17 Apr 2018 06:33

Waspada `Sambut` Puting Beliung

MyPassion

MANADO—Daerah rawan puting beliung harus waspada. Di musim transisi seperti sekarang ini, bencana bisa datang kapan saja. Seperti diungkapkan Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Minahasa Utara Muhammad Candra Buana. Menurutnya, masuk April sampai Mei, kriteria musim transisi ini biasanya identik dengan angin kencang dan hujan lebat. Dikarenakan posisi matahari bergerak ke arah utara.

"Angin kencang dan hujan lebat atau angin puting beliung disebabkan belokan angin yang tadinya bergerak dari arah belahan bumi utara (BBU) ke belahan bumi selatan (BBS). Sekarang berbalik dari BBS ke BBU, seiring mengikuti pergerakan matahari. Nah, biasanya cuaca buruk itu disebabkan adanya belokan-belokan angin ini," ucapnya.

Dirinya memaparkan, Stasiun Klimatologi berusaha memantau cuaca dan iklim juga skalanya. Menurutnya, musim hujan dan kemarau bisa diprediksi dari pergerakan angin serta dinamika atmosfir yang lain. “Biasa disebut BMKG skala regional dan global,” tukasnya. Namun puting beliung skalanya lokal dan lebih sulit diprediksi. Karena kejadiannya bisa dalam beberapa menit saja.

"Untuk puting beliung risiko dan potensi ada. Tapi jarang bisa diprediksi. Karena biasanya puting beliung disebabkan adanya awan cumulonimbus. Itu pun kalau tinggi dasar terlalu dekat dengan permukaan bumi datar. Ini terjadi tiba-tiba dan sangat cepat. Jadi memang kita sulit memprediksi kapan dan dimana potensi itu terjadi," ungkapnya.

Di tempat terpisah, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Bitung Ricky Daniel Aror mengatakan, angin puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan bisa lebih dari 63 km/jam dan durasi sekira 2-5 menit. “Angin puting beliung sering terjadi pada musim pancaroba. Disebabkan kumpulan awan-awan konvektif seperti cumulus dan cumulonimbus pada musim pancaroba bisa tumbuh dengan cepat dan bersifat lokal. Hal ini memicu kondisi atmosfer menjadi tidak stabil dan dapat menimbulkan Puting Beliung,” ujarnya.

Dia membenarkan April dan Mei adalah musim peralihan pancaroba di Sulut. Peluang terjadinya puting beliung lebih besar dibandingkan pada musim hujan ataupun kemarau. ”Masyarakat diimbau waspada terutama jika ada perubahan cuaca signifikan. Misalnya beberapa jam sebelumnya masih cerah, tiba-tiba berawan dan turun hujan,” ungkapnya.

Di sisi lain Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sulut Sri Intan Montol menambahkan, menghadapi cuaca tidak menentu, diimbau agar terus waspada dengan bencana. Dirinya juga mengatakan, bencana puting beliung jarang terjadi walaupun memiliki potensi di Sulut.

"Kalau untuk masalah bencana alam yang disebabkan angin, banyak kita temui di daerah pesisir ataupun di daerah Bolaang Mongondow Raya. Ini sulit untuk diprediksi. Masyarakat harus waspada dengan segala kemungkinan di cuaca yang sedang berganti ini," ungkapnya. Dirinya mengatakan, pihaknya selalu bersiap setiap kali ada peringatan dari BMKG.(tr-02/gel)

Kirim Komentar