17 Apr 2018 14:36
Dari Caddy Parasut, Kini Mendunia

Rika Wijayanti, Andalan Paralayang Indonesia

MyPassion
GEMILANG: Rika Wijayanti menjuarai seri pertama Paragliding Accuracy World Championship (PGWAC) 2018 di Cyprus, Turki.

NAFAS Rika Wijayanti, atlet pelatnas paralayang Asian Games 2018, sedikit tersengal saat ia memanjat perbuktikan di daerah Gunung Kapur, Cianjur, Jawa Barat, dengan beban tas parasut seberat 17 kilogram di punggungnya. 

Ketertarikan peremuan 23 tahun itu di dunia paralayang bermula dari rumah tempatnya tinggal di Songgokerto, Batu, Malang. Di dekat rumahnya, sebuah lapangan digunakan sebagai area mendarat (landing) bagi para penggemar olahraga paralayang.

"Awalnya kita itu bantu lipat-lipat parasut. Dulu jadi saat ada orang yang turun, mendarat, kita bantuin lipatin. Kita dibayar, biasanya kita dibayar Rp 2 ribu kalau solo. Kalau parasut tandem, karena lebih besar, jadinya Rp 5 ribu," kata Rika saat ditemui di sela latihan, Kamis (12/4)

Bermula dari sana, Rika mendapat banyak kesempatan untuk ground handling (mengatur parasut selama di darat). Di umur 16 tahun, ia kemudian diajak kakaknya, Joni Effendi, yang telah lebih dulu masuk ke dunia profesional paralayang. Sama dengan Rika, karir atlet Joni berawal dari caddy parasut di Songgokerto.

Bukan hanya Rika dan Joni saja. Songgokerto dikenal sebagai salah satu penghasil bibit pilot paralayang terbaik di Indonesia. Di daftar atlet pelatnas saat ini, ada nama-nama seperti Ike Ayu Wulandari, Roni Pratama, dan Japro Megawanto, yang berasal dari Songgokerto. Mereka tergabung dalam perkumpulan penggemar paralayang lokal di sana.

Di perkumpulan itu pula, Rika pertama kali serius menekuni dunia paralayang. Selepas lulus dari SMK 17 Agustus Batu, ia diberi kesempatan untuk terbang dengan parasut pinjaman milik perkumpulan itu. "Di sana ada tiga parasut dan dipakai bergantian sama semua orang. Tiga parasut bisa enam tujuh orang," kata Rika.

Namun hal tersebut tak menghalangi niatnya berlatih. Hanya dalam waktu tiga bulan, ia berhasil menguasi teknik dasarnya dan mendapat lisensi untuk terbang. Namun bukan berarti, hal ini mudah bagi dia. Teknik dasar untuk memahami angin, menjadi tantangan terbesar bagi Rika.

Pada 2013, ia mengikuti kejuaraan profesional pertamanya di Danau Toba, Sumatera Utara. Rika semakin banyak menambah jam terbangnya, mulai dari di tingkat nasional hingga internasional. Bermodalkan parasut Niviok Hook pinjaman dari KONI Kota Batu, Rika berkembang menjadi salah satu atlet wanita terbaik di dunia paralayang.

Di tahun 2017 lalu, Rika berhasil menjadi juara dunia di nomor ketepatan mendarat. Dari empat seri turnamen yang digelar, Rika menjuarai seri di Serbia, menjadi runner up di Kanada, peringkat empat di Slovenia, dan peringkat 7 di Indonesia. Ia pun keluar sebagai juara di nomor ketepatan mendarat wanita. Rika mengalahkan idoalnya sendiri, pilot asal Republik Ceko, Marketa Tomaskova. 

"Saya selalu perlakukan lomba seperti latihan, latihan seperti lomba. Jadi kalau latihan kayak gini, saya berpikirnya seperti lomba. Jadi justru pas lomba saya buat seperti latihan. Kan jadinya rileks," kata Rika.

Di tahun 2018 ini, ia memulai seri Paragliding Accuracy World Championship (PGWAC) 2018 dengan baik. Berbekal parasut SkyWalk, ia menjuarai seri pertama di Cyprus, Turki. Ia pun menargetkan hasil maksimal di Asian Games 2018 mendatang.

Atlet yang saat ini berada di peringkat tiga dunia itu yakin bisa ikut membawa harum nama Indonesia, lewat cabang yang pertama kalinya ditandingkan diAsian Games 2018. "Kalau tahun ini target saya emas Asian Games 2018 di nomor ketepatan mendarat perorangan," kata Rika.(*)

Kirim Komentar