17 Apr 2018 15:05
OPCW Belum Masuk Douma

May Dikecam, Macron Bersinar

MyPassion
Theresa May (Reuters)

DAMASKUS—Aksi militer Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis pada Sabtu malam (14/4) mulai berdampak bagi Perdana Menteri (PM) Theresa May dan Presiden Emmanuel Macron. Kemarin (16/4) May diminta mempertanggungjawabkan keputusannya di hadapan majelis rendah parlemen. Sebaliknya, citra Macron justru semakin positif pasca serangan rudal tersebut.

’’Inggris membutuhkan War Powers Act baru yang mengharuskan pemerintah mempertanggungjawabkan seluruh keputusannya terkait dengan pertempuran kepada parlemen,’’ kata Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn sebagaimana dilansir BBC kemarin. Keputusan May, menurut dia, salah besar. Sebab, perempuan pemimpin itu seenaknya memutuskan untuk mendukung aksi militer AS di Syria.

’’Padahal, dia bisa dengan mudah memanggil para legislator yang sedang reses untuk merundingkan rencana tersebut. Atau, dia bisa menunda keputusan tersebut sampai masa reses Paskah para legislator berakhir,’’ gerutu Corbyn.

Sebagai PM, May harus mendapatkan restu parlemen sebelum mengambil keputusan besar yang berdampak serius bagi pemerintahannya. Tapi, akhir pekan lalu, dia tak melakukannya.

Selain Partai Buruh, dua partai juga mengecam May. Yakni Scottish National Party alias SNP dan Liberal Democrat Party.

Jika May panen kecaman, Macron justru sebaliknya. Terlibat dalam aksi militer menarget tiga fasilitas senjata kimia Syria membuat suami Brigitte tersebut makin populer. ’’Macron mencitrakan dirinya sebagai man of action. Dia berani melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh para pendahulunya. Dan, dia berhasil,’’ kata Francois Miquet-Marty, kepala lembaga poling Viavoice, kepada The Guardian.

Macron pernah menyebut serangan kimia sebagai garis merah. Maka, saat OPCW merilis laporan bahwa Syria memiliki senjata kimia dan menggunakannya dalam beberapa serangan udara, presiden 40 tahun itu berang. Ketika itu dia mengaku siap melancarkan serangan militer ke republik yang tujuh tahun terakhir dicabik perang tersebut. Dan, ancaman itu terlaksana pekan lalu.

’’Saat Anda sudah menetapkan garis merah dan tidak tahu bagaimana cara membuat garis merah itu dihargai, itu artinya Anda lemah. Dan, itu bukan pilihan saya,’’ tegas Macron tentang keputusannya. Karena itulah, saat Prancis ikut meluncurkan rudal ke tiga titik sasaran di Syria, tokoh yang baru setahun duduk di kursi presiden tersebut tampak kalem memantau misi tempur perdananya itu dari Elysee Palace.

Kemarin beredar pula wawancara Macron dengan stasiun televisi Prancis soal kebijakannya untuk mendukung aksi militer AS. ’’Sepuluh hari lalu, Presiden Trump mengatakan bahwa AS akan menarik pasukan dari Syria. Tapi, kami berhasil meyakinkannya untuk bertahan di sana,’’ ujarnya sebagaimana dikutip Reuters. Karena itulah, saat AS melancarkan serangan udara, Prancis langsung mendukung.

Sementara itu, tim pencari fakta OPCW yang tiba di Syria sejak Sabtu belum bisa masuk Douma. Hingga kemarin, tim OPCW belum bisa mengakses lokasi terjadinya serangan kimia. Padahal, semakin lama tertunda, jejak racun kimia di lokasi kejadian semakin sulit terlacak.

Di Damaskus, ratusan pendukung Presiden Bashar Al Assad berunjuk rasa. Associated Press melaporkan bahwa massa memuji kinerja militer Syria yang sukses mencegat rudal-rudal AS dan sekutunya. Rusia dan Syria memang mengklaim sukses menembak jatuh sejumlah rudal yang diarahkan ke tiga titik sasaran di Syria. Namun, AS menepis laporan itu. Trump menyebut misinya sukses besar.(tan)

Kirim Komentar