15 Mei 2018 18:37

Masyarakat Kotamobagu Deklarasi Tolak Terorisme

MyPassion
Anggota polisi bersenjata lengkap berjaga di depan pintu masuk Polres Bolmong. Setiap kendaraan yang masuk diperiksa ketat. Foto lain: Aksi menolak terorisme di Kotamobagu, Minggu (13/5) malam.(Claudia Rondonuwu/MP)

MANADOPOSTONLINE.COM—Aksi teror melalui bom bunuh diri kembali terjadi di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5) pagi. Hal tersebut menjadi atensi markas kepolisian untuk memperketat pengamanan. Tak terkecuali Polres Bolmong. Terpantau, penjagaan diperketat.

Kapolres Bolmong AKBP Gani Fernando Siahaan menjelaskan, pasca teror bom bunuh diri di Surabaya, pihaknya memang memperketat penjagaan. "Mari semua lapisan masyarakat bergandengan tangan, masyarakat dengan seluruh aparat pemerintahan mengutuk dan melawan teroris di bumi Totabuan kita ini," katanya.

Kejadian di Surabaya katanya, tidak ada sentimen agama. Itu adalah ulah oknum yang ingin mengacaukan persatuan dan kesatuan di Indonesia. Dia mengajak seluruh tokoh-tokoh agama bergandengan tangan untuk menolak dan melawan pelaku teror. "Karena itu, apapun agamamu, sukumu, warna kulitmu, mari berkumpul satukan hati berempati kepada masyarakat kita. Dan tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh oknum- oknum tidak bertanggung jawab. Karena polisi bersama TNI sudah mengambil langkah- langkah di seluruh wilayah,” ungkap Siahaan.

Dirinya berharap, masyarakat tidak akan takut dengan kejadian yang terjadi di Surabaya. Akan tetapi tetap waspada. "Mari kita sama-sama lawan teroris. Bergandengan tangan dan saling mendoakan," ajaknya.

Sementara itu, terpantau Minggu (13/5) malam, masyarakat Kotamobagu dari berbagai agama, ormas, dan suku, melakukan aksi menolak terorisme. Kasat Lantas Polres Bolmong AKP Magdalena Anita Sitinjak, memimpin aksi dengan menyalakan lilin. Serta menyayikan lagu-lagu kebangsaan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ustad Dani Pontoh semua pihak menolak aksi kejam teror bom dan bergandengan tangan menciptakan kerukunam. "Keamanan bukan basa-basi sosial. Apalagi umat Islam menghadapi bulan Ramadan, sehingga susana kondusif dan toleransi harus terus dipupuk dalam bingkai kebersamaan," singkatnya.

Ditambahkan Ketua Departemen Pemuda dan Anak (DPA) Gereja Bethel Indonesia Valensia Sompotan, aksi teror yang terjadi saat ini, tidak dibenarkan. "Kami mengutuk keras aksi tersebut. Kami yang terkumpul saat ini, bersatu hati, bersama-sama dalam satu kerukunan umat beragama menyatukan hati, melakukan penolakan dan pengecaman, atas apa yang terjadi di Surabaya," tegasnya.(tr-06/tan)

Kirim Komentar