25 Apr 2018 07:44

Klinik Gigi Abal-Abal, Ini Tanggapan Ketua Persatuan Dokter Gigi Manado

MyPassion

MANADOPOST--Maraknya jasa veneer/bleaching gigi abal-abal di Manado, Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Manado drg Sanil Marentek menaruh perhatian khusus. Dia mengaku prihatin dengan maraknya tindakan yang salah dalam penangan veneer/bleaching oleh yang bukan ahlinya.

(Baca: Pengen Bergigi Putih, Eh Malah Jadi Gigi Kuda, Begini Curhatan Korban Klinik Gigi Abal-Abal)

“Marak sekali zaman now, dari salon-salon sampai tempat khusus yang bukan dilakukan oleh seorang dokter gigi tapi melakukan tindakan bleaching atau veneer dan ortho kawat gigi. Saya tidak tahu mereka belajar dari mana, mungkin kebanyakan hanya belajar dari youtube atau dari mana, yang jelas itu akan sangat berbahaya,” sorotnya.

Marentek menambahkan, jika penangan tidak dilakukan oleh seorang dokter gigi, tentunya masalah kesehatan gigi dan mulut akan menerpa pasien. “Yang pasti untuk menangani ini harus belajar di fakultas kedokteran gigi karena bahaya bleaching abal-abal. Jika bukan di lakukan oleh dokter gigi fatal akibatnya,” tegasnya.

Beberapa dampak fatal yang diakibatkan, yakni beresiko terkena HIV/AIDS dan Hepatitis serta penyakit menular lainnya.

“Tentunya penyakit menular bisa terkontaminasi ke pasien. Itu karena penanganan abal-abal yang juga kita belum tahu keaslian bahan yang digunakan. Apa betul bahan itu aman dan benar bahan untuk penangan bleaching. Kalau bahannya tidak sesuai, beresiko beracun akan berbahaya buat pasiennya,” jelas Marentek.

Dia juga mengatakan, tidak semua gigi bisa di-veneer, sehingga jika bukan ditangani oleh dokter gigi, dia tidak akan paham mana gigi yang bisa menerima proses veneer atau tidak. “Malah kalau gigi yang tidak bisa di-veneer lalu dilakukan, akan sengsara  pasiennya,  giginya akan rusak berat. Kesterilan alat dan bahan juga tidak akan terjamin. Jika tidak steril, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, itu bisa menularkan penyakit HIV/AIDS dan Hepatitis serta penyakit menular lainnya,” bebernya.

Lanjutnya, masalah ini memang harus jadi PR PDGI dan pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan (Dinkes) provinsi dan kabupaten/kota. Dinkes diminta rajin investigasi dan mengimbau masyarakat dengan edukasi via media dan lainnya.

“Karena ini bukan hanya tanggung jawab PDGI tapi semua harus saling membantu. Mencegah praktik ilegal seperti itu,” akunya, sembari menambahkan, belum lama ini salah satu layanan veneer ilegal bahkan ikut pameran di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Sulut.(Tim MP/can

Kirim Komentar