04 Jul 2018 14:10

SAR Medan Sindir Ratna Sarumpaet

MyPassion
Ratna Sarumpaet

JAKARTA—Aksi aktivis sosial Ratna Sarumpaet sempat bersitegang dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. Kejadian ini terjadi saat Ratna menyambangi posko pencarian korban KM Sinar Bangun di  Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Saat itu, penggiat sosial ini tiba-tiba memotong pembicaraan Menko Luhut dengan dalil protes atas keputusan pemerintah menghentikan pencarian.

 

Penolakan Ratna terhadap penghentian pencarian korban KM Sinar Bangun berbuntut panjang. Selain sempat memicu keributan dengan Menko Luhut dan warga setempat, Kepala SAR Medan bahkan sempat menyindir pedas Ratna untuk terjun menyelam sendiri ke lokasi karamnya kapal tersebut.

Menanggapi hal itu, Ratna mengaku santai menyikapi omongan itu. Bahkan ia berseloroh mengajak Kepala SAR Medan untuk menyelam bersama. “Boleh juga sama dia, nanti dia kepalanya saya tangkap hahaha. Emang dikira gue nggak bisa nyelam,” ujar Ratna kepada JawaPos.com (Grup Manado Post), Selasa (3/7).

Sementara, perempuan yang sempat viral karena mengaku menelepon Gubernur DKI Anies Basweden karena mobilnya diderek ini menegaskan, dirinya datang ke Danau Toba atas keinginan sendiri. Dia datang atas nama kemanusiaan, dan tidak ada kepentingan apapun di luar itu. “Saya datang mewakili diri saya. Kerja saya memang itu untuk kemanusiaan,” tegas Ratna.

Munculnya cibiran karena Ratna tidak muncul sejak awal tragedi ini terjadi juga tak mau diambil pusing. Sebab ia bukan Basarnas ataupun petugas terkait yang harus ada sejak awal peristiwa. Ibu dari artis cantik Atiqah Hasiholan itu datang ke Danau Toba setelah melihat sejumlah kejanggalan dalam proses pencarian para korban. Sehingga untuk mencegah terjadinya pelanggaran kemanusiaan, Ratna pun datang meninjau langsung lokasi tragedi nahas itu. “Saya datang ketika saya merasa ada kejanggalan yang bisa menganggu konteks kemanusiaan, gitu aja,” terang Ratna.

Sebelumnya, pencarian korban KM Sinar Bangun dihentikan karena posisi kapal karam terlalu dalam. Sehingga sulit diangkat. Selain itu pertimbangan lain juga terkait mahalnya biaya, serta dibutuhkan anggaran besar. Maka sesuai perundingan antara pemerintah dengan keluarga korban, seluruh pihak sepakat pencarian dihentikan. Dan seluruh puing-puing kapal beserta korban dibiarkan di dasar Danau Toba. (jpc/fgn)

Kirim Komentar