04 Jun 2018 12:24

Haters

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Hater atau haters (bentuk jamak) merupakan istilah bahasa Inggris yang jamak digunakan terlebih dalam dunia maya. Secara populer istilah ini merujuk pada seseorang atau beberapa orang yang tidak senang dengan kebahagiaan atau pencapaian orang lain. Alih-alih berbagi kebahagiaan dan mengakui keberhasilan orang lain, mereka cenderung mengeksploitasi sang korban atau merekayasa situasi atau peristiwanya.  

Haters dan Cemburu

Haters, sejatinya, tidak ingin menjadi seperti sang korban. Mereka tidak cemburu dengan apa yang dipunyai oleh sang korban. Mereka hanya ingin menginterupsi kebahagiaan sang korban.  

Yang menakutkan adalah seorang yang cemburu, tapi berkedok sebagai hater. Ia seakan-akan membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan sang korban. Tapi, sesungguhnya, ia sangat ingin menjadi seperti sang korban.

Seluruh kebencian yang ia lampiaskan kepada sang korban merupakan wujud kecemburuannya. Semakin besar ungkapan kebenciannya, semakin besar pula keinginannya untuk menjadi seperti sang korban.

Einstein dan Curie

Keduanya adalah raksasa dalam dunia ilmiah. Albert Einstein (1879-1955) merupakan peraih Nobel Fisika 1921. Marie Curie (1867-1934) merupakan peraih dua Nobel di bidang yang berbeda (Fisika 1903 dan Kimia 1911). Rasanya, agak janggal untuk berbicara hal yang berbau emosional dan personal menyangkut mereka berdua.

Keduanya dikenal dan biasanya dirujuk untuk otoritas rasional dan karya ilmiah mereka. Tulisan ini akan mengangkat salah satu testimoni dari elemen kemanusiaan mereka. Ini mengacu pada surat Einstein kepada Curie, tertanggal 23 November 1911.

Konteksnya adalah Curie, yang sedang berada di bawah kecaman publik, dan Einstein, yang merupakan seorang sahabat yang berempati. Einstein baru saja bertemu dengan Curie dalam sebuah konferensi tertutup yang hanya mengundang ahli fisika top dunia saat itu. Rupanya, berbasis pertemuan itulah, mereka mengembangkan persahabatan dan rasa hormat mereka satu sama lain.

Konferensi itu dilangsungkan di Brussels, Belgia. Ia kemudian dikenal dengan nama The Solvay Conference 1911. Konferensi ini kemudian menjadi cikal bakal The Solvay Conferences yang dikoordinasi oleh The International Solvay Institutes for Physics and Chemistry.

Institut ini didirikan pada tahun 1912 oleh Ernest Solvay (1838-1922), seorang ahli kimia dan filantropis dari Belgia. Ia mendirikannya setelah terlibat dalam The Solvay Conference 1911 tersebut.

Saat itu, Curie sedang mendapatkan kritikan tajam dari publik. Ada beberapa hal yang mungkin merupakan penyebab. Pertama, ia adalah perempuan dan seorang ateis. Kedua, publik sudah mengetahui bahwa ia sedang “dekat” dengan Paul Langevin (1872-1946), seorang fisikawan Perancis.

Problem dari hubungan keduanya adalah status Langevin. Ia memang sudah berpisah dengan istrinya, namun masih terikat pernikahan dengan istrinya tersebut. Langevin juga hadir dalam konferensi itu.  

Kritikan publik terhadap Curie berbuntut panjang. Setelah konferensi tersebut, Curie kembali ke rumahnya di Sceaux, dekat Paris. Ia langsung dihadang oleh sekerumunan orang yang kemudian mengusirnya dan kedua anaknya.

Einstein, bahkan, mengimplisitkan bahwa dua alasan tersebut berbuntut panjang. Mereka juga menyebabkan ditolaknya Curie untuk menjadi anggota The French Academy of Science. Jika ditelaah, tak satupun dari alasan itu yang berhubungan langsung dengan karir, pekerjaan dan penemuan-penemuan Curie. Still, haters hate (Namun, pelaku aksi kebencian kerjaannya hanyalah membenci)!

Surat Einstein

Einstein membuka surat tersebut dengan mengekspresikan kemarahannya. Ia tidak bisa menerima sikap publik terhadap Curie. Secara khusus, Einstein merujuk pada penolakan mereka terhadap Curie untuk menjadi anggota The French Academy of Science.

