25 Apr 2018 11:27

Jual Motor yang Masih Kredit, BAF Pidanakan Debitur

MyPassion
DIPERIKSA: Debitur yang menjual barang kreditan milik BAF Finance, Selasa (24/4) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Manado. (Rangga Mangowal/MP)

MANADO—Debitur tidak boleh seenaknya menjual barang yang masih dicicil di finance. Jika tidak sanksi pidana menanti. Seperti dialami seorang debitur BAF Finance inisial AG alias Anitha, warga Kalasey Dua, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa.

Anitha digiring ke Pengadilan Negeri (PN) Manado, karena tidak menuntaskan tanggung jawab menyetor kendaraan yang dikreditnya dari BAF Finance dengan total Rp 39,3 juta. Pasalnya, kendaraan berupa Vixion yang masih dikreditnya, dijual kepada orang lain. Hingga kini, tidak diketahui lagi keberadaannya.

Sidang perdananya, dibuka dengan keterangan para saksi dalam hal ini pihak BAF Finance, Selasa (24/4). Dalam keterangan saksi, terdakwa sama sekali belum pernah menyetor angsuran kendaraan bermotornya. “Kendaraan yang dikreditnya keluar sejak tanggal 1 November 2016. Hingga saat ini belum pernah melakukan pembayaran angsuran. Total sudah 17 kali angsuran,” ujar salah satu saksi.

Ditambahkannya, sudah kesekian kalinya melakukan penagihan, namun belum pernah dibayarkan. “Sudah sering pergi melakukan penagihan. Tapi dari pihak ibu hanya sampai dijanji dan tidak pernah ditanggapi. Terakhir diketahui ternyata motor sudah berpindah tangan dan entah berada di mana motor itu,” tukasnya.

Saat diambil keterangan di depan Hakim Ketua Halijah Waliy, terdakwa mengaku sudah menjual motornya dengan harga sesuai uang muka yang ia bayar waktu pengambilan barang. “Memang benar, sejak ambil saya belum pernah setor, hal itu karena anak saya tidak mau karena tidak sesuai dengan motor yang diminta.

Kemudian ada anak kos yang ingin mengambil alih dengan berjanji akan menyetor motor itu tiap bulannya. Jadi saya alihkan motor tersebut ke dia, lalu dia membayar kembali ke saya sesuai uang muka motor sebesar lima juta rupiah. Tapi ternyata motor itu dibawa anak kos itu entah ke mana,” ungkap terdakwa.

Hakim ketua kemudian menjelaskan kepada terdakwa, meski tidak disengaja melakukan penggelapan. Namun, itu melanggar hukum. Terdakwa pun mengaku bersalah atas tindakannya. Meski begitu, terdakwa mengaku akan melunasi utangnya kepada BAF Finance. Sidang kemudian ditutup dan akan dilanjutkan kembali, Senin (30/4) dengan agenda sidang penuntutan.

Jaksa penuntut umum bernama Sri Suryanti yang menangani perkara mengatakan, kasus ini akan berlanjut dalam sidang tuntutan. “Untuk terdakwa, akan kami tuntut pidana di bawah lima tahun. Karena kasus fidusia dan penggelapan. Namun tetap kita tunggu hasil putusannya,” tukasnya.

Terpisah, Kepala Cabang BAF Manado Bobby Wajong mengatakan, kasus ini diharapkan bisa memberikan efek jerah bagi konsumen atau debitur agar mengikuti aturan hukum. “Dari awal kita melakukan proses pelaporan hingga sidang ini untuk menimbulkan efek jerah.

Terlebih untuk para konsumen atau debitur yang melanggar perjanjian atau menunggak di BAF Finance. Karena memang belum gencar juga terkait undang-undang fidusia,” tandasnya sembari menyebutkan, melalui kasus ini kiranya akan ada perubahan secara normatif dalam perilaku konsumen yang tidak taat hukum, apalagi melakukan penggelapan.(rgm/gnr)

Kirim Komentar