16 Mei 2018 13:03

Gaza Banjir Darah, 55 Demonstran Ditembak Tentara Israel

MyPassion
TOLAK: Warga Pelestina ketika melakukan aksi Great March of Return, Senin (15/5). (AFP)

PELESTINA-- Darah warga Palestina kembali tumpah di Gaza. Seperti dilansir Al Jazeera, upacara pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem menyebabkan 55 pengunjuk rasa Palestina tewas dan lebih dari 2.400 = mengalami luka-luka, akibat tembakan tentara Israel di Gaza, Selasa (15/5), kemarin.

Sejak hari Minggu, ribuan orang berkumpul di dekat perbatasan sebagai protes. Sementara sejumlah kecil orang Palestina yang melempar batu mendekati pagar dan mencoba menerobos.

Militer Israel mengatakan, sekitar 10.000 pengunjuk rasa berkumpul di sejumlah lokasi di sepanjang perbatasan Jalur Gaza. Ribuan lainnya berkumpul di tenda-tenda sekitar setengah kilometer jauhnya dari pagar keamanan. Tentara Israel mengatakan, pihaknya menggandakan jumlah pasukan yang mengelilingi Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.

Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengatakan, dalam sebuah pesan kepada warga Gaza. "Kami akan melindungi warga sipil kami dengan segala cara kami dan tidak akan membuat pagar itu diseberangi,” katanya.

Gedung Putih menyalahkan Hamas atas kekerasan itu. "Tanggung jawab atas kematian tragis ini berada di tangan Hamas," kata Juru Bicara Gedung Putih, Raj Shah. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak kedua pihak dari konflik Israel-Palestina untuk menahan diri. Sementara para Menteri Luar Negeri Eropa menyebut perpindahan Kedutaan AS ke Yerusalem dengan tidak bijaksana.

Senin adalah hari paling mematikan di Gaza sejak perang lintas perbatasan antara para penguasa Hamas di Gaza dan Israel pada 2014. Status Yerusalem mungkin adalah masalah paling buruk dalam konflik Israel-Palestina.

Israel menganggap seluruh Kota Yerusalem adalah ibu kotanya. Sementara Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Sejak 1967, konsensus internasional adalah status Kota Yerusalem harus dinegosiasikan antara kedua belah pihak. Namun Trump melanggar kesepakatan tersebut dan mengundang kemarahan dunia. (*/ite)

Kirim Komentar