larut malam. Karena kebanyakan kasus penganiayaan dan pembunuhan terjadi di acara-acara seperti itu. Disitulah sumber kerawanan yang perlu ditingkatkan pengawasannya,” tandasnya dosen Fakultas Hukum Unsrat tersebut.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Ibrahim Tompo menyebutkan, penyebab pembunuhan di Sulut macam-macam. Namun yang paling dominan biang keroknya karena pengaruh minuman keras (miras). “Ada juga faktor kecemburuan, dendam terhadap korban, dan faktor lainnya. Ada yang direncanakan dan tidak. Itu yang sering diakui para tersangka kala diperiksa penyidik,” beber Tompo.

Senjata tajam, lanjut perwira tiga melati, paling banyak dipakai pembunuh menghabisi korbannya. “Seperti pisau dapur, pisau badik, samurai dan peralatan lainnya yang membahayakan nyawa orang lain,” katanya. “Makanya, kami akan mengusut sampai tuntas. Sebab tersangka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka,” janji Tompo, eks Wadirreskrimsus Polda Maluku Utara.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulut Kombes Pol Hari Sarwono menyebutkan, para pelaku kebanyakan menghabisi nyawa korban dengan senjata tajam. “Para pelaku kebanyakan langsung diringkus tim gabungan. Kita tidak main-main dalam kasus ini,” tuturnya. Katanya, hal ini dibuktikan dalam sejumlah pengungkapan kasus yang dilakukan Polda dan jajaran. “Ketika ada peristiwa, kita langsung kembangkan untuk mengejar pelakunya,” tandas perwira tiga melati tersebut.(rgm/gnr)

Kirim Komentar