15 Mei 2018 09:25

Radikalisme Masuk Kampus Mulai 1983, Menristekdikti Kumpulkan Para Rektor di Jakarta

MyPassion
Mohamad Nasir

JAKARTA—Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengutuk aksi terorisme di Surabaya. Dia juga mengingatkan bahwa kampus bukan tempat untuk tumbuhnya bibit-bibit radikalisme. Menurut dia bibit radikalisme dan intoleransi mulai masuk di kampus pada 1983.

Ditemui di sela kegiatan World Class Research di Jakarta kemarin (14/5) Nasir menceritakan pada 1983 terjadi kegiatan normalisasi kehidupan kampus (NKK) atau Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan sejenisnya saat itu dikeluarkan dari kampus. ’’Sehingga menjadi organisasi atau kegiatan ekstra kampus seperti sekarang,’’ tuturnya.

Nah setelah organisasi-organisasi itu dikeluarkan dari kampus, masuklah paham-paham lain. Diantaranya adalah paham radikalisme. Kemudian dalam bertahun-tahun kegiatan paham radikalisme yang masuk itu terjadi hegemoni kegiatan di kampus. ’’Sehingga yang tidak dirasakan rektor-rektor saat itu, dituai saat ini yang terjadi,’’ tuturnya.

Dari awal mula masuknya paham radikal di kampus pada 1983 itu, saat ini mulai terasa dampaknya. Ada lulusan yang saat ini menjadi dosen atau jadi guru di sekolah-sekolah. Nasir menegaskan aksi atau kegiatan radikalisme di kampus bukan kegiatan yang terjadi dalam waktu singkat.

Menurut Nasir terkait paham radikalisme di kampus, pemimpin perguruan tinggi harus terus diingatkan. Dia menjelaskan akan memanggil para rektor kampus negeri Rabu besok (16/5) ke Jakarta. Diantaranya membahas isu radikalisme di kampus. Dia mengatakan kampus harus memonitoring kegiatan-kegiatan di kampus.

Nasir mengatakan sudah ada beberapa upaya untuk mencegah paham radikalisme dan intoleransi terus merebak di kampus. Diantaranya dengan kegiatan bela negara, kemudian deklarasi anti radikalisme di kampus-kampus seluruh Indonesia. ’’Jangan sampai dalam pengajaran di kampus terjadi intoleransi dan radikalisme. Bisanya mereka itu belajarnya (berkelompok, red) sendiri,’’ pungkasnya. (jpg/can)

Kirim Komentar