Kritikan Einstein secara lugas menelanjangi kelemahan haters. Mereka tidak mampu melihat mana yang relevan dan mana yang tidak. Fakta bahwa ia adalah perempuan, ateis, serta situasi personalnya dengan Langevin tidaklah relevan dengan kualifikasi untuk menjadi anggota The French Academy of Science.

Einstein kemudian sedikit menyindir para haters. "However, I am convinced that you consistently despise this rabble, whether it obsequiously lavishes respect on you or whether it attempts to satiate its lust for sensationalism! (Namun, saya yakin Anda tidak senang dengan mereka, baik ketika mereka menghormati Anda dengan cara yang menjilat maupun ketika mereka berusaha untuk memuaskan dahaga mereka akan sensasi!)."

Di sini, Einstein mengkritik kemunafikan dan sikap menghalalkan segala cara para haters. Demi berada di pusaran popularitas dan sensasi, mereka bersedia untuk menjilat. Hal tersebut tentunya dicapai dengan mendompleng reputasi sang korban.

Sebelum melanjutkan kritikannya, Einstein mengungkapkan secara tulus rasa hormatnya terhadap otoritas intelektual, hasrat ilmiah, dan kejujuran Curie. Einstein bahkan mengakui bahwa ia “beruntung” bisa berkenalan secara personal dengan Curie saat di Brussels.

Mungkin kita, yang sekarang hidup di tengah solidnya reputasi Einstein sebagai ilmuwan terpopuler dan genius, sedikit heran dengan pujian Einstein. Sebaliknya, orang pada saat itu akan memandang situasi ini cukup normal.

Apalagi, jika mereka merujuk pada reputasi Curie yang telah lebih dahulu mendapatkan nobel, sedang Einstein belum mendapatkan nobel saat itu. Namun, kenyataan bahwa keduanya telah dianggap sebagai fisikawan elit dunia saat itu, menambahkan nilai kerendahan hati dan respek satu kepada yang lain.  

Dengan formulasi yang agak keras, Einstein kemudian melanjutkan kritikan tajamnya. “Anyone who does not number among these reptiles is certainly happy … that we have such personages among us as you, and Langevin too, real people with whom one feels privileged to be in contact (Siapapun yang tidak termasuk “kelompok mereka” [para haters], pastilah merasa bahagia…karena ada tokoh-tokoh terkenal di sekitar kita seperti Anda, termasuk Langevin, yang merupakan pribadi yang membuat orang merasa dihargai jika berelasi dengan kalian).”

Di sini, Einstein menegaskan hal yang hakiki yang tidak bisa dilakukan oleh haters, yaitu berbahagia dengan orang yang menjadi objek kebencian mereka. Hanyalah sahabat yang tulus yang bisa berbagi kebahagiaan dengan sang korban.

Ia kemudian menutup suratnya dengan sedikit nasehat yang diformulasi secara sinis, namun tidak murahan. "If the rabble continues to occupy itself with you, then simply don't read that hogwash, but rather leave it to the reptile for whom it has been fabricated (Jika mereka tetap mengganggu Anda, maka jangan hiraukan omong kosong mereka, melainkan biarkanlah itu dikonsumsi oleh “kelompok mereka” yang diciptakan memang untuk mengkonsumsi hal tersebut)."

Empati Einstein yang mendalam bagi Curie sungguh menjadi nuansa bagi tajamnya formulasi kritikannya. Pada saat yang sama, Einstein memberi nilai setimpal bagi seluruh aksi kebencian para haters.

Baginya, itu semua adalah omong kosong, tidak bernilai sedikitpun. Justru karena sama sekali tidak bernilai, maka ketidakpedulian merupakan sikap yang pantas untuk menghadapi omong kosong tersebut.

Tak jelas seberapa dalam pengaruh dukungan Einstein kepada Curie. Tapi, yang pasti adalah bahwa beberapa bulan setelah ia ditolak untuk menjadi anggota The French Academy of Science (1911), Curie malah mendapat anugerah nobel untuk kedua kalinya. Kali ini, nobel diberikan untuk menghargai penemuannya di bidang Kimia.

Epilog

Einstein telah mengungkapkan mana yang bernilai dan mana yang tidak relevan dalam menghadapi haters. Yang bernilai adalah kondisi riil kehidupan sang korban dan orang-orang yang rela berbagi kebahagiaan dan keberhasilannya. Sedangkan, yang tidak relevan adalah apa yang diproduksi oleh haters, yaitu omong kosong.

 

Berita Terkait
Kirim Komentar