12 Jun 2018 08:31

Kuota Sekolah `Favorit` di Manado Terbatas

MyPassion
Grafis

MANADOPOSTONLINE.COM—Tahun ini, sekira 8.127 siswa SMP/sederajat dinyatakan lulus. SMA/SMK ‘favorit’ di Manado dipastikan bakal banjir pendaftar. Sejumlah sekolah telah menetapkan kuota sementara (lihat grafis) sambil menunggu petunjuk teknis dari Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Sulut.

“Data untuk PPDB tunggu petunjuk langsung Dikda karena kami hanya memasukkan ruangan belajar yang layak digunakan. Sekira 20 ruangan belajar dengan kapasitas 32-34 siswa per ruangan,” ujar Kepala SMK Negeri 1 Manado Drs Moodie Lumintang MPd, kemarin.

Sementara di SMA Negeri 1 Manado, 11 ruangan belajar layak digunakan. “Sudah kita usulkan. Bisa bertambah jika Dikda menambah ruang kelas baru dan SDM. Kita saat ini kekurangan SDM,” aku Kepala SMA N 1 Manado Dra Sherly kalangi MSi.

Terpisah, Kepala Dikda Sulut Grace Punuh mengatakan, untuk penerimaan siswa baru ini menggunakan sistem zonasi. “Pendaftaran gratis menggunakan sistem zonasi dengan presentase luar sekolah sebesar lima persen,” katanya.

Mantan Kadis Sosial Sulut ini menjelaskan, ada dua jalur yang dibuka. Jalur khusus dan regular. “Jalur khusus ada tiga. Jalur ramah lingkungan 40 persen, anak PTK 5 persen, dan prestasi 5 persen. Sementara jalur regular berdasarkan perankingan nilai akhir yang merupakan penjumlahan nilai UN pada jenjang SMP/MTs sederajat,” tukasnya.

Menurut pengamat pendidikan Sulut Dr Ramon Tumiwa, zonasi menguntungkan ketika setiap sekolah memiliki kualitas merata. "Sebenarnya kalau kualitas sekolah merata akan menguntungkan siswa. Sebab dekat dengan rumahnya atau tempat tinggal. Namun kalau sekolah kualitasnya tidak merata akan merugikan siswa," tegasnya.

Tambah dosen Fakultas Ekonomi Unima ini, dia berharap semua sekolah sudah mempunyai kualitas sepadan. "Dan untuk saat ini, seharusnya sudah merata kualitas setiap sekolah. Sebab kurikulum yang digunakan, pun dari sisi bantuan pemerintah sama. Harusnya tidak ada istilah kesenjangan yang jauh dari sisi kualitas," ujarnya.

Sementara, pengamat pendidikan yang lain, Prof Patar Rumapea mengatakan, penerapan zonasi pendidikan di Sulut seharusnya 50-50 dulu. "Tentu dengan penerapan zonasi pendidikan harus juga masih mengakomodir yang manual. Jadi dibebaskan si calon siswa memilih sekolah di mana. Sebab kualitas sekolah saat ini belum merata," katanya.

Tapi dia mengajurkan untuk memilih berdasarkan zonasi agar dekat dengan sekolah. “Jadi bisa fokus dan tingkat keamanan siswa semakin terjamin. Karena dekat," ungkap dosen Fispol Unsrat ini.

Tambah Rumapea, harus ada pembiasaan ke orang tua dan siswa baru zonasi dapat maksimal. "Kalau berharap 100 zonasi diterapkan, pemerintah harus mampu membuat pemerataan kualitas sekolah dan guru. Terlebih metode belajar mengajar. Sebab akan merugikan ketika tidak bisa masuk sekolah bagus. Pun harus ada pembiasaan dulu, sambil menyamaratakan kualitas sekolah," tutupnya.(cw-03/can)

Kirim Komentar