21 Mei 2018 22:43

Kasihan! Kisah Pilu Ramadan di Gaza, Sahur dan Buka Puasa Tanpa Cahaya

MyPassion
Salah seorang anak di Gaza saat menerima bantuan dari Indonesia. (Istimewa/ACT)

MANADOPOSTONLINE.COM - Gelap. Tak ada listrik yang menyala. Itulah yang sekarang sedang dirasakan penduduk di jalur Gaza, Palestina. Hampir dua juta penduduk harus merasakan sahur dan berbuka puasa tanpa aliran listrik. Seperti dua abad silam sebelum listrik ditemukan.

Di sepanjang jalan di depan rumah mereka gela. Apalagi di dalam rumah, tidak ada aliran listrik. Sejak jalur Gaza diblokade Israel, mereka harus berjuang menghadapi kelangkaan listrik. Ya, sejak 2006.

Hanya lima jam listrik bisa hidup. Tidak bisa lebih. Akibatnya, bisa mengancam aspek kehidupan mereka, khususnya pelayanan medis.

Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) atau Kantor Urusan Kemanusiaan PBB mengungkapkan, pada 2018 ini Jalur Gaza membutuhkan 7,7 juta liter bahan bakar agar layanan kesehatan di sana tetap beroperasi. OCHA memperkirakan bahwa untuk menghidupkan fasilitas penting di Gaza dibutuhkan 1,4 juta liter bahan bakar per hari.

Mirisnya, menurut data yang dirangkum ACTNews, saat ini jalur Gaza hanya menerima 120 megawatt listrik dari Israel dan 32 megawatt dari Mesir. Padahal, kebutuhan total listrik sekitar 600 megawatt.

Sementara itu, pembangkit listrik yang berfungsi di Gaza hanya mampu menghasilkan 60 megawatt listrik. Sebab, generator listrik yang dimiliki warga Gaza lebih sering padam ketimbang menyala. Alhasil, beberapa rumah sakit dan pusat medis menangguhkan layanan mereka.

Rumah Sakit Beit Hanoun di Jalur Gaza Utara misalnya. Rumah sakit ini menghentikan operasinya dalam rentang waktu tertentu. Rumah Sakit anak-anak Al-Durra juga mengurangi layanan kesehatannya, imbas kurangnya bahan bakar untuk menyalakan generator mereka.

“Semua rumah sakit menderita krisis listrik. Dengan sumber daya seadanya mencoba menyediakan bahan bakar untuk menjalankan rumah sakit. Namun, karena harga bahan bakar yang mahal seringnya mereka tidak mampu menyediakan bahan bakar,” ujar Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Gaza, Muhammad Najjar.

Seorang pejabat sementara Kepala Kementerian Pertahanan Palestina Zafer Melhem menerangkan, sebanyak 63 persen kebutuhan listrik Gaza tidak terpenuhi. Malahan sebulan sebelum Ramadan, operasional satu-satunya stasiun pembangkit listrik di Jalur Gaza padam total pada Kamis (12/4).

Alasan utama di balik berhentinya pembangkit listrik karena tak tersedia bahan bakar industri dan kurangnya suku cadang. Ramadan tanpa cahaya. Itulah kondisi yang saat ini terjadi di Gaza. Terlebih lagi ini akan sangat menyakitkan bagi keluarga miskin yang tak mampu menebus seliter dua liter bensin untuk menyalahkan generator.

Najjar menyebutkan pasokan listrik hanya tersedia selama tiga hingga empat jam per hari. Artinya, sebagian besar kehidupan mereka dihabiskan tanpa bantuan listrik.

Sementara itu, persentase kemiskinan di Gaza tetap melambung. Saat ini sekitar 42 persen warga Palestina di Gaza menderita kemiskinan, 58 persen kaum mudanya pengangguran, dan sekitar 80 persen penduduk Gaza bergantung pada bantuan internasional, terutama makanan.

“Di Gaza, 80 persen orang bergantung pada bantuan kemanusiaan yang disediakan oleh organisasi amal. Ramadan ini ribuan keluarga tidak akan mampu memenuhi kebutuhan mereka dari makanan dan barang-barang Ramadan. Pegawai pemerintah tidak menerima gaji penuh mereka sejak berbulan-bulan,” pungkas Najjar dilansir JawaPos.com. (jpg/mpo)

Kirim Komentar