05 Jun 2018 09:40
Asalkan Ada Undangan Resmi

Warga Sulut Boleh ke Israel

MyPassion
Ilustrasi: Israel (Dok.Manado Post)

MANADO—Warga Sulawesi Utara (Sulut) ternyata bisa berkunjung ke Israel. Asalkan ada undangan resmi, momen perayaan HUT ke-70 Israel bisa jadi momentum. Pasalnya, ada sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI), yang diberi kesempatan oleh Israel hadir pada perayaan ulang tahun negeri Bintang Daud tersebut, dan bertemu Presiden Reuven Rivlin.

Komunitas Yahudi Manado, melalui Toar Palilingan Jr ikut berkomentar. “Bukan saya. Yang diundang langsung bukan orang keturunan Yahudi. Harus yang warga negara Indonesia asli. Mereka yang dapat undangan,” tandas Palilingan, ketika dikonfirmasi Manado Post.

Sebelumnya, dampak keputusan pemerintah Israel melarang WNI masuk ke wilayahnya, sudah terasa di Sulut. Sejumlah travel yang menawarkan paket wisata ke Holyland mengaku kebingungan.

Seperti Pesona Asmat Tour and Travel. Agen perjalanan nasional yang membuka cabang di Manado sekira 2011 silam ini, bisa memberangkatkan sekira 30 warga Sulut setiap bulannya ke Israel. “Khusus Manado banyak. Sekira 30 peserta setiap bulan berangkat tujuan Israel. Makanya dengan ditutupnya akses masuk bagi warga paspor Indonesia, akan rugi. Sebab mayoritas kita tujuannya Holyland,” beber Direktur Pesona Asmat Tour and Travel Asmat Margareth Angeline.

Lanjutnya, untuk awal Juni ini ada yang akan berangkat. "Ada grup ke sana (Israel), tanggal 6 atau 7 Juni. Sekira 16 orang. Tapi karena di bawah tanggal 9, maka tidak masalah. Sebab tanggal 9 terakhir entry. Tapi ada juga jadwal keberangkatan di bulan Juli mendatang. Namun sementara belum ada tiketnya. Sebab setiap bulan ada jadwalnya. Seperti Oktober dan Desember," katanya.

Dirinya berharap dan optimis, dalam waktu dekat masalah ini dapat terselesaikan. “Untuk sementara tidak bisa menjanjikan apa-apa. Masih di holding. Tapi memang, terlalu hard mereka bikin tanggal 9 Juni. Sebab baru dikeluarkan edaran dua hari yang lalu. Mengagetkan sekali. Tapi masih diupayakan juga dari sana (Israel) pun disini (Indonesia). Ada kerugian untuk pihak agen dan peserta," tukasnya.

Kondisi sama dirasakan Rainbow Tour and Travel. Disampaikan Manager Ari Saragih, dalam waktu dekat ada rencana perjalanan dari Manado. "Jadi memang merugi. Sudah ada beberapa agen yang kerja sama dari Israel, kirim email jadwal. Namun memang belum ada tamu untuk berangkat awal Juni ini," katanya, menambahkan kebijakan ini sangat dirasakan trave lokal. "Padahal sudah ada yang masuk jadwal dari Manado, untuk keberangkatan Oktober. Mudah-mudahan sebelum itu, sudah dibuka," harapnya.

Sementara itu, travel milik GMIM Global Minahasa Mandiri, tak terlalu merasakan dampak ini. Sebab, sejak Maret keberangkatan Holyland belum dibuka. "Memang sudah mendengar kabar tersebut. Jadi memang untuk saat ini belum ada trip. Sambil menunggu peralihan kepengurusan travel GMIM ini juga. Tapi mengharapkan secepatnya ada solusi untuk masalah itu," kata Direktur Toar Pangkey.

Untuk diketahui, dikutip dari situs liputan6.com, lewat sambungan telpon Sabtu (2/6) lalu, seorang WNI bernama Lisa mengonfirmasi soal keberangkatan para WNI ke Israel. Ia menuturkan, ada sekitar 30 orang yang terbang ke Israel pada 4 Juni, 29 orang di antaranya adalah WNI dan satu warga negara Singapura.

12
Kirim Komentar