08 Jun 2018 09:25

Pilrek Unsrat, Dua Senat Walk Out

MyPassion
Vecky Masinambouw

MANADO—Pemilihan Rektor Unsrat 2018 diwarnai aksi walk out dua anggota senat, Prof DR Grace Kandouw dan DR Vecky Masinambouw. Masinambouw memilih walk out karena menilai Pilrek Unsrat ini cacat hukum alias inprosedural.

“Ada surat dari Ketua PTUN Manado dan sudah dimasukkan ke Ketua Senat tapi tidak diindahkan. Saya tidak lagi banyak bicara dan dimakzulkan,” kata Masinambouw, utusan Senat Non Guru Besar Fakultas Ekonomi Unsrat.

Dirinya kukuh tidak menerima Prof Grace dijegal dari pencalonan. Ironisnya lagi, akibat penjegalan ini telah dicemarkan nama baiknya. Bahkan instrumen negara PTUN yang mengeluarkan putusan sela dan surat di hari h diabaikan.

Sebagai akademisi, Masinambouw tak takut memperjuangkan kebenaran ini. Dia punya idealisme. Dan menilai banyak keanehan di Pilrek ini.

Pertama, surat Sekjen Kemenristekdikti yang dikirim ke Rektor Unsrat terdapat kejanggalan. Karena dua kali mengirim surat, isi yang sama   berbeda tanggal. “Surat pertama tertanggal 5 Mei, kemudian diralat kembali menjadi 5 Juni 2018. Momentum untuk menentukan Unsrat empat tahun ke depan dibuat terburu-buru,” katanya menyayangkan.

Dalam rapat senat Pilrek, Masinambow menginterupsi dan mempertanyakan tiga hal. Dia menanyakan apakah utusan menteri yang diwakil Prof Dr dr Ali Gufron Mukti membawa surat kuasa. Dan ternyata surat kuasa tidak disampaikan atau dibacakan dalam rapat senat.

“Kedua, keterangan PTUN tertanggal 7 Juni 2018 menangguhkan sanksi kepada Prof DR dr Grace Kandou sambil menunggu keputusan pengadilan tetap tidak diindahkan. Permintaan dibacakan di hadapan senat tidak diterima ketua sidang atau ketua senat,” katanya seraya menyebut, mestinya bukan hanya tiga calon yang diperiksa rekam jejaknya tapi proses Pilrek Unsrat prosedural atau tidak, harus ikut diperiksa.(*)

Kirim Komentar