25 Apr 2018 08:00
Melihat Aktivitas Pelajar di Kepulauan Sangihe

Cuaca Buruk Bukan Halangan, Tiap Hari Mendayung

MyPassion
MENANTANG: Usai pulang sekolah, Marselino dan teman-temannya masih harus mendayung lagi untuk pulang ke rumah. (Geonal Pontoh for MP)

Mengejar cita-cita bagi pelajar di Kampung Pelareng, Kabupaten Kepulauan Sangihe tak mudah. Setiap hari mereka harus mendayung perahu 20 hingga 25 menit menyeberangi lautan untuk ke sekolah. Maklum sekolah mereka berada di pulau seberang.

Laporan: Sriwani Adolong, Sangihe

SENIN (22/4) pagi, Marselino Tumadang, salah satu siswa SMP Negeri 2 Satu Atap (Satap) Tabukan Selatan Kampung Batuwingkung, pukul 4.00 Wita, sudah harus siap-siap ke sekolah.

Meski harus mendayung menggunakan perahu mungil. Hal tersebut tak meruntuhkan semangat Marselino dan kawan-kawan, untuk berangkat ke sekolah. Waktu persiapan Marselino waktu itu, memang agak lebih cepat. Pasalnya, ia harus berangkat lebih awal untuk mengikuti Ujian Nasional Berbasis Kertas Pensil (UNKP).

Marselino menceritakan, setiap hari dia bangun pukul 5.00 Wita agar tidak terlambat ke sekolah. Bahkan, posisi rumah Marselino rupahnya juga masih jauh dari pesisir pantai. Sehingga ia harus menempuh perjalanan dari rumah hingga ke pantai, dengan jarak tempuh kurang lebih satu kilometer (km), atau memerlukan waktu 10-15 menit dengan jalan kaki.

“Ujian ataupun tidak saya tetap harus bangun lebih awal karena takut terlambat ke sekolah. Pastinya jam setengah 7 harus sampai di sekolah,” tuturnya sambil mengerutkan dahinya.

Sampai di tepi pantai, dia juga masih harus mengambil perahu mungilnya. Setelah itu, mulailah dia mendayung hingga ke sekolah. Tapi terkadang, dalam perahu mungil tersebut, ia masih mempersilahkan teman-temannya untuk ke sekolah bareng.

“Dan saya sangat bersyukur saat UNKP ini, cuaca sangat bersahabat. Semoga ini akan berlangsung hingga akhir ujian. Tetapi jika cuaca tidak bersahabat namun masih memungkinkan, saya dan teman-teman tetap pergi. Sering kali kami harus mandiri tanpa bantuan orangtua. Karena saya juga tak ingin merepotkan orangtua saya,” tutur siswa kelas 9 ini.

Aktivitas tersebut dibenarkan salah satu guru SMP Negeri 2 Satap Tabsel Geonal Pontoh. Ia berharap, semangat anak-anak tersebut untuk ke sekolah bisa menjadi contoh bagi yang lain.

“Meski belum ikut ujian nasional berbasis komputer (UNBK) karena keterbatasan sarana dan prasarana. Namun mereka tetap semangat ikut ujian. Ujian dan tidak ujian pun tetap sama, mereka paling takut terlambat dan tidak suka bolos,” tandas guru IPA tersebut.(***)

Kirim Komentar