13 Jun 2018 08:56

Setelah Teken Kesepakatan, Trump Ajak Jong-un Intip `The Beast`

MyPassion
Grafis

MANADOPOSTONLINE.COM—Sebuah meja tua berusia 80 tahun menjadi saksi perubahan hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat. Di atas furnitur yang pernah digunakan Hakim Agung Singapura tersebut, Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un menandatangani dokumen bersejarah yang berisi empat kesepakatan (lihat grafis).

Penandatanganan kesepakatan itu menjadi puncak dari pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) kedua negara di Hotel Cappella Singapura, kemarin (12/6). Pelaksanaan KTT berjalan nyaris tanpa hambatan.

Pemerintah Singapura yang menghabiskan Rp 278 miliar untuk hajat itu sudah mempersiapkannya secara matang. Berdasarkan pantauan Jawa Pos di lokasi kemarin, sejak pagi dini hari, peningkatan keamanan sudah dilakukan pihak keamanan setempat.

Di sepanjang jalan dari arah pusat kota menuju Pulau  Sentosa, aparat kepolisian yang berjaga sangat banyak. Di setiap jarak 20 sampai 30 meter, ada dua sampai tiga aparat bersenjata yang berjaga. Tak lupa, mobil-mobil patrol juga banyak berceceran.

Memasuki kawasan Pulau Sentosa, pengamanan semakin tinggi. Aparat kepolisian dibagi di banyak titik. Tak lupa, kendaraan lapis baja juga disiagakan di pulau seluas 463 hentare tersebut.

Sementara media hanya diberikan jarak sekitar 100 meter dari pintu hotel. Itupun di sisi jalan yang tidak dilewati rangkaian kedua persiden yang masing-masing tiba pukul 08.12 untuk Jong Un dan 08.29 untunk Trump.

Detik bersejarah itu kemudian terjadi pukul 09.04, saat Trump dan Kim melangkah ke halaman dari sisi yang terpisah. Kedua lantas berdiri berhadap-hadapan untuk pertama kalinya dan mengulurkan tangan selama 12 detik dengan latar belakang bendera milik dua negara.

Setelahnya, kedua pemimpin kontroversial itu melakukan pertemuan tertutup. 41 menit berlalu, mereka kembali muncul di hadapan lensa media dan Trump memberi isyarat jika diskusi itu berjalan sangat baik. Pembicaraan kemudian berlanjut ke forum yang lebih besar yang melibatkan para delegasi.

Setelah pembicaraan, keduanya melanjutkan dengan makan siang bersama. Terakhir, kedua pemimpin itu menutup rangkaian dengan penandatanganan kesepakatan bersama setelah sebelumnya diselingi dengan jalan bersama di kawasan hotel. Tak lupa, Trump sempat mengajak Jong Un mengintip interior mobil kepresidenannya yang bernama ‘the beast’.

Kim tidak banyak bicara ke media. Sebagaimana dilansir The Straits Time, Kim menyebut kedua pemimpin telah menjalani pertemuan bersejarah dan telah sepakat melupakan masa lalu. “Dunia akan melihat perubahan besar,” kata anak mendiang Kim Jong Il tersebut.

Berbeda dengan Kim yang langsung kembali ke kediamannya di St Regis Hotel, Trump justru memilih tetap di Hotel Cappella. Dan, membuka konferensi pers tidak lama kemudian.

Memulai penjelasan dengan menyampaikan terima kasih kepada tuan rumah Singapura dan pemimpin Korea Selatan, Jepang dan Tiongkok, Trump kemudian membeberkan isi pertemuan. "Kami menandatangani pernyataan bersama yang merupakan komitmen tak tergoyahkan untuk menyelesaikan denuklirisasi Korea Utara," katanya di laman yang sama.

Diakuinya, kata Trump, apa yang terjadi mungkin tidak pernah dipikirkan banyak orang. Namun Kim, kata Trump, siap untuk memulai upaya denuklirisasi di Semenanjung Korea. Sebagai konsekuensinya, sanksi akan tetap berlaku selama komitmen itu belum benar-benar terealisasikan.

Saat didesak mengapa tidak mendapatkan komitmen denuklirisasi yang lebih jelas dan cepat, suami Melania itu Trump mengatakan tidak bisa terburu-buru. "Saya di sini untuk satu hari. Prosesnya sekarang akan berlangsung," imbuhnya.

