21 Jun 2018 14:03

Awasi Distribusi Obat Penenang, PAFI: Ketergantungan Bisa Bertahun-tahun

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Obat penenang seperti Alprazolam, sering disalahgunakan. Terkadang jadi pengganti sabu-sabu. Saat dikonfirmasi, Rabu (20/6), Kepala Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dr Debie Kalalo mengatakan, distribusi dan penggunaan obat jenis ini memang sudah diawasi secara ketat. "Ada juga memang yang sudah kecanduan dengan obat ini. Karena itu kita terus pantau secara ketat distribusinya. Obat-obat tersebut juga hanya bisa diambil dengan resep dokter," ungkapnya. Kalalo mengatakan, penggunaan obat penenang ini terus terdata dan dimonitor rutin. Biasanya obat jenis ini

 

seperti Alprazolam diberikan kepada orang dengan gangguan kejiwaan sebagai penenang. Namun banyak juga pelaku yang sadar, menggunakan obat penenang itu. "Pengawasan terhadap obat ini sudah kita perketat. Obat ini juga tidak kita jual di Puskesmas," imbuhnya.

Di sisi lain Ketua Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) di Sulut Rommy Watuseke mengatakan, obat penenang atau benzodiazepine (benzo) adalah obat yang diindikasikan untuk sedatif hypnotic atau memudahkan tidur, anti cemas, anti kejang, dan pelemas otot.

Menurutnya, kerja obat ini sangat cepat dan instan. Obat ini juga menurutnya, aman jika dikonsumsi jangka pendek beberapa hari saja. Namun jika diminum setiap hari dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan berbagai macam bahaya.

"Obat ini menimbulkan ketergantungan jika diminum setiap hari dalam jangka waktu tertentu. Apabila sudah menimbulkan ketergantungan, ketika konsumsi obat dihentikan maka muncul gejala putus obat atau withdrawal. Potensi ketergantungan ini tergantung jenis obatnya. Semakin cepat obat itu bereaksi dan keluar dari tubuh semakin cepat pula menimbulkan ketergantungan," jelasnya.

Watuseke mengatakan, withdrawal dari benzo dapat berlangsung lama hingga bertahun-tahun, jauh lebih lama jika dibandingkan efek putus obat psikotropika jenis lainnya seperti opioid contohnya morfin, tramadol dan heroin yang hanya beberapa hari atau maksimum beberapa minggu. Dan menurutnya perbaikannya tidak linear melainkan acak setiap hari, kadang gejala-gejala itu membaik lalu memburuk dan sebaliknya.

"Jika seseorang mengonsumsi rutin obat ini maka dalam waktu tertentu dosis obat tersebut menjadi tidak mempan. Dan untuk mencapai efek yang sama diperlukan tambahan dosis. Apabila dosis tidak dinaikkan, akan menimbulkan withdrawal tanpa kita mengurangi dosis," tutur Watuseke.(tr-02/gel)

Kirim Komentar