05 Jul 2018 15:04

Lomba Pantomim Diduga `Bau` Kecurangan

MyPassion
Ilustrasi Pantomim.(dok)

MANADOPOSTONLINE.COM—Lomba Festival Seni Siswa Nasional (LFS2N) tingkat Provinsi Sulut yang digelar di Resort Tasik Ria, Senin (25/6), lalu, diduga ‘bau’ kecurangan.

Pelatih Pantomin Sangihe Gokar Abast mengatakan, dalam LFS2N khususnya Pantomim Kontingen Sangihe merasa dicurangi oleh juri. Menurut dia, dalam lomba tersebut, utusan Sangihe Agustivo R Samodara, dari SD Katolik Spes Patriae Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe mendapatkan juara tiga tingkat Provinsi Sulut. “Tapi kami tidak terima dengan keputusan juri. Sebab dalam penilaian juri diduga memihak dan melakukan kecurangan,” kata pelatih sekaligus mantan juri nasional Pantomim itu.

Lanjutnya, tiga juri yang melakukan penilaian tidak mengerti tentang Pantomim. Karena juri bukan pelaku dan pelatih Pantomim atau pernah sekolah Pantomim. “Saya melihat peserta dari Sangihe masih lebih baik dari yang lain. Soal gerakan. Karena saya juga mantan juri nasional,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kalau juri mengerti tentang Pantomim, selesai dari kegiatan mereka akan mengumumkan dan memberikan masukkan, catatan kekurangan masing-masing peserta untuk perbaikan ke depan. Tapi itu tidak dilakukan. “Kami menunggu pengumuman hasil. Tapi ternyata para juri tidak hadir, sudah lari. Pengumuman hasil pun hanya diberitahukan sepihak,” sebutnya.

Dia meminta, kalau memang Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulut ingin LFS2N  mendapatkan prestasi di pusat, Lomba Pantomim kembali diulang. Tiga peserta mendapatkan juara satu, dua dan tiga dites kembali oleh juri yang mengerti Pantomim. “Sebab betapa memalukan mengirim peserta ke tingkat nasional. Kalau sampai di sana tidak mendapatkan juara,” katanya.

Dia mengharapkan, panitia ketika membuat lomba ke depan memperhatikan kapasitas juri. Tidak asal mengambil juri. “Sebab lomba ini akan berlanjut di tingkat nasional, dengan membawa nama daerah. Bukan cuma asal lomba,” sarannya. “Kami juga menyayangkan sikap panitia yang terkesan asal-asalan membuat kegiatan. Tidak ada penutupan kegiatan. Bahkan panitia dan juri bubar diam-diam dari lokasi kegiatan,” kata guru pendamping Viktor S.  Sementara itu, Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulut ketika dimintai konfirmasi belum bisa dihubungi.(*/ite)

Kirim Komentar