11 Jun 2018 11:32

Bertentangan Dengan Pancasila, Mahasiswa Tolak Radikalisme dan Terorisme

MyPassion
Aksi mahasiswa yang tergabung dalam organisasi PMII melakukan kampanye untuk melawan radikalisme dan terorisme.

MANADOPOSTONLINE.COM—Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi sekaligus kampanye untuk melawan radikalisme dan terorisme. Aksi tersebut digelar di tiga titik di Jakarta, yakni Jalan Sarinah Tamrin, Tugu Tani dan perempatan Atrium Senen, Sabtu (9/6), seperti lansir JPNN.com (Grup Manado Post).

Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Bidang OKP M Syarif Hidayatullah mengatakan, PMII menggelar aksi untuk menanggapi teror bom bunuh diri di Surabaya, Sidoarjo, dan Mapolda Riau beberapa waktu lalu, Insiden teror tersebut mengakibatkan Indonesia kembali berduka.

Sebagai bentuk keprihatinan dan respons terhadap insiden teror bom bunuh diri, menurut Syarif, ratusan hashtag pun beredar di internet. Salah satunya #halaqohpergerakanlawanterorisme yang diinisiasi oleh PB PMII Bidang OKP. “Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan radikalisme dan terorisme,” katanya.

Syarif Hidayatullah menekankan, aksi yang gelar PMII sebagai bentuk kampanye untuk menolak paham radikalisme dan terorisme di bangsa ini. “PMII dalam aksi tersebut juga menyerukan dukungan kepada pemerintah dan Polri untuk memberantas paham radikal dan teroris karena bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Syarif Hidayatullah, radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh "baru" umat manusia. “Meskipun akar radikalisme telah muncul sejak lama, namun peristiwa peledakan bom akhir-akhir ini seakan mengantarkan fenomena ini sebagai musuh kontemporer sekaligus sebagai musuh abadi,” ujarnya.

Syarif mengungkapkan, banyak pihak berspekulasi dan secara tendensius mengatakan bahwa terorisme berpangkal dari fundamentalisme dan radikalisme agama, terutama Islam. “Tak heran jika kemudian Islam seringkali dijadikan kambing hitam,” sebutnya.

Namun demikian, menurut Syarif, tidak sedikit pula yang percaya bahwa motif radikalisme dan terorisme tidaklah bersumber dari aspek yang tunggal. Kesadaran ini membawa keinsyafan upaya penanganannya juga tidak bersifat parsial, namun perlu pendekatan komprehensif secara integral.

Lebih lanjut, Syarif Hidayatullah mengungkapkan sejak bergulirnya reformasi di Indonesia tahun 1998, radikalisme dan terorisme mulai ramai diperbincangkan. Reformasi membuka kran demokrasi yang tertutup selama 32 tahun selama rezim orde baru berkuasa.

“Alhasil, ruang eskpresi yang terbuka lebar mendorong lahirnya banyak organisasi dan gerakan keagamaan. Dalam masa ini, berbagai macam kelompok/organisasi baik politik, ekonomi, agama dan sebagainya menemukan tempat untuk mengekspresikan kepentingannya,” paparnya.

Menurut Syarif, selain kampanye melawan terorisme, PMII juga melakukan berbagai kegiatan seperti bakti sosial. Di antaranya pembagian takjil untuk pengguna jalan, dan stiker kepada masyarakat yang bertuliskan “Setop Radikalisme”.(ite)

Kirim Komentar