Presiden Amerika yang ke 45 itu menegaskan, persoalan lebih lanjut terkait peyelesaian di semenanjung Korea akan terus dibahas di masa depan. Trump, yang kemarin banyak memuji Kim itu yakin jika orang nomor satu di Korea Utra itu memiliki keinginan untuk berubah. Dia menyebutnya dengan istilah “komitmen yang tak tergoyahkan”.

Adapun untuk kesepakatan mengenai pengembalian tawanan perang, presiden berlatar belakang pengusaha itu menyebutkan jika persoalan itu diangkat menyusul banyaknya permintaan yang masuk kepadanya. Baik melalui surat, twitter atau pun email. Di mana keluarga korban masih berharap agar bisa kembali bertemu dengan kerabat. Dan dia mengaku bersyukur hal itu bisa dicapai.

Dalam jumpa pers tersebut, Trump juga menyampaikan poin mengejutkan tentang deklarasi AS untuk berhenti menggelar latihan militer bersama Korea Selatan (Korsel). Pengumuman itu langsung memantik reaksi di Korsel dan juga di Negeri Paman Sam. Baik Blue House maupun Gedung Putih mengaku perlu berbicara dulu dengan Trump sebelum berkomentar. ”Kami akan menghentikan latihan perang gabungan. Itu artinya akan ada lebih banyak uang yang dihemat,” kata presiden ke-45 AS itu seperti dikutip Associated Press.

Trump mengatakan bahwa berhemat sembari menantikan kelanjutan hubungan dua negara akan jauh lebih baik. Ketimbang menunggu langkah lanjutan Korut sambil berlatih perang dengan Korsel. Saat ini ada 28.500 personel militer AS di Korsel. ”Lagipula, (latihan perang gabungan dengan Korsel) itu provokatif,” kata Trump.

Dia berharap, komitmennya itu bisa membuat Korut lebih percaya pada AS. Dengan demikian, proses denuklirisasi Semenanjung Korea bisa berjalan lancar dan tuntas sesuai jadwal.

Selanjutnya, setelah Korut melucuti nuklirnya, AS siap menjalin kerja sama ekonomi dengan negara tersebut. Tentunya setelah mencabut sanksi-sanksi Korut. ”Kami harus mencari tahu dulu apa maksud pernyataan tersebut,” kata seorang juru bicara Blue House seperti dikutip Reuters.

Terpisah, Juru Bicara Pasukan AS di Korsel Letkol Jennifer Lovett mengatakan bahwa dia belum menerima perintah apapun dari Pentagon (Kementerian Pertahanan AS) terkait pernyataan Trump tersebut. Pentagon pun belum mau buka mulut kepada media dengan alasan belum bertemu Trump.

Seorang pejabat Korsel yang identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa Trump hanya salah bicara. Dia yakin, AS tidak akan menghentikan latihan perang gabungan dengan Korsel. ”Saya shock saat mendengar beliau menyebut latihan rutin tersebut provokatif,” tegasnya. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Moon Jae-in usai bertemu Jong-un, menurut dia, Trump sama sekali tidak menyinggung hal tersebut.

Sementara itu, menu makan siang Trump dan Jong-un yang disajikan pemerintah Singapura di Hotel Capella juga menjadi sorotan. Sebab, selain menghadirkan menu perpaduan barat dan timur, Singapura juga menyajikan nasi goreng ala Tiongkok. Yakni, Yangzhou Fried Rice.

Di Singapura, nasi goreng berbumbu saus pedas XO itu mudah ditemukan di restoran-restoran Tiongkok (Chinese restaurant). Mengutip BBC, itu cara pemerintah Singapura menghormati Presiden Tiongkok Xi Jinping yang diam-diam juga berperan aktif demi mewujudkan pertemuan tersebut.

Perpaduan menu barat dan timur itu menjadi cara Singapura menghormati AS dan Korut yang menjadi tamu kehormatan mereka kemarin. Namun, masakan Korea dalam menu tersebut juga menjadi bentuk apresiasi terhadap Korsel.

Maka, saratlah menu makan siang Trump dan Jong-un beserta rombongan kemarin dengan diplomasi. Nasi goreng Tiongkok, salad kerabu mangga Singapura, daging sapi ala AS dan oiseon (timun isi) serta daegu jorim (ikan cod masak kecap) khas Korea. Yang tidak ada dalam menu adalah masakan Jepang dan Rusia yang sebenarnya juga ikut berperan meski hanya sedikit. Tapi, seperti itulah diplomasi.(jpg)

Kirim Komentar