12 Jun 2018 09:21

Harga Kopra Anjlok, Petani Minut Menjerit

MyPassion
Edwin Nelwan

MANADOPOSTONLINE.COM—Petani kopra di Minahasa Utara (Minut) terus menjerit. Pasalnya, harga kopra hingga saat ini terus menerus anjlok.

Informasi yang di rangkum Manado Post, awal Januari 2018, harga kopra mencapai Rp 1.000 /kilo gram (kg) dan memasuki bulan Mei, turun hingga Rp 700/kg. Parahnya, harga kopra terus-menerus turun, dan saat ini tinggal Rp 400 /kg.

Ronni, salah satu petani kopra asal Likupang mengeluhkan harga kopra yang semakin anjlok namun tidak tahu dimana untuk mengadu untuk memperjuangkan nasip mereka. "Apa tugas dan fungsi DPRD, dan Pemkab Minut saat ini, hingga kami masyarakat dalam hal ini petani, seakan tidak diperhatikan lagi. Karena harga kopra semakin turun," keluhnya.

Lanjutnya, DPRD seharusnya berperan membantu petani, untuk semua produksi pertanian, salah satunya dalam hal ini kopra yang menjadi unggulan masyarakat Minut.

Senada, Wakil Ketua Komisi II Joseph Dengah mengatakan, dengan anjloknya harga kopra di Sulut, harus ada perhatian khusus dari pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat. "Sungguh sangat prihatin dengan turunnya harga kopra ini. Apalagi harga saat ini Rp 400 /kg, tidak cocok lagi dengan biaya produksi. Padahal, lambang nyiur melambai, pohon kelapa komunitas unggulan juga devisa terbesar. Tetapi, pemerintah jangan hanya mau devisa besar dan rakyatnya menderita," ungkapnya.

Ditambahkannya, DPRD Minut, akan menyingkapi keluhan masyarakat ini. "Ini harus ada perhatian semua pihak, termasuk DPRD yang adalah corongnya rakyat. “Dalam waktu dekat ini, saya akan langsung koordinasikan dengan pimpinan dan anggota DPRD Minut, untuk segera mengambil sikap,”tukasnya.

Terpisah, Anggota Komisi I Edwin Nelwan mengatakan, saat ini para petani menjerit karena harga kopra anjlok. "Karena biaya panen kelapa lebih banyak ketimbang harga jual. Bagaimana mau produksi kalau tidak ada untung," terangnya.

Diharapkannya, pemerintah dapat segera memproteksi hal ini, karena banyak warga yang berprofesi sebagai petani kelapa. “Apalagi kita dikenal dengan daerah nyiur melambai jadi pemerintah tidak harus diam,” tukasnya.(tr-04/ria)

 

Kirim Komentar