01 Jun 2018 10:21
Prof Grace Murni Berjuang Demi Nama Baik

SK 1132 Banyak Janggal

MyPassion
Ilustrasi Unsrat

MANADO- Perjuangan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Prof DR Grace Kandouw di PTUN Manado atas tuduhan melakukan plagiat dan auto plagiat terus bergulir. Kemarin, sidang mendengarkan keterangan saksi tergugat, justru makin menimbulkan tanda tanya proses lahirnya SK Rektor Nomor 1132/UN12/KP/2013 tertanggal 6 Mei 2013.

Terungkap dalam sidang, lahirnya SK 1132 itu ternyata banyak kejanggalan. Febronesco Takaendengan SH dan Yanto Mangira SH membeber, pertama SK 1132 itu adalah penjatuhan sanksi karena autoplagiat. Padahal, autoplagiat belum diatur dalam Permendiknas 17/2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di perguruan tinggi. “Auto plagiat biasanya tidak diberikan sanksi. Kecuali plagiat,” jelasnya.

Keduanya menambahkan, tuduhan Prof Grace melakukan plagiat sangat merusak nama baik. Plagiat itu di dunia kampus sangat cemar. Karena plagiat mengambil karya orang lain. Dalam kasus ini, 1000 persen tidak ada karya orang lain yang diambil Prof Grace. Sebab, baik artikel di Jurnal Kesmas dan Prosiding yang memuat bukti presentasi oral hasil penelitian Prof Grace itu adalah hasil karya sendiri.

“Catat, kedua karya tersebut adalah hasil karya sendiri Prof Grace,” kata keduanya. Tak hanya itu. Proses lahirnya SK 1132 itu tidak melalui Komisi Etik. “Sesuai Permen 17/2010 harusnya melalui Komisi Etik dulu,” tegas keduanya lagi. Fakta persidangan, saksi Weliam Pangemanan tidak dapat membuktikan prosedur pemeriksaan sesuai Permen 17/2010. Sesuai Permen 17/2010, masalah ini harus diperiksa Komisi Etik. Hanya saja, saksi mengatakan telah diperiksa oleh tim.

“Padahal tim pemeriksa hanya memeriksa. Tim pemeriksa tidak boleh menjatuhkan sanksi. Yang menjatuhkan sanksi adalah komisi etik,” kata keduanya. Selain itu, lanjut keduanya, SK 1132 itu tidak dikirim ke Kemenristek Dikti, dan Prof Grace sama sekali tidak mendapat pemberitahuan. “Saksi menyebut diantar langsung ke Kemenristek Dikti. Hakim tanya apakah ada bukti tanda terima, ternyata tidak ada,” kata keduanya.

Kejanggalan lain, saksi menyebut SK 1132 diserahkan ke Prof Grace. Tapi saat ditanya hakim apakah ada tanda terima, dijawab saksi tidak. “Bukti tanda terima sudah dua kali diminta dalam persidangan, tapi tidak ditunjukkan,” ujar keduanya lagi. Lebih aneh lagi, SK 1132 berupa sanksi penundaan guru besar yang ditandatangani Prof DR Donald Rumokoy itu nanti dimunculkan saat pemilihan Rektor Unsrat 2018 atau lima tahun kemudian.

Padahal, Prof Grace sudah menyandang Guru Besar dan menjadi Dekan pada 2014. Malah, Rektor Unsrat Prof DR Ellen Kumaat yang mengukuhkannya atas nama menteri. Proses Prof Grace meraih guru besar ini melalui Kementerian Pendidikan. “Logikanya jika kementerian pendidikan punya file bahwa Prof Grace melakukan plagiat, pasti beliau tidak akan diproses menjadi guru besar.”

Sementara, Denny Palilingan SH menegaskan, kliennya murni mencari keadilan, bukan berambisi apalagi ingin menggagalkan Pilrek Unsrat. Tapi ini menyangkut nama baik, keluarga dan almamater. “Prof Grace berjuang demi nama baik. Dituduh melakukan plagiat, sampai dijegal menjadi calon rektor. Ada apa?,” katanya bertanya.(*)

Kirim Komentar